MONA

MONA
34. Cinta Itu Sakit



Raditya melajukan motornya dengan tak tentu arah, otaknya buntu, dadanya sesak, dan perasaannya benar-benar kacau sekarang.


Dua pilihan yang diberikan Mona jelas pilihan yang sama-sama sulitnya untuk diambil.


Sebuah konsekwensi mahal yang seolah harus ia bayar atas semua yang ia lakukan.


Raditya, laki-laki itu nyatanya merasa terlalu percaya diri bahwa semua akan selalu berjalan sesuai yang ia inginkan.


Ia pikir sesuatu yang jahat akan selalu mulus dan tak akan ada masanya berbalik arah.


Ya, Mona, perempuan itu...


Siapa yang menyangka di balik kelembutan dan sikapnya yang selalu terkesan tenang selama ini ternyata ada jiwa yang begitu keras dan menakutkan.


Andai...


Andai sejak awal Raditya mendengarkan hati kecilnya untuk tidak mendekati Mona lebih dari seorang pelanggan obat herbal yang ia jual.


Andai, sejak awal Raditya memposisikan dirinya secara profesional mendapatkan keuntungan hanya sebagai penjual.


Raditya terus melajukan motornya menembus pekatnya malam yang dingin.


Meski bajunya kuyup dan angin malam yang lembab karena hujan masih turun rintik-rintik membuat tubuhnya kedinginan, tapi buat Raditya saat ini yang ia pikirkan adalah apa yang akan ia perbuat untuk keluar dari masalah ini.


Hingga akhirnya Raditya sampai di rumah Wawan lagi untuk mengembalikan motor yang dipinjamnya.


Wawan yang membukakan pintu tampak terkejut melihat Raditya yang basah kuyup dan kemudian terduduk lemas di kursi kayu depan rumahnya.


"Kau kenapa Dit? Apa yang terjadi?"


Tanya Wawan.


Raditya yang kedinginan tampak bibirnya sampai gemetaran.


Tak tega melihat teman dan juga saudara jauhnya itu menggigil demikian maka Wawan segera masuk ke dalam rumah lagi.


Dibuatkannya wedang teh dan juga mengambilkan kaos yang kering untuk ganti.


"Pakailah dan minumlah."


Kata Wawan seraya menyerahkan kaos yang kering miliknya itu untuk dipinjamkan pada Raditya, dan juga segelas wedang teh hangat agar Raditya tak terlalu kedinginan lagi.


"Ma... Makasih Wan."


Kata Raditya.


Raditya lantas meminum teh buatan Wawan, aroma teh dan juga uap panas dari teh yang masih sedikit panas cukup membantu Raditya mengurangi dingin di tubuhnya.


Setelah meminum wedang teh nya, Raditya lantas mengganti bajunya yang kuyup dengan kaos kering pinjaman Wawan.


Ah, sebetulnya, rumah Raditya sudah tak seberapa jauh, hanya beberapa meter saja ia sudah bisa sampai di sana.


Tapi...


Raditya tak bisa langsung pulang, ia harus mengajak bicara seseorang dulu, otaknya terlalu ruwet, emosinya juga terlalu memuncak jika harus pulang sekarang dan melihat Tari di rumah.


"Ada apa?"


Tanya Wawan.


Raditya menghela nafas, lalu ia tampak menjedot-jedotkan belakang kepalanya ke dinding rumah Wawan yang untuk ia bersandar.


"Kau bertemu Mona?"


Tanya Raditya.


Raditya mengangguk.


"Apa yang ia katakan?"


Tanya Wawan, yang yakin sekali jika pasti Mona mengatakan hal yang membuat Raditya terpukul.


Raditya matanya meremang, ingin menangis tapi tak mungkin karena ia laki-laki.


"Dia sangat marah, aku rasa bukan hal biasa yang bisa membuat seseorang semarah itu."


Ujar Wawan, yang diiyakan Raditya.


"Dia mendengar Tari mengatainya mandul."


Kata Raditya.


"Astaga."


Wawan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan hanya itu, Tari juga menulis banyak sekali status di media sosial yang di tagg pada Mona dengan akunku."


Kata Raditya.


Wawan kali ini mengangguk.


"Ya benar, tadi isteriku kasih lihat."


Ujar Wawan.


Raditya mengurut kepalanya.


