MONA

MONA
38. Semua Orang Bisa Berubah



Raditya menatap layar hp nya dengan wajah pucat, tangannya tergetar.


Ia yang kini sedang duduk di ruang tunggu klinik dekat rumahnya mengantar Tari yang akhirnya jatuh sakit menoleh ke arah Tari yang duduk di sebelahnya dalam kondisi lemas.


Kedua mata Tari yang sembab dan wajahnya yang pucat juga tak luput dari tatapan Raditya.


Hatinya benar-benar terasa remuk melihat semuanya, belum lagi membayangkan apa yang ada di depannya seperti sebuah ancaman besar membuat Raditya begitu tak karuan.


Raditya menghela nafas, ia mengirimkan pesan Mona yang menanyakan kapan Raditya berencana menyerahkan diri kepada Wawan.


[Wan, aku harus bagaimana?]


Tanya Raditya bingung luar biasa.


[Tari sakit]


Tulis Raditya pula.


Tak perlu menunggu lama, balasan dari Wawan pun masuk.


[Sesuai saranku, pindah saja ke tempat yang Mona tidak akan menemukan kalian, dan ganti nomor hp nya]


[Apa itu akan berhasil?]


Raditya seolah ragu.


[Ada kontrakan rumah di kampung sebelah punya Uwak, pindah saja ke sana untuk sementara waktu]


Tulis Wawan.


[Tapi, jika Mona yang membawa kasus ini ke jalur hukum, pasti akan mudah bagi polisi menemukan kami]


[Jangan pikirkan itu dulu, yang penting sekarang pindah dulu saja. Rumah yang di sini bisa kamu jual, jika sudah dibayari orang, kamu bisa cari rumah lagi di tempat yang lebih baik dan aman untuk sembunyi]


Raditya membaca tulisan Wawan dengan seksama, menimbang, memikirkannya.


"Nomor 15, Bu Tari Windi Dahlia."


Terdengar nama Tari dan juga nomor antrian dipanggil.


Tari beranjak dari duduknya, begitupun Raditya yang mengantar sang isteri untuk diperiksa.


Raditya mengantar Tari masuk ke ruangan dokter bertugas.


"Silahkan Bu,"


Kata bu dokter mempersilahkan Tari naik ke tempat tidur yang untuk pasien diperiksa.


Tari menuruti, ia naik ke tempat tidur dan kemudiannya dokter memeriksanya.


Raditya duduk menunggu sambil kembali sibuk berbalas chat lagi dengan Wawan.


[Apa hari ini aku bisa lihat rumahnya?]


[Jangankan lihat, langsung tempati juga boleh, bayar saja uang muka dulu]


Raditya menghela nafas, ada sisa uang di rekeningnya dari Mona. Uang pinjaman untuk ia membuat SIM dan lainnya.


Tentu saja, ia bohong jumlahnya sengaja di tambahkan.


[Ya nanti sore sepulang aku kerja, antar aku ke sana Wan]


Pinta Raditya.


[Oke]


Balas Wawan.


Raditya menghela nafas lagi, bersamaan dengan itu pemeriksaan Tari sudah selesai.


"Ini lambungnya ya Bu, tolong nanti makannya dijaga, jangan yang pedes, asem dan pastikan jangan telat. Untuk sementara makan nasinya yang agak lembek ya, bagus lagi kalau bubur saja sampai nanti sembuh."


Ujar Bu dokter.


Tari mengangguk.


Bu dokter lalu menulis resep, baru kemudian memberikannya pada Tari dan Raditya.


"Semoga lekas sembuh ya Bu, jaga isterinya baik-baik Pak."


Kata bu dokter pada Raditya.


Raditya mengangguk, pesan yang terasa seperti sentilan untuknya.


Kedua pasangan itu keluar dari ruangan dokter, dan langsung pergi ke bagian apotek untuk ambil obat sesuai resep dan membayar tagihan sekalian di sana.


"Sore nanti aku akan ke rumah Uwaknya Wawan."


Kata Raditya saat kembali menunggu obat Tari selesai disiapkan.


"Mau apa?"


Tanya Tari.


"Sembunyi."


Jawab Raditya lirih.


"Sembunyi?"


Tari menatap Raditya dengan wajah bingung.


"Tak ada cara lain untuk lepas dari tuntutan Mona, selain sembunyi."


Kata Raditya lagi.


