MONA

MONA
48. Pasrah



"Investasi... Investasi... Makanya kalau apa-apa itu tanya, jangan sok tau."


Kakak Tari marah luar biasa.


"Aku hanya ingin bisa seperti yang lain, apa salahnya?! Aku juga ingin rumahku bagus, punya kendaraan, bisa jalan-jalan setiap akhir pekan, bisa belanja ini itu."


Tari menangis tersedu-sedu.


"Sejak kapan kamu ikut seperti itu?"


Tanya Kakak yang lain.


"Aku hanya ikut satu kali, lalu akhirnya aku tahu aku ditipu, tapi aku tidak berani bicara. Aku pakai uang hutang mingguan dan harian, tapi ternyata aku terjebak dan tak bisa lunas malah semakin bertambah."


Kata Tari masih menangis,


"Bodoh! Kamu benar-benar bodoh."


Kakak Tari terus memaki,


"Sudahlah, semua sudah terjadi, apa yang mau kalian hina lagi dari adik kalian, sementara hinaan itu tak bisa menolongnya."


Kata Ayah menengahi.


Tari bersimpuh di depan Ayah, ia benar-benar meminta ampun.


Ayah hanya mampu ikut menangis, ia tak menyangka jika rumah tangga anaknya hancur karena kecerobohan anak dan menantunya.


"Kesalahanmu adalah membiarkan suamimu mengelabui perempuan lain untuk kepentinganmu Ri, anggap ini karma yang harus kamu bayar, bagaimanapun jika ini hanya masalah ekonomi tentu kami semua tetap akan mau membantu, tapi yang kalian lakukan juga mengorbankan orang lain, terutama kamu Ri, kamu melakukan kesalahan, lalu kamu menutupinya dengan kesalahan lain yang membuat orang lain terseret dan dirugikan. Sudah begitu kau juga menyakiti mereka dengan mengata-ngatai hal buruk pada mereka, harusnya kamu urus rumah tanggamu dulu, jangan membiarkan orang lain datang lalu setelah kamu selesai mengambil keuntungan baru teriak mereka pelakor."


Kakak ipar Tari akhirnya ikut bicara, tampak Tari terus menangis,


"Aku tidak ingin pisah dengan Bang Radit... Aku tidak ingin pisah."


"Sekarang kamu berdoa saja, jika memang masih ada jodoh maka kalian akan bertemu lagi, tapi jika tidak kamu harus sadar diri bahwa semuanya adalah kamu yang memulai kesalahan lebih dulu."


Tari sesenggukan sambil sungkem di kaki Ayahnya.


**-------------**


Raditya berjalan gontai menuju unit apartemen Mona. Langkahnya yang gontai dan berat karena membawa beban rasa bersalah yang begitu besar tampak sangat menyiksanya.


Tapi... Raditya sungguh tak punya banyak pilihan selain harus menemui Mona dan minta maaf pada perempuan itu bagaimanapun caranya.


Dan andai katapun Mona tetap bersikeras ingin Raditya dijebloskan penjara juga Raditya telah siap sekarang.


Raditya berdiri di depan pintu unit apartemen milik Mona, ia berdiri tercenung menatap pintu yang tertutup.


Ditekannya bel pintu untuk mengabarkan ada yang datang pada Mona.


Di dalam unit apartemennya Mona sedang minum jus jeruk sambil makan keripik kentang dan mengerjakan pekerjaannya ketika mendengar bel pintu unit apartemennya ditekan seseorang.


Siapa yang datang? Batin Mona.


"Raditya."


Gumam Mona.


Mona pun lantas membuka pintu unit apartemennya, ia sebetulnya tak perlu terlalu kaget karena ia sore tadi sudah menemui keluarga Tari dan pasti semua langsung heboh.


Jadi tak heran jika Raditya kali ini datang menemuinya, setelah sekian hari menghilang, dan sepertinya memang berniat menghilang sama sekali.


"Ternyata ada nyali menemuiku?"


Tanya Mona sinis begitu ia membuka pintu unit apartemennya dan menghadapi Raditya.


Tampak Raditya langsung berlutut dan menangis meminta maaf pada Mona.


"Apapun akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku Hani."


Kata Raditya.


Mona tersenyum sinis,


"Dari kemarin ke mana? Merasa aman melarikan diri?"


Tanya Mona.


Raditya menunduk, ia tahu ia salah, tapi bagaimana, ia sungguh tak bisa berpikir selain menerima ide dari Wawan.


"Aku sudah tak bisa memaafkanmu karena kamu mencoba tidak bertanggungjawab, urusanmu sekarang dengan hukum Raditya."


Kata Mona.


Ya, Mona sudah menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib, dan Raditya akhirnya tetap harus menjalani hukumannya.


Dan tak seperti yang Mona bayangkan Raditya akan lari atau berusaha membela diri, ternyata ia pasrah saja, ia dengan tenang mengangguk dan memilih duduk di atas lantai di depan unit apartemen Mona.


"Aku sudah mentalak Tari, kini aku hanya sebatang kara, anak-anak juga sudah aku titipkan pada mertuaku, jadi silahkan hukum aku, tidak apa-apa jika memang ini bisa menebus kesalahanku Hanni."


Kata Raditya.


Mona menatap Raditya yang sama sekali tak melalukan perlawanan atau pembelaan diri.


"Panggilah polisi ke sini, aku sudah siap."


Kata Raditya.


Mona tanpa ragu akhirnya menelfon pihak kepolisian.


"Semoga kamu bisa belajar Raditya, belajar bahwa menyalahi orang lain tak selamanya orang itu dengan legowo memaafkan begitu saja, karena ada kalanya, kejahatan yang seperti kamu lakukan juga harus berurusan dengan hukum supaya tak banyak ditiru orang lain."


Tandas Mona.


**--------------**