MONA

MONA
26. Dia Berbeda



Raditya memberikan seratus ribuan enam lembar ke penagih mingguan, tentu uang dari Mona yang ia ambil dari ATM sebelum pulang ke rumah.


"Nah, ini ada, ngapain ditunda-tunda Bang, hutang tuh dibayar,"


Si penagih tampak tersenyum puas, berkebalikan dengan Raditya yang kini tampak pasang muka masam.


"Kali lain kalau mau hutang, Bang Raditya harus tandatangan juga Bu, biar kitanya nagih Bang Raditya tidak bisa banyak alasan buat nunda."


Si penagih berkata pada Tari sebelum ia keluar dari rumah.


Tari menghela nafas, tak bisa menjawab apapun selain diam.


Azka di kamar terdengar merengek minta makan mie rebus, Tari segera bangkit dari duduknya, lalu tergopoh masuk ke dalam kamar.


"Ibu masak sebentar, jangan nangis."


Kata Tari.


"Kak Shanum mana? Kak Shanum mana?"


Azka merengek lagi, sekarang rengekannya adalah tentang Shanum.


Tari menoleh ke arah Raditya yang duduk di ruang depan, di mana posisinya lurus dengan kamar anak-anak.


Laki-laki itu tampak sibuk dengan hp nya, duduk sila sambil menyandar pada dinding.


"Bang, ke mana Shanum?"


Tanya Tari kemudian.


Raditya menengok ke aray Tari sekilas, lalu kembali lagi ke arah layar hp nya, ia sedang berbalas pesan dengan Wawan.


"Di tempat Mona."


Sahut Raditya kemudian seolah malas menjawab.


"Kenapa ditinggal?"


Tari menghampiri Raditya lagi, seketika melupakan janjinya akan masak mie untuk Azka.


"Shanum ingin di sana."


Ujar Raditya.


"Tidak mungkin, pasti Mona yang memaksa kan? Dengan imbalan pinjami kamu uang, tadi uang dari dia, ya kan?"


Tari memberondong, membuat Raditya kesal,


"Kamu bisa diam tidak! Setiap kali bicara selalu hanya bisa membuat masalah."


Marah Raditya.


"Tapi benar kan apa yang aku katakan? Benar kan!"


Kata Tari lagi.


"Sudah kubilang Shanum yang minta sendiri tetap tinggal bersama Mona!!"


Bentak Raditya.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa anak kecil lebih memilih bersama orang lain daripada pulang ke rumahnya sendiri."


"Mungkin saja karena di sana dia lebih diperhatikan, disayang, dipenuhi kebutuhannya!!"


Raditya kembali membentak.


Tari matanya kembali berkaca-kaca.


"Diamlah, aku pusing, aku sedang minta tolong Wawan mengurus perpanjangan SIM."


Kata Raditya.


"Dia juga memberimu uang untuk bikin SIM?"


Suara Tari tergetar.


"Ya."


Sahut Raditya.


"Kamu tidur bersamanya?"


Tanya Tari lagi, yang kali ini benar-benar membuat Raditya harus mendelik marah ke arahnya.


"Diam atau aku paksa kamu diam!!"


Kali ini suara Raditya sangat tinggi, bahkan sampai terdengar keluar rumah.


Tari terlihat kedua tangannya mengepal,


"Kamu bilang akan meninggalkannya..."


"Ya nanti setelah kerja."


"Bisa kau berjanji padaku?"


Tari begitu cerewet.


"Ya."


Sahut Raditya lagi.


"Shanum, berjanjilah dia juga harus dijauhkan dari Mona, aku tidak mau nanti Shanum membandingkan aku dengan Mona."


Kata Tari.


Raditya mengurut keningnya,


"Stop! Aku bilang stop!"


Kata Raditya sambil berdiri dan bersiap pergi lagi.


"Mau ke mana??"


Tanya Tari seolah ketakutan akan ditinggalkan.


"Ke rumah Wawan, kau sangat berisik!"


Jawab Raditya.


**-------------**


Pluk.


Wawan meletakan segelas kopi instan seduh di dekat Raditya yang terlihat memegangi hp nya dengan gelisah.


"Tari makin ke sini makin membuat kepalaku pusing."


Kata Raditya.


"Dia hanya takut kehilanganmu."


Jawab Wawan.


Raditya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ujung hp nya.


"Dia sepertinya cemburu pada Mona dalam segala hal, makanya dia jadi emosi terus."


Kata Raditya lagi.


"Ya jelas, untuk perempuan lain melihat sesama perempuan yang memiliki karir bagus, keuangan mereka bagus, kepercayaan mereka bagus, tentu sama seperti kita yang juga melihat laki-laki semacam itu."


