
Lima tahun kemudian,
"Mona... Mona..."
Diah memanggil Mona yang sedang berjalan ke mobilnya untuk pulang.
Kantor seperti biasa sudah sepi.
"Kirain kamu sudah pulang."
Kata Mona kaget.
Diah tersenyum,
"Iya disuruh nunggu dijemput, jadi aku ngobrol dulu lah sama Mbak Yuni tuh..."
Diah menunjuk pos di mana Mbak Yuni juga sedang menunggu jemputan suaminya.
"Mon, nitip buat adikku ya."
Kata Diah sambil memberikan paper bag pada Mona, paper bag berisi rice bowl kesukaan adik Diah yang memang ada di menu kantin kantor mereka.
"Kamu mau ke mana?"
Tanya Mona.
"Aku mau jalan makan malam sebentar lah, nanti pulang agak malam,"
"Ati-ati jangan aneh-aneh."
Kata Mona.
Diah tertawa.
"Enak saja, wong kita makan malam di rumah Bibi tunanganku kok,"
Ujar Diah.
Mona tersenyum sambil mantuk-mantuk.
"Oh iya, katanya kamu mau pindah ke rumah baru, kapan?"
Tanya Diah.
"Minggu depan, ini mau ketemu penjaga rumahnya dulu, kemarin minta dicarikan sama pemilik lamanya, katanya sih masih sodara, jadi aku iyain saja, soalnya kebetulan orangnya juga bilangnya tidak punya rumah."
Kata Mona.
"Oh baguslah, sekalian nolong."
Ujar Diah.
Mona mengangguk,
"Ya, kata kamu jangan berhenti jadi orang baik bukan? Kita harus tetap jadi orang baik sampai akhir bukan?"
Mona menatap Diah yang langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Ya udah, aku pergi dulu, biar tidak kemalaman pulangnya, nanti adikmu suruh ke tempatku saja, paling habis maghrib aku sudah pulang."
Ujar Mona.
Diah mengangguk.
Mona masuk ke dalam mobil, lalu pergi membawa mobilnya menjauhi kantor tempatnya bekerja.
Dalam perjalanan Mona memutar lagu-lagu lama dari Ari Lasso. Lagu yang paling Mona sukai adalah lagu milik Ari Lasso yang berjudul perbedaan.
Hanyut dalam lirik dan musik yang mengalun di dalam mobil, Mona akhirnya tanpa terasa sampai juga di rumah baru miliknya yang baru ia beli setelah lima tahun menabung.
Sebuah upaya yang cukup menguras energi tentu saja hingga akhirnya Mona mampu memiliki hunian yang sesuai dengan keinginannya.
Rumah dengan halaman luas, meski agak ke pinggiran kota.
Halaman luas baik di depan dan samping serta belakang yang nantinya bisa Mona jadikan taman dan tempat untuk ia belajar menanam bunga ataupun pohon buah yang ia suka.
Mona memasukkan mobilnya ke halaman rumah, pagar besi yang tampak di penuhi tumbuhan rambat serupa daun sirih menambah asri hunian baru milik Mona.
Seorang Ibu paruh baya tampak berjalan tergesa dari dalam rumah menyambut kedatangan Mona.
Ia adalah pemilik lama rumah tersebut, rumah yang konon ia desain sendiri karena dulu memang impiannya adalah hidup menua di sana hingga menghembuskan nafas terakhirnya bersama sang suami.
Tapi...
Tampaknya memang tak selamanya mimpi akan berjalan sama persis. Jika ia memang bisa menjadikan mimpinya memiliki rumah seperti yang ia inginkan itu tercapai, tapi nyatanya ia tak bisa hidup di sana terlalu lama.
Suaminya meninggal lebih dulu, dan kini semua anaknya tinggal di Bali.
Si Ibu diminta ikut mereka pindah ke Bali dan akhirnya terpaksa harus menjual rumah kesayangannya itu pada orang lain.
Mona turun dari mobil dan tampak menyunggingkan senyuman pada si Ibu pemilik lama rumahnya.
Sapa Mona ramah, Ibu itupun langsung memeluk Mona dan cipika cipiki.
"Untung sedang tidak macet Bu, jadi tidak sampai kesorean."
Kata Mona begitu pelukan mereka terlepas.
Si Ibu tersenyum sambil mantuk-mantuk.
"Tidak apa-apa Nyonya Mona, tadi kalau Nyonya baru sampai di sini Maghrib juga saya tetap akan menunggu kok."
Kata Si Ibu pemilik lama rumah baik sekali, membuat Mona tersenyum.
Mona lantas celingak-celinguk mencari sosok yang katanya akan jadi penjaga rumahnya,
"Sudah datang belum Bu orangnya?"
Tanya Mona.
"Sudah Nyonya, lagi menata kamarnya di belakang, maklum selama ini kan dia tidak ada tempat tinggal, rumah satu-satunya dia jual untuk uangnya dikasihkan ke mantan mertuanya supaya bisa biayai anak-anaknya."
Kata Si Ibu.
Mona mantuk-mantuk,
"Sudah cerai?"
Tanya Mona pada si Ibu, keduanya berjalan beriringan menuju bangunan rumah.
"Iya, cerai."
Jawab si ibu.
Mona menghela nafas,
"Ya jodohnya mungkin hanya sebentar, saya juga cerai dulu Bu, karena tidak punya anak,"
Kata Mona terkekeh.
Ibu mengelus punggung Mona.
"Yang sabar Nyonya, nanti semoga ada jodoh yang baik dan bisa dapat keturunan."
Kata si Ibu.
Mona hanya tersenyum saja,
Jodoh dan keturunan? Mungkinkah? Batin Mona.
Hingga kemudian seseorang tampak lewat di halaman samping rumah yang bisa dilihat dari jendela kaca besar rumah itu, Mona sejenak terkejut,
"Dia..."
Mona menatap orang yang lewat dan kini menuju masuk ke dalam ruangan rumah lewat pintu samping sebelah kaca jendela yang berukuran sebesar dinding.
"Dia saudara saya Nyonya, yang akan jadi penjaga rumah ini. Namanya Radit, semoga dia bisa bekerja dengan baik supaya bisa ikut tinggal dan ada pekerjaan."
Kata Si Ibu.
Mona dan Radit saling berpandangan.
Raditya yang terlihat lusuh, kurus dan menyedihkan itu sama halnya dengan Mona tampak terkejut.
"Ah... Maaf, saya... Saya bisa mengundurkan diri saja jika tidak diperkenankan..."
Raditya terlihat gugup setengah mati,
"Lho kenapa Dit?"
Si Ibu pemilik lama rumah jadi panik,
Mona yang tahu Raditya pasti tak enak padanya akhirnya memanggil Radit.
"Bang Radit, tetaplah di sini, tak apa,"
Kata Mona.
"Tapi... Tapi..."
Raditya terlihat masih gugup,
Mona berusaha tersenyum, ia lalu mendekati Raditya dan tanpa disangka oleh Raditya tampak Mona mengulurkan tangannya.
"Kita bisa mulai dari awal dengan cara yang lebih baik. Senang bertemu denganmu lagi Tuan Raditya."
Kata Mona.
T A M A T.