MONA

MONA
27. Hati-Hati Lagi Musim



Mona masih tidur dengan lelap, saat tiba-tiba ia mendengar sesuatu seperti pecah.


Mona yang terkejut langsung terbangun dan duduk di atas tempat tidurnya, matanya mengerjap-ngerjap, masih cukup mengantuk tapi mendengar suara tangis anak kecil membuat Mona tersadar jika ia tak sendirian di dalam apartemennya.


Mona lekas turun dari tempat tidur, melangkah keluar kamar dengan sedikit tergesa, dan...


"Sasa, kenapa di situ?"


Tanya Mona heran karena Shanum terlihat menangis sambil duduk di atas lantai sambil memunguti pecahan-pecahan vas bunga kristal yang jatuh dari meja.


Mona menghela nafas,


"Sudah biar saja, nanti Ibu yang sapu."


Kata Mona.


"Maaf Ibu... Maaf Ibu, sungguh Shanum tidak sengaja, Shanum jangan dipukul yah Bu..."


Shanum menatap Mona takut-takut dengan posisi tangan memohon ke arah Mona.


"Siapa yang akan pukul Sasa? Justeru Ibu takut Sasa kena pecahan vas duduk di situ. Berdirilah dan pindah duduk."


Kata Mona menarik lembut Shanum agar berdiri dari posisinya.


Shanum akhirnya menurut berdiri, ia pindah ke belakang Mona dan makin menepi manakala Mona berjalan ke arah dapur untuk mengambil sapu dan pengki.


Mona kembali ke tempat di mana vas bunga kristalnya pecah dan kini harus dibersihkan karena bisa berbahaya bilamana terinjak.


"Vas bunga pecah kan Ibu bisa beli lagi, kalau Sasa yang luka bagaimana? Ibu tidak akan memukul Sasa hanya untuk masalah seperti ini, apalagi Ibu juga yakin Sasa tidak sengaja."


Kata Mona.


Shanum sesenggukan.


"Biasanya Shanum dipukul sama Ibu kalau mecahin gelas atau piring."


Kata Shanum.


Mona yang mendengarnya menghela nafas, ia enggan menjelekkan orangtua pada anaknya, seburuk apapun dia, Mona tak mau mengajak anak-anak menjelekkan orangtuanya.


Setelah selesai membersihkan lantai dari pecahan bas bunga kristal, Mona kemudian memasukkan pecahan itu ke dalam kantung sampah, setelah itu mengambilkan air putih untuk diberikan ya pada Shanum.


"Sasa minum dulu, biar tidak degdegan."


Kata Mona yang seperti tahu betul apa yang dirasakan Shanum saat ini.


Shanum menurut meminum air putih yang diberikan Mona, lalu setelah itu ia duduk di sofa di mana kemudian Mona juga duduk di sana.


Mona menatap jarum jam yang kini mulai mendekati maghrib.


"Sasa sudah mandi?"


Tanya Mona.


Shanum mengangguk.


"Ibu lupa di sini tidak ada baju ganti, kita pergi sebentar mau? Kita beli pakaian buat Sasa selama bubu di sini."


Kata Mona.


Shanum tampaknya mengangguk.


Mona lalu terpaksa berdiri lagi, meski sebetulnya perutnya masih tidak enak, tapi apa yang bisa ia lakukan?


Bermanja?


Jelas Mona tidak bisa, dan juga tidak biasa.


Mona berjalan ke kamar, menyiapkan diri untuk berganti pakaian.


**---------------**


"Shanum kok tidak kelihatan Bu Tari?"


Tanya seorang tetangga yang sejak pagi tak melihat Shanum,


"Oh, lagi di rumah neneknya."


Jawab Tari berbohong.


Tentu saja, Tari tidak mungkin berkata apa adanya jika anaknya sekarang berada di rumah Mona.


"Ibu, jajan..."


Azka yang semula sedang bermain begitu melihat Tari keluar dari rumah langsung berlari-lari meminta beli jajan.


Tari menghela nafas, dimasukkanya tangannya ke dalam saku dasternya, ada uang sepuluh ribu rupiah satu-satunya lebihan uang empat ratus ribu dari Raditya.


Maklum, Tari sudah memakainya untuk membayar hutang di dua warung sekaligus, itupun tidak sampai lunas.


Masih ada kurangan bayar hutang sekitar satu juta tiga ratus lebih di dua warung itu.