Raditya lantas meraih gelas kopinya, lalu meneguknya.


"Ada kabar dari Mela?"


Tanya Raditya.


"Belum."


Jawab Wawan.


"Aku janji akan mengembalikan semua uangnya, nomornya aku blokir, pasti dia akan segera menghubungimu Wan kalau besok aku tak jadi transfer."


Kata Raditya.


"Lha katamu sudah dapat pinjaman dari Mona untuk bikin SIM, itu kan kamu tinggal perpanjangan, tak akan sampai sebanyak bikin baru uangnya."


"Ya tadi sudah terpotong untuk bayar tagihan Tari, ini belum tahu akan ada berapa lagi tagihan yang datang, belum di warkop."


"Tari hutang di mana-mana?"


Wawan geleng-geleng kepala.


"Ya ada hutang untuk makan, tapi ada juga yang dia ambil untuk kondangan, apalah, apalah, aku tidak tahu dia pakai uang untuk apa saja karena kadang tahu-tahu ada tagihan."


"Jiaaah, kau ini kepala keluarga apa bukan? Bisa-bisanya isteri mutusin semua sendiri."


Kata Wawan.


Raditya menghela nafas.


"Dia ibu dari anak-anakku, aku sering merasa gagal membahagiakannya, susah lah dijelaskan."


Ujar Raditya.


"Tapi di lain sisi kau juga main-main dengan perempuan, itu kan juga bisa membuat Tari makin tidak bahagia."


"Dia yang kasih aku ide, minta pulsa pada laki-laki dengan mengaku janda, sekalian aku ingin dia juga merasakan hal yang sama, bagaimana terlukanya aku saat tahu dia begitu di belakangku."


"Haiiish kalian benar-benar..."


Wawan sungguh tak habis pikir dengan pasangan itu.


"Jadi kapan kira-kira SIM siap?"


Tanya Raditya akhirnya.


"Besok sore lah."


Jawab Wawan.


"Baguslah, aku ingin segera bekerja lagi, punya penghasilan tetap, supaya tidak hanya mengandalkan upah jual obat herbal doang."


Kata Raditya.


"Oh ya Wan..."


Wawan yang sedang menyalakan rokoknya menatap Raditya.


"Ada apa?"


Tanya Wawan.


"Rumahku, kalau dijual itu berapa ya pasaran?"


Tanya Raditya.


"Rumahmu? Ngapain tanya pasaran rumahmu?"


"Itu, Tari minta aku setelah kerja meninggalkan Mona, dan menjauhkan Shanum dari Mona, kalau misal masih tinggal di sini ya percuma kan, sekalian misal dijual mungkin aku bisa kembalikan uang Mona juga yang sudah terlanjur aku pakai."


"Memangnya berapa banyak?"


Tanya Wawan.


Raditya terdiam sebentar, seperti mengingat-ingat, lalu...


"Sepertinya hampir dua belas jutaan Wan."


"Buseeet..."


Wawan membulatkan matanya.


"Buat apa saja kamu uang sebegitu banyak?"


Tanya Wawan.


"Ya lupa kan pinjamnya sedikit-sedikit, pas butuh pinjam, pas butuh pinjam, kalau dijumlahkan mungkin ya hampir dua belas jutaan, atau bahkan lebih."


"Gila ya kamu."


Wawan menggelengkan kepalanya.


"Ya itu kan ada beberapa yang untuk kembalikan uang perempuan yang aku kenal di media sosial juga, karena begitu mereka tahu aku ada isteri minta dikembalikan ya udah."


"Tapi berarti tinggal yang punya Mela?"


Tanya Wawan.


Raditya mengangguk.


"Iya dia ada sekitar dua setengah juta lagi."


Wawan menggelengkan kepalanya tak habis-habisnya.


"Gimana lagi, udah buntu Wan, lagipula mereka perempuan kesepian, ditemani aku mereka suka, lalu jadi gampang kasih ini itu ya aku kan memanfaatkan momen saja."


"Mona juga?"


Tanya Wawan.


Raditya terdiam, setiap kali mengingat Mona hati kecilnya tak bisa bohong jika Mona sebetulnya kasusnya berbeda.


Dia bukanlah perempuan kesepian yang dalam arti kesepian ingin laki-laki, tapi dia kesepian karena ingin ada anak dan memiliki keluarga yang seperti orang lain.


Mona juga memulai hubungan dengan Raditya karena obat herbal yang dijual Raditya untuk sakit yang diderita Mona.


Sakit yang membuat rumah tangganya mendapatkan gerhana.


**-----------------**