
Mona berjalan menuju mobilnya seraya berusia menghubungi nomor Raditya, tapi panggilan dialihkan, Mona kirimi pesan tampak hanya centang satu.
Dadanya kini kembali terasa bergemuruh lagi, Mona jelas merasa semakin dipermainkan.
Jadi mereka memang sungguh-sungguh berniat main-main denganku? Batin Mona kesal.
Ia masuk mobil dan membanting pintu mobilnya.
Tentu saja, Mona akan langsung ke tempat Raditya sekarang, ia harus lihat apa yang mereka sebetulnya lakukan.
Mona pun langsung tancap gas menuju kediaman Raditya.
Ya, tentu saja, dalam kondisi marah yang mulai meraja, Mona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa peduli apapun.
Yang terpikir saat ini hanyalah bagaimana ia bisa membuat perhitungan dengan pasangan bajingan itu.
Hingga akhirnya, Mona sampai di gang yang akan menuju rumah Raditya.
Diparkirkannya mobilnya di tempat biasa ia memarkirkan mobilnya ketika dua kali sebelumnya ia ke sana.
Mona turun dari mobil, langkahnya tegas sebagaimana pembawaannya.
Masuk gang menuju rumah Raditya, Mona bertemu beberapa Ibu yang seperti akan berangkat ke pengajian, mereka mengajak Mona tersenyum, Mona pun membalas ala kadarnya.
Tak sampai sepuluh menit, saat langkah Mona akhirnya sampai di depan rumah Raditya.
Rumah yang kini tampak sepi itu pintunya tertutup rapat, seolah tak ada orang yang tinggal di sana.
Seketika Mona seperti mencelos, ia langsung merasa ada yang tidak beres dengan Raditya dan Tari.
Mona baru akan ke teras rumah manakala seorang tetangga samping rumah keluar dari dalam rumah membawa sapu.
Kebetulan sekali, Mona pun langsung menghampiri.
"Maaf, Shanum apa di rumah?"
Tanya Mona.
Tentu saja, ia tak rela menyebut nama Raditya apalagi Tari, buatnya yang bisa ia sebut hanyalah nama Shanum yang jelas tak bersalah apapun.
"Oh Shanum, tadi sore pergi dengan orangtuanya Bu, sama adiknya juga, sepertinya pergi jauh, bawa tas pakaian dua besar-besar sama kardus juga malahan."
Mendengarnya Mona tampak makin geram, ini berarti mereka melarikan diri.
"Ke mana?"
Tanya Mona kehilangan minat untuk basa basi.
"Ngg tidak tahu Bu, tadi juga seperti buru-buru sekali. Ah ada itu Uwaknya, tapi kayaknya berangkat pengajian."
Ujar tetangga sebelah Raditya.
Berangkat pengajian? Ah berarti Ibu-ibu yang tadi berpapasan dengannya. Salah satunya ada yang sepertinya usianya paling tua, antara enam puluh tahunan.
Mona kesal bukan main, mereka pasti sudah jauh jika toh saat ini Mona kejar.
"Silahkan Bu, barangkali mau mampir."
Kata tetangga itu ramah.
Mona berusaha tersenyum di saat amarahnya serasa akan memuncak.
"Terimakasih, kapan-kapan lagi saja saya mampir."
Kata Mona akhirnya.
Tetangga itu mengangguk sambil tersenyum manis juga.
Mona menghela nafas, ia melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam tangan yang cukup mahal untuk ukuran seorang karyawan kantor seperti Mona pastinya.
Sebetulnya Mona bukanlah pecinta barang mewah, ia membeli barang dengan harga sedikit lebih mahal karena memikirkan kualitasnya saja.
Menurutnya, beli satu kali dengan harga yang cukup mahal tapi awet, sementara beli yang harga murah tapi akhirnya beli berkali-kali akhirnya jadi pemborosan.
Tapi tentu saja, tetap dalam standar kemampuan Mona yang tidak mungkin beli jam tangan dengan harga milyaran.
"Sebentar lagi maghrib, saya permisi Bu, jika Ayah Shanum pulang, tolong sampaikan, saya mencarinya."
