MONA

MONA
24. Ibu



Raditya membawa Shanum ke Rumah Sakit, Shanum matanya tampak sembab karena semalaman ia menangis dan tadi saat kedua orangtuanya bertengkar juga Shanum menangis.


Di Rumah Sakit, begitu Raditya sampai, tampak Mona sudah dibantu suster berkemas, dan begitu melihat Raditya datang bersama Shanum, tampak Mona langsung menyambut dengan senyuman lebar pada Shanum.


Mona berjalan ke arah Shanum, berlutut di depan Shanum untuk kemudian memeluk anak itu dengan penuh kasih sayang.


"Shanum sakit?"


Mona seketika panik, tatkala di rasakannya tubuh Shanum panas sekali.


Mona meletakkan telapak tangannya di dahi Shanum, lalu menatap Raditya.


"Sudah ke dokter?"


Tanya Mona.


Raditya menggeleng.


Mona mendengus kesal,


"Kamu ini, kenapa anak sakit tidak langsung ke dokter?"


Kesal Mona.


"Tadi mau aku bawa, tapi uang yang dari kamu aku berikan ke Ibunya Shanum, karena katanya dia cari pinjaman sana sini dimarahi pemilik warung belum bayar hutang."


"Hutang?"


Mona menatap Raditya,


"Ya, hutang, kau tahu kan, yang namanya anak-anak kan tidak mau tahu orangtua pegang uang atau tidak, mereka maunya ya yang penting makan, jajan."


Mona menghela nafas, ia tak berniat mengajak debat Raditya.


Mona kemudian meminta dompet dan hp miliknya pada Raditya, cepat laki-laki itu memberikan barang-barang penting Mona yang ia masukkan ke dalam tas kertas kecil.


"Sus, di sini dokter anak jam berapa?"


Tanya Mona,


"Besok Nyonya, hari ini dokter Nilam masih cuti ke Jerman."


Jawab si suster.


"Kalau dokter umum Hari ini jadwal dokter Siska,"


Kata suster lagi.


Mona mengangguk,


"Ke dokter dulu ya Sasa."


Kata Mona.


Sasa mengangguk, tangan kecilnya digandeng Mona keluar dari kamar perawatan, Mona ke bagian administrasi sebentar untuk membayar tagihan Rumah Sakitnya.


Setelah semua selesai, Mona menuju ke ruangan praktek dokter umum, yang untungnya hari ini tidak antri.


Setelah melakukan pendaftaran sebentar, mereka kemudian diarahkan ke ruangan dokter Siska.


Dokter Siska menyambut ramah Mona yang menggandeng Shanum.


"Badannya panas dok."


Kata Mona.


Shanum diminta berbaring, lalu dokter Siska mulai memeriksa.


Tak sampai lima menit, Shanum diminta turun lagi dari ranjang pemeriksaan.


Gadis kecil itu mengikuti Mona duduk.


"Ini ada radang tenggorokan Nyonya, jangan boleh minum es dulu, hindari goreng-gorengan dan makanan ringan."


Ujar dokter Siska.


Mona mengangguk.


"Perbanyak minum air putih, sayuran, dan buah tentu saja."


"Ada sedikit gangguan pada lambung juga Nyonya, jadi pastikan supaya anak makan teratur, jangan dibiasakan telat makan."


dokter menuliskan resep, lalu memberikan resep itu pada Mona.


"Baik dok, terimakasih."


Mona menyalami dokter Siska, tampak Shanum juga menyalami dokter Siska.


Keluar dari ruangan tampak Raditya menyambut.


"Bagaimana?"


Tanya Raditya.


Kata Mona, yang lantas membawa Shanum menuju ke apotek rumah sakit menebus obat resep dokter Siska, setelah itu ke bagian administrasi lagi untuk membayar tagihan.


Mereka lantas berjalan keluar Rumah Sakit bersama, Shanum tetap dalam gandengan Mona, sementara Raditya mendahului untuk membawa mobil menjemput Mona dan Shanum yang memilih menunggu di depan Rumah Sakit saja karena matahari bersinar cukup terik.


Mona memeriksa hp nya yang penuh oleh panggilan tak terjawab dan juga pesan dari banyak teman kerjanya.


Mona sibuk membalasnya satu persatu, meminta maaf karena tak bisa menghubungi hp tertinggal di apartemen.


