
Hari berganti sampai kemudian obat Shanum telah habis dan kondisi Shanum telah jauh lebih sehat.
Mona juga rasanya begitu ada Shanum selama tiga hari ini jadi jauh lebih bersemangat untuk hidup.
Seperti setiap pagi yang biasanya malas bangun, tiga hari ini Mona bangun pagi sekali, ia akan sibuk bebenah, masak nasi lalu menyiapkan sarapan untuk Shanum.
Meskipun dirinya juga dalam kondisi cuti sakit, tapi mengurus Shanum justru membuatnya tak ingat akan sakitnya sendiri.
Apalagi ketika Shanum kemudian makan sarapan dengan lahap, Mona akan semakin semangat lagi.
Mona juga mengajak Shanum belanja bahan masakan untuk makan siang dan makan malam mereka.
Mengajak Shanum membaca buku, menonton film animasi, sampai main games.
Sungguh, sangat menyenangkan memiliki anak bagi Mona, sementara Shanum sendiri juga sangat senang bersama Mona yang sangat jauh berbeda dengan Ibunya.
Mona selalu mengisi waktunya dengan banyak kegiatan dan mengatur semuanya dengan disiplin.
Seperti siang Shanum harus tidur sebentar, lalu malam juga tidak boleh melek lebih dari jam sembilan malam.
Pagi bangun Mona akan langsung meminta Shanum mandi dengan air hangat di shower kamar mandi, yang baju gantinya sudah Mona siapkan di kamar, setelah mandi Mona akan mengajak sarapan lalu bersama-sama mencuci tempat makan mereka baru setelah itu akan melakukan kegiatan lainnya.
"Sasa betah di sini?"
Tanya Mona.
Shanum mengangguk.
"Kalau Sasa mau, boleh Sasa pindah dan tinggal dengan Ibu saja."
Ujar Mona.
Shanum terdiam, ia menatap Mona, gadis kecil itu menyayangi Ibu angkatnya itu.
Tapi...
Shanum ingat Azka, ia ingat adiknya di rumah tidak ada yang menemani saat main, Shanum juga ingat saat Azka ingin jajan lalu menangis nanti kasihan kalau sendirian,
"Shanum ingat Azka."
Lirih Shanum jujur.
Mona tersenyum mendengarnya, ia sangat bisa memaklumi itu.
Hp Mona di atas meja ruang TV bergetar, pertanda ada pesan baru yang masuk.
Mona dan Shanum memang baru saja selesai sarapan dan kini sedang menonton acara anak-anak TV Korea.
Cepat Mona meraih hp nya di atas meja, dan kemudian tampak pesan dari Raditya yang menanyakan kabar Shanum.
[Aku akan menjemputnya sore ini, tidak apa kan?]
Tulis Raditya.
Mona menghela nafas, rasanya ia ingin menjawab tidak boleh, tapi ia tahu bahwa tak mungkin ia memaksakan sebuah keadaan.
[Jam berapa?]
Balas Mona akhirnya.
[Belum tahu Hany, tapi begitu aku selesai kerja, aku akan langsung naik ojek ke sana.]
Tulis Raditya lagi.
[Dua hari ini aku sudah mulai bekerja Hany, doakan aku ya hany, aku janji akan lebih semangat kerja, meskipun memang untuk berangkat kerja lumayan menguras energi Hany, soalnya tempatnya cukup jauh tapi aku tidak ada motor, sementara naik ojek setiap hari jelas boros]
Tambah Raditya tidak ditanya.
Mona menoleh ke arah Shanum yang duduk di sampingnya.
[Kalau begitu, aku saja yang akan antar Sasa pulang]
Putus Mona akhirnya.
[Sekalian aku akan bicara dengan isterimu]
[Bicara soal apa Hany?]
Tanya Raditya.
[Soal Shanum tidak boleh makan apa saja, dan harus benar-benar dijaga pola makannya]
[Oh... ya hany, tapi kamu harus hati-hati kalau bawa kendaraan sendiri, aku khawatir]
Mona menghela nafas membaca tulisan Raditya,
[Ya]
Begitu saja jawaban Mona, lalu ia meletakkan lagi hp nya di atas meja.
"Sasa, mau beli apa buat Azka?"
Tanya Mona.
Shanum diam sebentar, lalu dengan semangat menjawab,
"Ayam goreng, Azka suka sekali makan ayam Bu, lalu es krim, coklat, keripik kentang."
Shanum mengatakannya seolah benar-benar hafal semua yang disukai sang adik.
Mona membelai lembut kepala Shanum, melihat Shanum demikian memang membuat Mona jadi ingat saat ia dulu kecil juga begitu, saat makan jajan atau dikasih apapun oleh saudara, Mona akan ingat adiknya.
"Baiklah, nanti kita beli untuk Azka semuanya, kita beli ayam goreng sekalian burger mau?"
Tanya Mona.
Shanum jelas saja mantuk-mantuk senang.
**------------**
Pukul empat sore, langit terlihat sedikit mendung, Mona akhirnya untuk memenuhi janjinya mengantar Shanum pulang.