"Bisa-bisanya ia menulis Mona harusnya mencari berondong yang cukup dibayar dua ratus ribu daripada mengganggu suami perempuan lain."


Raditya menghela nafas, begitupun juga Wawan.


"Tari berarti sangat cemburu pada Mona."


Raditya mengangguk.


"Biasanya dia tak sebar-bar itu, kalau toh cemburu, biasanya dia hanya akan ngambek atau menangis saja. Tapi kali ini benar-benar aneh, padahal dia bertemu sendiri dengan Mona dan melihat bagaimana Mona tetap baik padanya."


"Bukannya Tari juga tadinya masak untuk Mona dan malah memintamu mengirimkan masakannya, kenapa tiba-tiba jadi seperti itu?"


Wawan juga jadi ikut bingung.


"Apa mungkin ada yang menyulut Dit?"


Tanya Wawan.


Raditya menggeleng,


"Entahlah Wan, aku tidak bisa berpikir lagi Wan, rasanya otakku buntu."


Kata Raditya.


Wawan menghela nafas,


"Andai katapun memang ada yang menyulut Tari melakukannya, Mona pasti sudah tak peduli, ia sudah terlalu marah sekarang, ia bahkan memberiku pilihan yang rasanya jika aku bisa memilih mati, lebih baik aku mati saja sekarang."


Raditya benar-benar seperti sudah putus asa saat ini, Wawan menatap Raditya dengan iba.


"Memangnya pilihan apa yang ia berikan padamu?"


Tanya Wawan,.


Raditya terdiam sejenak, seolah mengumpulkan seluruh energi yang tersisa untuk mengatakannya pada Wawan, lalu...


"Aku diminta dia menyerahkan diri kepada polisi bersama Tari, atau jika tidak Mona sendiri yang akan menyeret kami."


Kata Raditya akhirnya,


"Astaga, jadi dia serius?"


Wawan menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Pilihan keduanya adalah aku harus benar-benar bercerai dengan Tari, agar apa yang aku katakan padanya sebagai kebohongan bahwa aku seorang duda menjadi kenyataan."


Kata Raditya lagi,


Wawan menghela nafas.


"Keduanya pilihan yang tak bisa aku lakukan Wan."


Lirih Raditya.


"Semarah apapun aku pada Tari, aku tak mungkin tega melihatnya masuk bui, dan juga aku tak sungguh-sungguh tega membiarkan dia jadi janda."


Raditya mengusap wajahnya dengan kasar.


Wawan lagi-lagi harus menghela nafas, rasanya ia seperti sedang melihat sinetron azab secara live.


"Apa yang harus aku lakukan Wan? Aku bingung."


Kata Raditya.


Wawan terdiam, yang ia lakukan hanya menatap miris Raditya yang kini seperti dijatuhkan ke lubang yang sangat dalam dan ia tak tahu harus bagaimana caranya menolong.


"Aku tahu kau pasti ingin mengatakan bahwa kau sudah mengingatkanku soal Mona, soal dia tak bisa disamakan dengan perempuan lain yang sebelum dirinya."


Raditya seperti gumaman.


Wawan kali ini mengangguk.


Raditya menyandarkan kepalanya lagi, diperankannya matanya yang panas.


"Aku sudah berusaha untuk berhenti, tapi aku tak tahu caranya, aku tiba-tiba merasa sangat terikat dengannya."


Kata Raditya.


"Kamu sudah punya isteri, apa yang kamu harapkan dari hubungan dengan Mona yang kamu sendiri tahu itu akan menyakiti keduanya?"


Wawan akhirnya menyampaikan suaranya.


"Kau tahu Mona sakit, kau sendiri yang cerita jika rumah tangganya kandas karena sakit yang ia derita, ia mungkin tak akan bisa hidup seperti perempuan kebanyakan."


Raditya mengangguk.


"Ya Wan, bahkan saat kami liburan, kami tak melakukan apapun, Mona sama sekali tak tertarik padaku seperti kebanyakan perempuan yang selama ini main-main denganku di media sosial, yang bahkan mereka terang-terangan menggodaku mengirimkan video saat mereka mandi dan sebagainya. Mona, dia tidak begitu, ia hanya akan bicara soal Shanum dan impian serta cita-citanya."


Raditya akhirnya menangis, ia mengingat semua tentang Mona dan hatinya menjadi begitu sedih.


**-------------**