MONA

MONA
47. Sudahi



"Kamu bukannya pernah bilang tidak ada saudaramu yang mau bantu?"


Tanya Raditya lemas menatap Tari dengan tatapan kecewa,


Pertanyaan Raditya itu jelas menjadi pemicu kemarahan kakak-kaka Tari lagi.


"Tidak bantu apanya, kita semua selalu bantu, memang tidak dalam jumlah banyak, tapi jelas untuk bertahan hidup harusnya kalian bisa kalau tidak untuk yang berlebihan."


Kata mereka kesal.


Raditya menghela nafas,


"Tapi nyatanya Tari juga pinjam bank harian dan bank mingguan banyak sekali Kak,"


Kata Raditya,


"Buat apa?"


Tanya Kakak Tari pada adiknya,


Tari yang kini jadi merasa terpojok tampak menangis,


"Kita sudah bantu masih pinjam sana sini buat apa Ri?"


Tanya mereka,


Tari sesenggukan.


Raditya menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya kini kepalanya sudah mau pecah, dadanya juga sesak bukan main.


Isterinya nyatanya banyak berbohong dan membuatnya jadi sebegini buruk di mata banyak orang, ia tak sanggup lagi.


"Jadi selama ini kamu membohongiku? Kamu selalu bilang harus hutang sana sini karena kita butuh untuk makan dan semua kebutuhan anak-anak tak bisa minta bantuan keluarga, jadi tak ada jalan lain selain pinjam sana sini."


Raditya pada Tari yang tampak hanya bisa menangis,


"Kenapa kamu melakukan semuanya Ri?"


Tanya Raditya.


"Kamu bohong ke aku tuh keterlaluan Ri, harusnya jangan begitu caranya, kamu keterlaluan Ri."


Kata Raditya.


Tari tak bisa membela diri dan senyolot sebelumnya.


Ia benar-benar tak bisa berkutik karena kakaknya juga kini terlihat geram.


Raditya tiba-tiba beringsut ke arah sang Ayah, ia sungkem pada Ayah mertuanya.


"Ayah, saya minta maaf jika selama jadi menantu banyak mengecewakan, tapi saya sungguh tidak tahu harus bagaimana sekarang, saya dengan ini minta ijin untuk menyerahkan kembali tanggungjawab saya atas Tari kepada Ayah, tidak apa saya dianggap tidak becus dan sebagainya, tapi saya rasa mungkin akan lebih baik jika kami sampai di sini saja, supaya tidak ada lagi masalah lain yang muncul."


Ujar Raditya.


"Tidak... Tidak mau! Aku tidak mau kita pisah!"


Tari menjerit histeris, Raditya menangis menyalami Ayah mertuanya.


"Biar masalah dengan Nyonya Mona akan saya selesaikan sendiri Ayah, saya akan tanggungjawab atas apa yang saya perbuat, saya tidak akan melibatkan keluarga Ayah. Saya hanya minta tolong titip Shanum dan Azka."


Kata Raditya pula.


Setelah mengatakan itu, Raditya pun pamit, tak ia pedulikan Tari yang berusaha menggapai kakinya untuk menahan Raditya keluar dari rumah orangtuanya.


Kakak Tari menahan Tari agar tak mengejar Raditya lagi,


"Aku harus mengejarnya! Aku harus mengejarnya!!!"


Kata Tari menjerit-jerit,


"Sadarlah! Dia sudah mentalakmu, semua adalah karena ulahmu sendiri!!!"


Bentak kakaknya.


Di dalam rumah, Shanum dan Azka menangis juga memanggil Ayahnya.


Mereka berdiri di balik kaca jendela ruang tengah di mana mereka dari sana bisa melihat Raditya pergi menjauh dan kemudian menghilang begitu sampai di ujung tikungan jalan.


Raditya sendiri berjalan sambil menangis, langkahnya begitu berat dan ia sungguh tak bisa lagi membayangkan masa depannya kelak.


Ia akan menemui Mona sekarang, jika perlu ia akan bersimpuh dan mencium kakinya.


Apa boleh dikata, nasi telah jadi bubur. Semua hal yang dilakukan tentu harus ada risiko yang di tanggung.


Jalan yang telah ia pilih nyatanya mengantarkannya pada satu vase di mana ia harus belajar banyak hal lagi.


Terutama belajar untuk lebih menghargai orang yang sungguh ingin berbuat baik pada dirinya.


Ya...


Terlalu tenggelam dalam kebiasaan memanfaatkan orang lain, lalu mereka dengan mudah dilupakan, akhirnya Tuhan mengantarkan Raditya bertemu perempuan seperti Mona yang membuatnya merasakan gerhana, dan dipaksa melihat ke dalam diri semua kesalahannya.


**----------------**