MONA

MONA
32. Keadilan



Mona baru saja selesai mandi dan ia merasa jauh lebih tenang sekarang, meskipun bukan berarti amarahnya atas apa yang Tari katakan tentangnya bersama teman-temannya tak lantas berkurang.


Tari, perempuan itu, yang kelihatannya memprihatinkan di mata Mona, yang seolah seperti perempuan baik, lemah dan tak berdaya, yang semula Mona pikir mereka bisa menjadi saudara baik dan sama-sama bisa menyayangi Shanum, ternyata...


Mona berjalan ke arah jendela kaca besar yang untuk keluar menuju balkon. Dari sana ia bisa melihat bagaimana hujan masih terus mengguyur kota.


Kelip lampu bangunan di sekitar apartemen terlihat pula oleh pandangan meski kaca mengembun dan terkena air hujan.


Mona melangkahkan kaki lagi ke arah sofa, manakala hp nya ada panggilan masuk dan lagi-lagi dari Raditya.


Mona duduk di sofa, di letakkannya hp itu begitu saja di samping ia duduk.


Malas.


Untuk apa ia meladeni Raditya lagi, sejak ia tahu Raditya membohonginya, Mona sebetulnya telah luruh semua perasaannya.


Satu-satunya alasan malam itu Mona tak melakukan apapun begitu di rumah Raditya ternyata masih ada Tari adalah karena Shanum, selebihnya Mona karena merasa kasihan melihat Tari, meskipun akhirnya hari ini Mona seperti menyesal.


Panggilan masuk Raditya akhirnya kembali menjadi panggilan tak terjawab, dan ini adalah kali ketiga puluh dua nya sejak sore tadi.


Mona menghela nafas.


Ketika satu pesan baru dari Raditya masuk, Mona bisa melihatnya dari jendela hp tanpa membukanya.


Pesan di mana Raditya memberitahu ia telah ada di lobby dan akan segera naik ke lantai di mana Mona tinggal.


Mona tak bergeming.


Ia malas. Ia sungguh-sungguh malas.


Setelah sekian menit berlalu dan Mona mendengar suara bel pintu berbunyi, Mona pun berdiri dari duduknya.


Alih-alih membukakan pintu unit apartemennya, Mona justeru mematikan seluruh lampu ruangan apartemen, dan tampak hanya menyisakan satu saja di dalam kamar.


Mona masuk ke kamarnya, ia kemudian memilih berbaring untuk istirahat.


"Dia tidak cantik, mandul pula, pasti Raditya juga mendekatinya karena ia punya uang."


"Ya dia akan ditinggalkan nantinya."


"hahahaa... Hahahaha..."


Seluruh kata-kata jahat yang Mona dengar seolah terus terngiang di telinga, dan itu seperti membuat Mona mengingat masa lalu di saat ia masih bersama Bang Panji.


Saat di mana ia merasa begitu direndahkan sebagai perempuan yang dianggap tak memiliki kelebihan.


Hp Mona kembali tampak panggilan dari Raditya, Mona menatap hp nya saja, tak ada satupun niat dalam hatinya untuk mengangkat panggilan itu.


Sampai kemudian panggilan Raditya berhenti dan berganti panggilan dari Diah.


Diah, temannya yang sama bekerja di kantor pertanahan dan juga masih ada hubungan keluarga dengan Mona meskipun tak begitu dekat.


Mona mengangkat panggilan Diah, khawatir Diah hendak menanyakan soal pekerjaan.


"Ya."


Jawab Mona.


"Mon, udah tidur?"


Tanya Diah.


"Baru mau."


Jawab Mona.


"Aku mau ke tempatmu, tapi ada adikku baru sampai sore tadi, kalau ditinggal malam-malam mana mau dia."


"Tidak apa, aku udah sehat kok, besok juga udah mulai kerja."


"Sori Mon, aku tidak sering jenguk, padahal kita satu gedung,"


"Ah sudahlah, aku tahu kamu sibuk,"


Kata Mona.


Diah tertawa kecil.


"Ya sibuk banget sampai kepalaku mau pecah karena target tahun ini naik dua kali lipat, ini gila sih."


Keluh Diah.


"Banyak lemburan."


Kata Mona sambil tersenyum.


"Ah Mon, kamu buka akun media sosialmu."


Ujar Diah.