"Jangan lakukan apapun lagi, jangan menyulut api lagi, aku tak tahu seberapa seriusnya Mona akan membawa ini ke jalur hukum, tapi yang jelas, dengan sembunyi kita bisa aman sebentar."


Tari mengangguk,


Ya, tak apa, asal ia tak usah berpisah dengan Raditya, asal rumahtangga nya tetap utuh, Tari akan menurut apapun rencana Raditya.


**----------------**


"Mon, berkas balik nama Notaris Fatahilah di mana?"


Tanya Mbak Sri, senior nya.


"Nomor berkas berapa?"


Tanya Mona.


Mbak Sri lantas memberikan secarik kertas memo dengan isi beberapa nomor berkas.


"Ini punya Notaris Fatahilah semua?"


Tanya Mona.


Mbak Sri mengangguk.


Mona menghela nafas.


"Baiklah nanti aku cari,"


"Katanya sudah hampir satu bulan, sps belum keluar, coba cek satu persatu, barangkali ada memo perbaikan."


Kata Mbak Sri.


"Ya oke Mbak."


Mona mantuk-mantuk.


Mbak Sri baru akan pergi, saat tiba-tiba si miss kepo kantor pertanahan di mana Mona bekerja itu malah kembali lagi menghampiri Mona dan kemudian ambil posisi duduk di dekat Mona.


"Mon."


Panggil Mbak Sri.


"Ya Mbak, ada apa lagi?"


Tanya Mona seraya sekilas menoleh ke arah Mbak Sri.


"Ngg, nanya boleh dong?"


Mbak Sri nyengir penuh arti, sudah jelas ia akan kepo tentang sesuatu. Mona menghela nafas, lalu mengangguk,


"Ya tanya aja, kenapa mbak?"


"Soal yang kemarin heboh, yang akunmu di tagg laki-laki beristri, yang akun suaminya dipake isterinya."


Mbak Sri bisik-bisik, Mona mendengarkan sambil memeriksa nomor berkas,


"Apa benar kamu..."


"Ya."


Sahut Mona langsung memotong kalimat Mbak Sri.


"Lho, kok bisa begitu Mon?"


Mbak Sri terlihat kaget, tapi Mona sudah tak peduli dengan ekspresi macam apapun dari orang-orang.


Saat manusia yang terbiasa baik lalu tiba-tiba mendapat pukulan hebat, biasanya pilihannya manusia itu hanya akan berubah jadi dua.


Ia akan semakin belajar sabar, tapi ada juga yang jadi malah menjadi orang yang sebaliknya, selain ia menjadi apatis, ia juga akan jauh lebih dingin dengan sekitarnya.


"Biar ini jadi urusanku Mbak, mau aku apa, mau aku apa, ini adalah urusanku."


Kata Mona, ia menoleh pada Mbak Sri, tatapannya tajam, dan senyumannya terlihat aneh menurut Mbak Sri.


"Mbak Sri bisa pergi sekarang? Saya harus bekerja, dan semua nomor berkas ini akan saya laporkan kalo sudah ketemu."


Kata Mona pula.


Mbak Sri terlihat mengangguk, ia lantas berdiri dari duduknya.


"Oke Mon, aku hanya prihatin saja kamu sampai diserang secara terbuka begitu, sori ya."


Kata Mbak Sri.


Mona tersenyum tanpa melihat ke arah Mbak Sri, ia sudah lelah pasang wajah manis dan banyak senyum.


Buat apa hidup pura-pura selalu senyum pada manusia, senyum itu akan lebih baik jika dari hati, karena nilai ibadah itu tergantung kualitas hati dan niatnya.


Senyum biar cantik, biar dikata ramah, biar dikata baik, biar dikata sosok yang menyenangkan, hangat, buat apa?


Mbak Sri meninggalkan meja kerja Mona, sementara teman Mona yang ada di kanan kiri Mona hanya ikut mengulum senyum melihat si miss kepo seolah tertolak secara telak.


"Peduli itu nanyanya untuk kasih solusi, kalau tanya hanya biar punya bahan untuk ngobrol, aku tidak butuh."


Ujar Mona seperti gumaman kepada angin, namun bisa didengar orang-orang yang duduk di dekatnya.


Ya...


Mona menenggelamkan dirinya ke dalam kesibukannya lagi memeriksa berkas.


Tentu saja sambil menunggu Raditya kira-kira akan berani membalas apa.


**-------------**