Tari memberikan uang sepuluh ribu satu-satunya pada Azka, harapannya tentu nanti Raditya akan memberinya uang lagi karena ia tahu Raditya dapat uang pinjaman dari Mona yang pastinya cukup banyak.


"Ri... Tari."


Sebuah panggilan terdengar dari samping rumah yang memang ada gang kecil di sana, tembusan ke jalan kampung belakang.


"Eh Mama Anjar."


Tari tersenyum.


"Bang Radit ada tidak?"


"Tidak ada, ini aku mau cari."


Kata Tari.


Mama Anjar menarik tangan Tari kemudian untuk dibawanya masuk ke dalam rumah.


"Ri, suamiku barusan pulang kerja, dia cerita katanya siang tadi ia lihat Raditya di tempat makan bareng Shanum dan seorang perempuan."


Kata Mama Anjar.


Tari yang mendengarnya tampak tersenyum masam.


"Kamu kenal? Kata suamiku kok kayaknya deket banget sama Shanum."


Kata Mama Anjar.


"Ngg... "


Tari baru akan menjawab, saat Mama Anjar menyerobot bicara lagi.


"Ati-ati lho Ri, jaman sekarang banyak pelakor, perempuan yang suka godain suami orang. Pada kegatelan, pada genit, pada murahan.


Ujar mama Anjar.


"Ah tapi untungnya kata suamiku, dibanding kamu mah masih cantikan kamu ke mana-mana, dia biasa aja. Tapi ya emang sih, di mana-mana pelakor tuh aslinya tetap kalah cantik sama isteri sah, palingan juga kan mereka modal obral doang itu Ri."


Kata Mama Anjar jadi kompor.


Tari menghela nafas, lalu ia berusaha tersenyum meskipun sebetulnya ia mulai merasakan lagi ketakutan akan ditinggalkan.


Mama Anjar celingak-celinguk lagi,


"Memangnya ke mana sih Raditya, sudah pulang belum dari tadi?"


Tanya Mama Anjar pula penasaran dan kepo tingkat tiga puluh enam.


"Tadi sudah pulang, cuma katanya mau ke rumah Bang Wawan, mau bikin SIM, buat kerja di pabrik meubel."


Ujar Tari.


"Waah, jadi mau mulai kerja lagi Ri? Syukurlah."


Mama Anjar terlihat tersenyum lebar.


Tari mengangguk.


"Iya Mama Anjar, semoga kali ini bisa awet kerjanya, sudah lama sekali nganggurnya."


Lirih Tari.


"Yah semoga saja Ri, kamu semangati saja kasi service terus tiap malam biar semangat kerjanya."


Seloroh Mama Anjar.


Tari jadi tersipu, sejujurnya Tari memang sangat menyukai aktifitas bersama Raditya yang satu itu.


Raditya sangat pandai membuatnya puas dan saat habis melakukannya, Tari rasanya mood nya langsung baik meskipun ada masalah apapun.


"Kelihatan kok Ri, kalau Raditya mahir urusan begituan."


Kata Mama Anjar.


"Ah sudahlah, aku tak mau bahas itu."


Tari akhirnya cepat-cepat meminta Mama Anjar mengakhiri pembicaraan yang menjurus ke arah sana.


"Tidak Ri, ini aku serius kasih tahu supaya kamu hati-hati, jangan sampai perempuan yang suamiku lihat tadi di rumah makan dengan Raditya sampai bisa mengajak Raditya melakukannya Ri."


Tari mendengarnya cepat-cepat menggeleng.


"Tidak! Jangan!"


Tari langsung panik.


Mama Anjar akan bicara lagi, saat tiba-tiba dari arah luar tampak Azka berlari masuk, di belakangnya terlihat Raditya berjalan juga menuju rumah.


"Ada Bang Radit, aku pamit ajalah, tadi aku tuh mau beli gorengan sebetulnya, yuk Ri..."


Mama Anjar cepat berdiri, lalu ngeloyor keluar rumah dan sempat berpapasan dengan Raditya.


"Ni."


Panggil Raditya, kebetulan Mama Anjar yang namanya Rini itu dulu adik kelas Raditya sekitar lima tahunan, ya usianya sama dengan Tari.


"Eh Bang Radit, yuk Bang, mau beli gorengan dulu."


Ujar Mama Anjar.


"Edi sudah pulang?"


Tanya Raditya.


"Sudah, ini aku mau beli gorengan buat tambahan lauk dia makan."


Kata Mama Anjar.


"Oh."


Sahut Raditya sekenanya saja, lalu masuk ke dalam rumah.


**---------------**