MONA

MONA
Cinta Terpendam Vino



Tidak lama Andre pergi datang lah Dokter Dina.


"Hai Nak Mona!" Sapa Dokter Dina.


"Ibu! Sudah lama tidak bertemu!" Balas Mona.


"Iya, kamu makin cantik saja!" Puji dokter Dina.


Lalu mereka berdua pun masuk, dan Mona pun memanggil Vino sambil mendorong kursi roda nya.


"Sebentar ya, saya buat kan minum dulu." Ujar Mona lalu pergi ke dapur.


"Tante senang Mona berubah banyak seperti itu." Ujar dokter Dina.


"Iya Tante! Saya juga kagum dengan kegigihan Mona." Balas Vino.


"Wah wah... Tante juga mencium aroma cinta." Ujar dokter Dina.


"Apaan sih Tante, nggak mungkin Mona mau sama saya!" Balas Vino.


"Ish, kamu itu selalu saja minder! Kalau begitu terus kapan kamu nikahnya." Ujar dokter Dina.


Lalu Mona pun datang dengan membawa minuman.


"Di minum ya Bu! Mumpung masih hangat!" Ujar Mona.


"Makasih ya Nak Mona!" Balas dokter Dina.


Lalu mereka pun berbincang bincang.


"Ibu senang kamu merawat Vino dengan baik." Ujar dokter Dina.


"Itu kan sudah tugas saya Bu!" Balas Mona senyum.


Setelah dua jam bertamu, dokter Dina pun pergi.


*********


Seminggu kemudian kedua orang tua Mona pun datang berkunjung.


(Di kontrakan Mona)


"Bapak, Ibu (memeluk kedua orangtuanya) Mona senang sekali bapak dan Ibu datang ke sini." Ujar Mona terharu.


"Iya, supir Nak Vino yang menjemput bapak dan Ibu." Balas bapaknya Mona.


"Oh ya! Mona senang sekali! Bagaimana kalau bapak dan Ibu tinggal di sini saja." Ujar Mona.


"Iya ndok! Lagian bapak dan ibu cuma tiga hari saja di sini.. tidak bisa lama lama." Balas bapaknya Mona.


Lalu Mona pun membawakan barang orang tuanya itu ke kamar. Mona sangat senang sekali orang tua nya datang menemuinya.


******


Lalu keesokan harinya Vino datang dan membawa kedua orang tuanya Mona jalan jalan.


"Tunggu, Bu!" Ujar Mona lalu memakaikan hijab kepada ibunya.


"Subhanallah Ndok! Terima kasih ya ndok!" Balas Ibunya Mona haru.


Lalu mereka pun berangkat, kedua orang tua Mona di ajak makan di restoran dan jalan jalan ke tempat wisata. Mona dan kedua orang tuanya sangat bahagia sehingga membuat Vino juga turut bahagia.


Sesampainya di kontrakan Mona.


"Terima kasih ya Nak! Sudah mau mengajak bapak dan Ibu jalan jalan." Ucap bapaknya Mona senang.


"Jangan sungkan! Ini bukan apa apa kok pak, Bu! Saya senang kalau bapak dan Ibu senang!" Ujar Vino.


Lalu tidak lama Vino pun pulang ke rumahnya.


"Ndok! Nak Vino itu baik sekali ya." Ujar ibunya Mona.


"Bukan baik lagi, tapi sangat baik Bu." Balas Mona.


"Apa kamu tidak ada rasa suka dengan Nak Vino?" Tanya Ibunya Mona.


"Ibu, ndak boleh ngomong gitu! Mas Vino itu Bosnya Mona, jadi ndak mungkin Mas Vino suka sama aku." Jawab Mona.


"Yang di tanya itu kamu ndok! Bukan perasaan nak Vino ke kamu!" Sambung bapaknya Mona.


" Ya itu sama aja toh pak! Kalau Mas Vino Ndak suka sama saya itu artinya saya ndak mungkin suka sama Mas Vino." Ujar Mona.


Tidak lama kemudian mereka pun masuk ke kamar dan tidur.


Tidak terasa sudah hampir sebulan berlalu.


Ternyata penyelidikan kasus korupsi kepala desa berjalan baik, kepala desa di kampung halaman Mona terbukti melakukan korupsi.


Lalu bapaknya Siska pun di tangkap pihak berwajib di hadapan para warga dengan raut wajah yang kesal. Siska dan Ibunya hanya bisa menangis dengan nasibnya.


"Makanya Siska! Jadi orang itu jangan sombong! Sama sama makan nasi saja sudah sombong! Ternyata kayanya karena korupsi." Ujar Nining kesal


Siska yang berdiri di depan Nining pun hanya terdiam dan sedih. Dan yang lebih tragisnya lagi, semua aset termasuk rumah Siska di sita pemerintah, lalu Siska dan Ibunya memutuskan untuk pergi ke kota karena sudah terlalu malu dengan penduduk desa.