MONA

MONA
33. Pembalasan Itu Menakutkan



Raditya menatap nanar Mona berharap jika ia baru saja salah dengar atas apa yang baru saja dikatakan Mona.


Namun, Mona terlihat begitu serius, tatapannya tajam ke arah Raditya di depannya,


"Kalian berdua, lebih baik belajar hidup di dalam penjara, dan sampai kalian keluar nanti, biar aku yang akan mengurus Shanum dan Azka. Jelas akan aku pastikan mereka tak akan tumbuh seperti kalian berdua."


Tandas Mona, seolah menegaskan bahwa apa yang ia katakan adalah benar.


"Hany... Tunggu, tak bisakah kita bicara baik-baik dulu? Apa sebetulnya yang membuatmu jadi semarah ini."


Kata Raditya dengan suara yang bergetar, jelas ia merasa ketakutan, dari nada suara dan tatap matanya jelas sekali nyalinya menciut.


Mona tersenyum miring,


"Berapa banyak perempuan yang sebetulnya kamu kerjai sebelum aku?"


Tiba-tiba Mona melempar sebuah pertanyaan yang tak di Raditya sangka.


"A... Apa maksudnya? Aku..."


Raditya gelagapan.


"Aku yakin ini bukan kali pertamamu, kamu sangat pandai berpura-pura menjadi duda beranak dua yang ditinggalkan isteri dan butuh dibantu mengurus mereka."


Sinis Mona.


Raditya terdiam, tak mampu mengelak, tak mampu menyanggah,


"Kamu membohongi perempuan lain untuk memelihara perempuan tak tahu terimakasih itu."


Kata Mona,


"Hany... Kata-katamu terlalu kasar, Tari bagaimanapun adalah Ibunya Shanum."


Kata Raditya.


"Apa urusannya denganku, dia yang mengajakku perang, jika dia tahu diri sedikit saja, aku tak akan berusaha menjadi monster."


Mona lantas menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya, tatapannya masih lurus tajam ke arah Raditya.


"Dia mengataiku pelakor, padahal apa yang aku lakukan denganmu? Aku bahkan sudah memutuskan untuk tak akan bersamamu lagi sejak tahu kau ada isteri, aku hanya peduli Shanum, karena anak itu jelas tak punya salah apapun padaku. Aku ingin tetap berhubungan baik sebagai saudara, aku akan menganggap Shanum tetap seperti anakku juga. Tapi isterimu yang sangat bangga dengan kecantikannya itu, dia justeru mengataiku yang tidak-tidak dengan teman-temannya."


"Hany..."


"Aku yang tidak secantik dia, aku yang mandul, aku yang kamu dekati hanya karena butuh uangku saja dan sebentar lagi dia minta kamu tinggalkan aku karena sudah bekerja."


Raditya matanya membulat, dadanya seolah dipukul palu besi yang besar, ia tak menyangka jika Tari sejauh itu menyakiti Mona.


"Dan kau tahu apa yang dia tulis hari ini di akun media sosialmu? Yang dia juga tagg namaku?"


Mona menghela nafas sebentar, Raditya mematung di tempatnya, ia bingung harus berkata apa saat ini, ketakutan akan mendengar kalimat jahat lainnya dari Tari untuk Mona membuatnya seperti nyaris keluar keringat dingin,


"Dia menulis aku harusnya cari berondong yang cukup bayar dua ratus ribu supaya tak mengganggu suami orang, mengataiku pelakor, mengataiku merusak rumah tangganya!!"


Mona kali ini mulai histeris.


Mona bergerak dan menyambar satu toples berisi biskuit dan melemparnya ke arah Raditya.


Raditya cepat melompat menghindar.


"Sejak kapan aku dikira haus hubungan badan dengan laki-laki?! Sementara aku bercerai salah satunya adalah karena aku sudah tidak bisa melakukan hal semacam itu!!"


Bentak Mona.


"Apa pernah kamu bilang pada isterimu kita tidur bersama?! Melakukan hal tak pantas dan aku membayarmu!!"


Marah Mona luar biasa.


Raditya menggeleng,


"Sumpah, aku tidak pernah mengatakan hal semacam itu Hany... Sumpah."


Raditya rasanya dadanya juga kini ingin meledak, ia tak habis pikir, kenapa Tari sampai menuduh sejauh itu, kenapa ia bisa kepada Mona yang begitu baik pada Shanum dan bahkan banyak membantu keluarga mereka malah tega mengatakan hal yang semengerikan itu.