Untungnya memang di hari sebelumnya Mona sudah ijin tak berangkat karena sakit, maka dua hari' selanjutnya ia tak berangkat tetap dihitung ijin sakit.


Apalagi Diah teman Mona juga tinggal di gedung apartemen yang sama, ia tahu Mona dilarikan ke Rumah Sakit, tapi tidak tahu Rumah Sakit mana.


Mobil Mona yang dikemudikan Raditya berhenti di depan Mona dan Shanum.


Mona mengajak Shanum lekas masuk mobil.


"Ke apartemen saja, nanti aku pesankan makanan untuk Sasa."


Kata Mona.


Raditya mengangguk tanpa membantah.


Mona yang duduk bersama Shanum di kursi belakang terlihat telaten membukakan wadah obat untuk lambung yang harus dikonsumsi sebelum makan.


Mona memberikan obat itu pada Shanum.


"Seperti makan permen Sasa."


Kata Mona.


Shanum mengangguk.


Perjalanan yang memakan waktu sepuluh menit dari Rumah Sakit ke gedung apartemen Mona itu waktunya digunakan Mona untuk memesan makanan antar.


Karena ingat Shanum harus makan sayuran, Mona pun mencari sop Iga Sapi, sementara untuk dirinya dan Raditya adalah paket nasi dan bistik daging sapi serta capcai dan kentang kering.


"Apa lebih baik Sasa tinggal sama Ibu dulu saja? Biar sembuh dulu sakitnya."


Mona pada Shanum.


Shanum menatap Mona,


Ingatan anak itu saat semalam ditinggalkan Ibunya dan ia lapar sekali sejak sore membuat Shanum matanya berkaca-kaca.


"Ibu akan jaga Sasa dengan baik, nanti setelah sembuh tidak apa Sasa pulang."


Kata Mona.


Shanum melihat ke arah Ayahnya di belakang kemudi, seolah bingung dan takut kalau mengiyakan nanti kena marah.


"Tidak apa kalau Shanum ingin tinggal dengan Ibu Mona dulu, nanti Ayah minta ijin ke sekolah agar Sasa istirahat sampai sembuh."


Kata Raditya dari balik kemudi karena tak kunjung dengar jawaban Shanum.


Shanum yang mendengar Ayahnya berkata demikian akhirnya menatap Mona, mata beningnya yang mengisyaratkan jika ia anak yang butuh orang dewasa yang menjaga dan memperhatikan membuat Mona terenyuh.


Mona merangkul Shanum, mengusap kepalanya dengan lembut.


"Ibu juga masih harus minum obat, nanti kita akan sembuh sama-sama, yah."


Kata Mona.


Shanum mengangguk.


Tak lama berselang mobil akhirnya memasuki pelataran parkir Apartement di mana Mona tinggal.


Mona mengajak Shanum turun dan berjalan mendahului Raditya.


Raditya menatap Shanum yang digandeng Mona menjauh, hatinya teriris, ada haru karena Mona meski bukan siapa-siapa tapi begitu peduli dengan Shanum, tapi ia juga sedih karena harusnya Shanum tak perlu harus jadi mendapatkan kasih sayang dari perempuan lain sementara Ibunya masih ada.


Raditya berjalan dengan langkah gontai menuju apartemen untuk menyusul Mona dan Shanum.


Ia mengingat Tari di rumah yang pasti sekarang ingin Raditya segera pulang dan membawa berita baik jika ia bisa membuat SIM, tapi di lain sisi lagi, Raditya juga rasanya membayangkan bicara pada Mona lidahnya akan kelu karena Mona baru saja keluar uang banyak untuk biaya dia di Rumah Sakit dan juga untuk Shanum juga yang tadi ke dokter dan menebus obat.


Belum lagi...


"Cepatlah, kuncinya kamu simpan di mana?"


Mona menatap Raditya yang baru muncul dari pintu lift di lantai ia tinggal.


Mona dan Shanum berdiri di depan pintu unit apartemen milik Mona.


Apartemen yang gedungnya memang sudah cukup lama dan bukan termasuk apartemen mewah itu memang masih menggunakan kunci biasa.


Raditya pun bergegas menghampiri Mona, ia ingat kuncinya ia masukkan ke dalam kantung celana.


Raditya memberikan kunci itu, baru Mona membuka apartemen nya.


**---------------**