Dalam perjalanan menuju rumah Shanum, Mona menyempatkan diri mengajak Shanum belanja jajan yang kata Shanum disukai Azka.
Mereka juga membeli burger dan ayam goreng tepung satu wadah besar untuk nantinya bisa dimakan Shanum dan Azka sampai puas di rumah.
Setelah dirasa cukup, barulah mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Ibu Mona nanti sama siapa bubunya?"
Tanya Shanum polos.
Mona tersenyum sambil menggapai kepala Shanum yang duduk di sampingnya mengemudi, dibelai dan diusapnya kepala Shanum dengan lembut menggunakan tangan kiri.
"Ibu akan bubu sendirian tentu saja."
Jawab Mona yang lantas menarik tangannya agar kembali fokus menyetir.
"Ibu tidak takut?"
Tanya Shanum.
Mona terkekeh.
"Takut apa? Ibu kan sudah dewasa, tidak apa-apa tidur sendirian."
Ujar Mona.
Shanum nyengir melihat Mona.
Kelak saat dewasa Shanum rasanya ingin jadi seperti Mona, yang menurut Shanum begitu keren dan uangnya banyak.
Shanum dan Mona bicara banyak hal, termasuk rencana Shanum besok di sekolah saat mulai masuk sekolah lagi dan bertemu teman-teman.
"Ibu boleh ya kapan-kapan ke sekolah Sasa?"
Tanya Mona.
"Boleh, Shanum mau Ibu."
Kata Shanum semangat.
Mona lagi-lagi jadi terkekeh.
"Nanti Ibu akan Shanum kenalkan pada teman-teman Shanum."
Ujar Shanum yang jelas memang dia sangat bangga merasa memiliki ibu kedua bernama Mona.
Sore itu, yang semula Mona bayangkan akan penuh air mata karena harus mengantar pulang Shanum akhirnya justeru membuat Mona tertawa terus.
Ah rasanya Mona pasti akan semakin cepat rindu dengan Shanum, belum lagi saat nanti pulang ke apartemen lalu suasananya sepi, pasti Mona akan langsung merindukan Shanum.
Jelang setengah enam, ketika senja sudah mulai rapat memenuhi langit, mobil Mona akhirnya mendekati gang ke arah rumah Raditya.
Mona menepikannya ke bahu jalan dan berhenti tak jauh dari gang.
Mona turun dari mobil setelah membantu Shanum turun, Mona tak lupa juga membawakan semua jajan dan makanan yang mereka sengaja beli untuk Azka di rumah.
Di jalan menuju rumah Raditya, tampak beberapa Emak yang sedang kumpul di salah satu rumah menyapa Shanum, meskipun tatapan mereka jelas ke arah Mona, bukan ke arah Shanum.
Tapi, Mona tak peduli, ia hanya menyunggingkan senyuman ramah saja, selebihnya ia mengikuti terus langkah kecil Shanum menuju rumah.
Sampai tinggal tiga rumah lagi menuju rumahnya Shanum, tampak rumah itu pintunya sedikit terbuka, dua sandal ada di keset depan pintu menandakan sedang ada tamu.
"Shanum..."
Seorang teman Shanum di jalan menyapa, Shanum langsung berlari ke arah temannya.
Mona yang melihat Shanum menemui temannya lebih dulu akhirnya memilih ke rumah sendirian.
Sampai di teras, Mona mendengar suara gelak tawa perempuan yang cukup ramai.
Sudah jelas dua sandal itu adalah milik perempuan-perempuan yang kemungkinan adalah teman atau bisa juga saudara Raditya dan Tari.
"Pasti Raditya tidak bisa apa-apa dong kamu kasih syarat begitu saat minta jatah."
Terdengar suara perempuan yang tak Mona kenali,
"Iya, aku benar-benar meminta Bang Radit untuk meninggalkan Mona setelah Shanum pulang, aku juga akan jauhkan Shanum dari pelakor itu."
Kali ini Mona kenal betul jika itu suara Tari.
"Jadi udah jelas ya dia pelakor."
Kata suara perempuan lain,
"Ya pastilah, janda baik sekali sama suami perempuan lain kalau bukan karena mau jadi pelakor buat apa lagi, paling karena ngarep di service Bang Radit kan, aku tidak sudi, membayangkan saja aku tidak sudi."
"Ah tapi kan kamu bilang dia tidak cantik, sudah begitu mandul kan, jadi pasti Raditya juga deketin karena butuh uang saja."
"Iya memang, makanya ini kan udah kerja, jadi biar nanti tinggalin saja."
Kata Tari.
Mona yang mendengar dari balik pintu langsung tampak mengepalkan kedua tangannya, di dorongnya pintu depan rumah itu dengan kakinya, lalu Mona melempar dua kresek berisi jajanan dan makanan yang ia bawa ke arah tiga perempuan yang ada di sana dan kini menatapnya dengan terkejut.
"Kalian semua perempuan laknat."
Geram Mona.
**-------------**