"Aku barusan tidak sengaja lihat ada postingan yang tagg namamu, kok tulisannya agak gimana ya."


Tambah Diah pula.


"Akun media sosial yang mana?"


Tanya Mona.


Mona yang kemudian melihat foto hasil screenshot Diah tentu saja langsung matanya terbelalak tak percaya,


"Sebentar Di, aku matikan dulu telfonnya."


Kata Mona, yang lantas segera bangun dari posisinya berbaring, dan berpindah ke kursi meja kerjanya untuk membuka laptopnya.


Mona langsung menuju akun media sosial yang ditunjukkan oleh Diah, dan betapa kagetnya Mona melihat begitu banyak tulisan akun Raditya yang juga terkirim di akun miliknya.


[Aku sudah tahu semua kebohongan kalian]


[Bidadari murahan. Pura-pura baik dan berhati mulia, tapi merusak rumah tangga orang]


[Cari saja tuh berondong atau cowok lain dibayar dua ratus ribu juga mau, jangan suami perempuan lain diganggu]


[Dasar munafik]


[Rumah Tanggaku rusak karena pelakor]


Mona tangannya yang di sisi meja sampai bergetar, terlihat Diah komen di sana menyuruh untuk dihapus.


Mona dengan tangan gemetar menghapus namanya dari daftar tagg tulisan itu, lalu ia mengeluarkan Raditya dari pertemanan dan memblokirnya.


Mona mengepalkan tangannya karena marah dan gemas luar biasa,


Tari...


Jelas itu adalah kerjaan perempuan itu, sengaja memancing amarah, sengaja ingin mengajak ribut.


Mona sungguh telah hilang sama sekali simpatinya pada Tari.


Tak peduli lagi Mona atas nasib Tari sebagai sesama perempuan.


Mona berdiri dari duduknya,


"Pelakor katamu? Rumah Tanggamu hancur karena aku katamu?"


Geram Mona.


"Baiklah jika itu yang kamu mau perempuan jahat, aku kabulkan semuanya, dan nikmati semuanya nanti."


Mona yang kini benar-benar seperti gelap mata karena emosi akhirnya melangkah keluar kamar, dinyalakannya lampu ruangan apartemennya.


Ia membawa langkahnya menuju pintu unit apartemennya dan kemudian membukanya.


Raditya, laki-laki itu duduk setengah jongkok di dekat pintu, ia terlihat mendongakkan wajahnya ke arah Mona yang bersandar di bingkai pintu dengan tatapan mata tajam dan kedua tangan terlipat.


"Kau mau minta maaf lagi? Kalau mewakili perempuan gila itu, aku tak sudi."


Kata Mona jengkel.


Raditya berdiri,


"Hany, ada apa sebetulnya? Apa yang terjadi sebetulnya?"


Tanya Raditya.


"Kau tak tanya pada isterimu?"


Mona masuk ke dalam unit apartemennya dan diikuti oleh Raditya yang bajunya basah karena kehujanan sepanjang jalan.


Meskipun hujan sudah sedikit reda saat Raditya nekat meneruskan perjalanan menuju apartemen Mona, namun tetap saja nyatanya bajunya tak bisa menghindari basah kuyup.


Mona duduk di sofa, sementara Raditya tak berani duduk karena baju dan celananya basah, ia takut mengotori sofa di tempat Mona.


Mona juga seperti tak berniat menyuruh Raditya duduk.


"Aku sudah tanya pada Tari, dia bilang kamu tiba-tiba memukulnya padahal ia sudah berterimakasih karena kamu merawat dan mengantar Shanum pulang."


Cih...


Mendengar perkataan Raditya Mona tampak memalingkan wajahnya,


Sungguh perempuan yang pandai berdusta, sok jadi korban, manja, pengecut. Mona begitu kesal dan sebal.


"Lalu kamu percaya dan akan menuntutku minta maaf jauh-jauh datang ke sini?"


Tanya Mona dengan tatapan sinis.


Raditya menghela nafas, ia menggeleng,


"Aku hanya ingin bersikap adil."


Kata Raditya.


Mendengarnya Mona tertawa,


"Adil? Kau ingin berbuat adil?"


Raditya mengangguk.


"Kalau begitu serahkan diri pada polisi, kau dan isterimu berkomplot melakukan penipuan dan sekaligus juga perbuatan tidak menyenangkan, serta isterimu juga merusak nama baik."


**-------------**