
Raditya akhirnya dijebloskan ke penjara atas tindakan penipuan dan juga penyalahgunaan media sosial yang diatur dalam UU ITE.
Raditya diganjar kurungan empat tahun dengan sudah dikurangi masa kurungan.
Sebetulnya, jika dibandingkan dengan uang yang Mona keluarkan untuk sampai berhasil memasukkan Raditya ke penjara, uang yang diambil Raditya dari Mona saat ia membohongi Mona tidaklah sebanding.
Tapi bagi Mona, tentu kepuasan hati untuk membuat orang yang menyalahi kepercayaannya, mempermainkan kehidupannya mendapatkan hukuman adalah jauh lebih penting.
Melihat Raditya menangis menyesal, melihat Tari hancur menjadi janda dan mantan suaminya masuk penjara, rasanya itu adalah hal yang sungguh membuat sakit hati Mona merasa terbayar.
"Kau sungguh puas?"
Tanya Diah pada Mona setelah semua proses di pengadilan selesai.
Mona tersenyum miring, ia tampak sedingin biasanya.
Mona berjalan keluar dari gedung pengadilan, ditemani Diah yang belakangan jauh lebih setia dari sebelumnya, ia menjelma menjadi saudara yang sungguh-sungguh selalu ada untuk Mona, dan Mona menghargai itu.
Mona dan Diah baru akan masuk mobil, saat tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil.
"Ibu Mona... Ibu Mona..."
Mona yang mengenal betul suara itu lantas menoleh, dan tampak Shanum berdiri di samping Ibunya Tari dan Ayahnya Tari.
Mereka sepertinya memang sengaja datang untuk melihat proses ketuk palu mantan menantunya.
Mona membungkuk memberi salam, lalu tampak tersenyum sekilas pada Shanum yang tampak lusuh dan kurus.
Mona lantas cepat memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu mengajak Diah untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Ada yang tergetar di dalam hatinya melihat Shanum.
Anak itu, matanya, senyumnya, semuanya masih sama saat ditatap Mona.
Ya...
Anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka tidak pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi, mereka tak pernah tahu kesalahan apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitar mereka.
Semua tentu terlalu rumit untuk mereka mengerti, mereka tentu juga terlalu sulit untuk memahami sebetulnya siapa yang salah dan siapa yang benar dalam setiap masalah yang terjadi pada orang-orang dewasa yang mereka temui.
Mona menyalahkan mesin mobilnya, bersiap pergi meninggalkan pengadilan dan meninggalkan sepenuhnya masa lalu yang membuatnya sempat ingin berhenti menjadi orang baik.
"Itu Sasa bukan?"
Tanya Diah pada Mona yang kini terlihat fokus di belakang kemudi.
Mona tampak mengangguk,
"Ya."
Jawab Mona pula.
"Tampaknya ia masih melihatmu sebagai Ibu Mona yang baik, ia tetap mencintaimu Mon."
Ujar Diah.
Mona diam saja.
Kini semuanya seperti rekaman film yang diputar ulang, saat pertama kali Mona melihat foto Shanum, lalu semua kejadian setelah itu.
Semua kenangannya bersama anak itu dan juga bersama Raditya.
Kenapa?
Mona menepikan mobilnya, ia tak kuasa menahan air mata akhirnya. Mona menangis. menangis sejadi-jadinya.
Diah cepat meraih tubuh Mona, dipeluknya dengan erat dan membiarkan Mona menangis sampai puas.
"Aku tidak pernah ingin jadi orang jahat Di... Kau tahu bukan?"
Kata Mona di tengah tangisnya.
Diah mengangguk sambil menepuk-nepuk punggung Mona.
"Kau tidak jahat Mona, yang kau lakukan hanyalah menuntut keadilan."
Kata Diah.
"Anak-anak itu, aku menghancurkan masa depan anak-anak itu pada akhirnya. Keluarga mereka hancur, Ayah dan Ibu mereka hancur."
Mona menangis tak tertahan.
"Bukankah kamu bilang kamu puas dengan semuanya? Harusnya kamu tersenyum sekarang Mona."
Kata Diah.
Mona menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Puas...
Ya tadi saat ketukan palu baru saja terdengar, Mona memang sangat puas.
Melihat tangisan Raditya, dan mendengar sekarang Tari depresi karena jadi janda dan harus menerima kenyataan mantan suaminya masuk penjara membuat Mona memang sangat puas.
Tapi...
Itu ternyata hanya sesaat.
Ya sesaat.
Tak sampai satu hari, bahkan ternyata hanya bertahan dalam hitungan menit.
Selebihnya kini adalah...
"Ternyata dendam yang bisa kita balaskan tak membuat kita lega Diah."
Kata Mona akhirnya. Suaranya lirih dan terdengar begitu penuh tekanan.
Ya...
Memang begitu bukan?
Bahwa dendam adalah perasaan yang ditimbulkan oleh rasa amarah yang sebetulnya tak akan lama bertahan.
Ketika amarah itu menuntut kita melakukan sesuatu untuk membuat semuanya impas dan kita mampu melakukannya, kita akan merasa puas.
Tapi...
Itu hanya sesaat, selebihnya adalah kosong, hampa, tak ada kebahagiaan yang menyertai.
**----------**