Kata Mona berpesan.
Tetangga itu mengangguk mengiyakan.
"Siap."
Jawabnya.
**-------------**
Raditya dan Tari mengikuti Wawan masuk melewati gang sempit, Shanum yang berjalan lambat berulangkali kena bentak Tari.
Azka sendiri digendong Tari, sementara barang bawaan mereka Wawan ikut bantu bawakan.
"Nah itu yang paling pojok."
Salah satu rumah yang berdiri di sana, adalah rumah milik Uwaknya Wawan, tapi dari pihak orangtua Wawan yang bukan bersaudara dengan Raditya.
Rumah itu berada paling pojok dekat area makam umum kampung tersebut.
Tari yang begitu melihat tempatnya jelas langsung ternganga.
"Itu bukannya pemakaman?"
Tanya Tari.
Wawan mengangguk.
Shanum yang begitu semakin dekat melihat makam-makam berjejer dekat rumah langsung terlihat memegangi ujung baju Tari.
"Tidak usah mengeluh, pilihan mu hanya tinggal di dekat makam atau masuk penjara."
Marah Raditya.
Tari tak berani menyahut, ia jelas tak berani membantah Raditya sekarang, karena sekali saja ia membantah, tentu saja rumah tangga nya yang akan benar-benar hancur.
Wawan naik ke atas teras rumah Uwaknya yang akan ditempati Raditya itu.
Rumah itu dindingnya belum dicat, tapi masih bagus, sementara bagian lantainya masih memakai tegel jaman dulu berwarna kuning telor.
Kacanya juga masih terdiri dari kaca besar yang sebagiannya dari kaca nako.
"Di dalam sudah ada kursi dan satu tempat tidur, bagian dapur juga sudah ada kompor dan peralatan masak serta makan."
Ujar Wawan menjelaskan sambil membuka kunci pintu.
Sebetulnya memang sedikit mencurigakan rumah yang tak buruk-buruk amat tak ada yang menempati, dan bahkan perabotan tetap ditinggalkan begitu saja.
Tapi, Raditya tentu tak mau ambil pusing soal hal itu.
Lagipula, untuk saat ini, baginya tak ada yang lebih menakutkan selain berurusan dengan Mona.
Pintu rumah dibuka Wawan, Raditya masuk mengikuti Wawan yang masuk lebih dulu.
Tari di belakang Raditya, sementara Shanum berada di belakang Tari sang Ibu.
Benarlah kata Wawan, jika di sana sudah ada satu set kursi kayu ruang tamu, ada karpet biru di gulung yang disandarkan di pojokan ruangan, ada meja TV yang ada pula TV di sana tapi hanya TV jadul 14inc.
Rumah itu memiliki dua kamar yang besarnya tak seberapa, malah tergolong kecil, satu kamar di depan kosong sama sekali tak ada apa-apa.
Sementara kamar kedua ada tempat tidur yang kasurnya disandarkan pada dinding dan ditutup plastik.
"Nanti kalian bebenahlah sendiri."
Kata Wawan.
Raditya meletakkan dua tas pakaian di kamar yang ada tempat tidur nya.
Lemari kayu juga ada di sana, lemari kayu model jadul dan ukurannya kecil.
"Aku depe dulu ya Wan, soalnya aku belum berani bon pada bos."
Kata Raditya.
Wawan mengacungkan jempolnya.
"Santai."
Kata Wawan.
Raditya lantas mengajak Wawan ke ruang depan untuk melakukan pembayaran.
"Jadi kurangnya tiga juta delapan ratus Dit."
Kata Wawan.
Raditya mengangguk.
"Ya nanti aku usahakan secepatnya."
"Terus terang ini aku juga hanya pegang uang tiga ratus ribu saja Wan buat pegangan makan."
Kata Raditya.
Wawan mengangguk.
"Ya santai Dit."
Wawan mengangguk mengerti.
"Uwak juga bilang kalau dia niatnya juga bantu, jadi tak usah terlalu dibawa stres."
Kata Wawan.
Raditya mencoba tersenyum.
**------------**