"Rumah tangga kalian itu hancur bukan karena siapapun, tapi karena kelakuan kalian sendiri! Tidak usah menunjuk siapa-siapa, berkacalah dulu!!"


Mona meraih bantal dan melemparnya ke arah Raditya.


"Aku tak peduli, serahkan diri kalian atas penipuan dan semua perlakuan tidak menyenangkan ini padaku, jika selama dua puluh empat jam kalian masih berkeliaran, aku yang akan menyeret paksa kalian ke jalur hukum. Ku pastikan kalian belajar banyak! Terutama isterimu! Biar dia mengering dan mati di dalam bui."


Tandas Mona.


"Hany... Aku mohon, jangan begini, aku bersedia melakukan apapun, tapi kasihani aku hany, sungguh aku tidak tahu Tari bisa melakukan sejauh itu, bagaimana bisa ia mengatakan kalau kamu pelakor padahal aku masih bersamanya."


Kata Raditya.


Raditya lantas beringsut mendekati Mona, ia meraih kaki Mona dan ia sungguh-sungguh mencium kaki Mona.


"Aku yang salah, aku akui aku yang salah karena membohongimu, tapi sumpah aku sungguh menyayangimu Hany... Aku tidak pura-pura."


Mona berusaha melepaskan kakinya yang kemudian dipeluk Raditya.


"Apapun yang kamu minta, aku akan kabulkan, aku akan berusaha mengabulkan Hany... Apapun, tapi kumohon, jangan menjadikan ini kasus hukum, jangan jebloskan Tari ke dalam penjara juga."


Raditya memohon sambil menangis,


"Kalau kamu bersikeras harus ada dari kami yang dipenjara, maka biar aku saja, Azka masih terlalu kecil jika hidup jauh dari Ibunya, hany..."


Kata Raditya.


Mona menghela nafas.


"Apa peduliku, bukankah kamu bilang memang anak-anakmu hidup tanpa Ibu mereka? Ya sudah, jadikan itu kenyataan."


Kata Mona.


Raditya menengadahkan wajahnya untuk menatap Mona.


"Kamu sudah sadar telah membohongiku bukan?"


Mona melepas kakinya dari pelukan Raditya, dan langsung membuat jarak dengan laki-laki itu.


"Ya hany, aku sadar, aku minta maaf, karena itu aku minta maaf."


Kata Raditya.


"Apapun aku akan lakukan untuk memperbaikinya, untuk menebusnya."


Tambah Raditya lagi.


Mona terdiam, ia seolah berusaha berpikir apa yang akan ia lakukan untuk membuat mereka benar-benar jera.


Setelah sekian menit, Mona akhirnya membuat keputusan,


"Baiklah, aku beri dua pilihan saja."


Kata Mona akhirnya,


"Berdirilah, aku ingin kamu setelah mendengar ini segera pulang dan menyampaikan keputusanku pada isteri tercintamu di rumah."


Kata Mona.


Raditya akhirnya menurut, ia pun bangkit berdiri, dengan wajah yang takut-takut menunggu apa yang akan dikatakan Mona.


"Pilihan pertama, kalian menyerahkan diri pada polisi atau aku yang akan menuntut kalian melalui jalur hukum."


Mona tersenyum sinis melihat Raditya gemetaran di tempatnya,


"Pilihan kedua, kalian bercerailah! Aku ingin kebohonganmu menjadi kenyataan, aku ingin semuanya sesuai dengan apa yang kamu katakan saat awal bercerita padaku."


"Hany..."


"Kenapa? Tidak mau? Takut kehilangan jatah tempat tidur isterimu?!"


Mona begitu sinis,


"Dia bilang mengancamu saat kau minta jatah, hahaha... menjijikan, menikah hanya untuk urusan tempat tidur, punya anak tak punya kemampuan mengurus."


Mona yang jelas dalam kondisi marah tak peduli perkataannya sangat menohok.


Raditya terdiam, ia jelas dalam posisi yang kalah saat ini.


"Dua pilihan, pikirkanlah, aku beri waktu satu minggu."


Kata Mona.


"Aku akan cari sebanyak mungkin bukti lain yang akan memberatkan kalian agar bisa masuk bui sebagai pasangan penipu. Atau kalau tidak mau, bercerailah!"


**--------------**