Miza & Arga

Miza & Arga
Melahirkan dan Duka!



...◌⑅●♡⋆♡ Miza & Arga ♡⋆♡●⑅◌...


Saat masih berbicara dengan enam mata, tiba-tiba suara langkah kaki yang sangat kencang terdengar hingga Taman belakang.


"Kayaknya ada yang mau kesini?" Perasaan dari Dion kambuh kembali.


"Kau benar. Siapa dia?" Deon semakin menajamkan tatapanya dan tertampaklah seorang wanita yang sedang berlari dengan ngos-ngosan.


"Za, lo ngapain lari-lari an?" Tanya Arga saat tau jika orang yang berlari itu ternyata Miza.


Miza mengatur nafas sebentar dan berkata, "Kak, Ga, Ka Erlan-"


"Elan kenapa?" Tanya Dion, langsung dengan panik saat mendengar kabar tentang istrinya.


"Ka Erlan kayaknya mau lahiran. Dia ada di Balkon RS. GC! Ada Ka Grec juga disitu." Setelah mendengar perkataan dari Miza, Dion langsung berlari dan menaiki mobilnya lalu pergi duluan.


Ia takut akan terjadi sesuatu dengan Erlan. dan ia juga tidak mau jika Erlan melahirkan dan ia tidak menemaninya.


Lalu setelah berselang lama Deon, Miza dan Arga langsung menyusul ke RS dengan menggunakan Mobil milik Deon.


Setibanya di Balkon, disana sudah ramai dengan adanya Mami, Papinya serta kedua Mertuanya dan Dokter kandunganya.


Dion mulai berkeringat akibat menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Lalu ia sudah melihat Erlan yang sedang melahirkan dengan menahan rasa sakitnya.


"Yen, Kamu masuk sekarang! Erlan sedang melahirkan, dia membutuhkan mu!" Perintah Mami Amelia dengan cepat.


Tanpa basa-basi, Dion langsung memasukinya dan memegang kuat tangan Erlan. Dion sangat ketakutan saat melihat Erlan yang sudah pucat. Terdapat darah yang sudah membasahi kain disana.


Tak punya banyak kesempatan jika Erlan harus dibawa ke ruangan karena jika terlalu lama akan mengakibatkan sesuatu yang tak di inginkan.


Jadi lebih baik melahirkanya di Balkon saja dengan di alasi Kain lembut. Kini suasana menjadi sangat tegang ditambah lagi wajah Erlan sangat pucat.


Dion sangat takut jika hal yang tak di inginkanya harus terjadi. Karena jika seorang wanita sedang melahirkan, ia harus mempertaruhkan nyawa.


"AAAAAA ....... ARGGGHH ... ARGGHH .."


"Tarik nafas, lalu hempaskan dengan pelan-pelan. Tarik nafas, lalu hempaskan. Lakukan seperti itu berulang kali!" Instruksi dari Dokter dilakukan oleh Erlan.


Dengan memegang kuat tangan Dion. Bahkan Dion sendiri tampak menahan sakitnya pegangan yang keras dari Erlan. Wajahnya semakin memerah akibat sakitnya.


Tiba-tiba ......


"Owe .. Owe .. Owe .." Akhirnya anak pertama dari Erlan keluar setelah beberapa menit.


Dan tiba-tiba erangan kembali terjadi setelah 15 menit berlalu. Dion kembali memegang tangan Erlan sambil mengatakan hal-hal yang positive dan impian mereka berdua saat Erlan sudah melahirkan.


"Owe .. Owe .. Owe ..." Akhirnya anak kedua dari Dion dan Erlan pun lahir ke dunia.


Kedua Baby Princes itu dibawa ke ruangan Baby. Sedangkan Erlan tiba-tiba menutup matanya.


"Lan, Lan, jangan tutup matanya Lan. Dok, istri saya, Dok. Tolong Dok!" Dion semakin panik dengan keadaan yang dialami Erlan.


Tampak sekali jika Dion sudah acak-acakan. Bahkan rambut sudah berantakan akibat tarikan dari Erlan. Bajunya sudah kucel dan berantakan.


Pokonya seperti orang yang sudah ditinggalkan pergi untuk selamanya lah.


Perawatan demi perawatan dilakukan oleh Dokter. Namun naasnya pasien yang habis melahirkan itu tidak bisa diselamatkan karena ...


Dokter pun keluar dengan satu perawatnya. Saat melihat itu, Dion langsung berdiri dengan berbagai pertanyaan kepada Dokter.


"Dok, istri sata baik-baik saja 'kan, Dok?"


"Apa saya sudah bisa melihatnya, Dok?"


"Dok, jawab Dok!"


Mami Amelia yang melihatnya hanya bisa menangis dipelukan Papi Aditya. Sementara Melana langsung menangis histeris dengan sejadi-jadinya di dekapan Aslan.


"Maaf Pak, Tuhan telah berkehendak lain. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi tetap saja tidak bisa. Saya harap, Bapak bisa mengikhlaskan kepergia istri bapak, supaya istri Bapak bisa tenang di sisi Tuhan."


Setelah mendengarkan perkataan dari Dokter, Dion langsung membuka pintu Ruangan rawat milik Istrinya ~ Erlana. Ia memeluk istrinya dengan pelukan yang seakan tak akan pernah meninggalkanya.


"Kalau begitu, saya ijin pergi." Dokter dan perawat lainya pun pergi dengan keadaan yang ikut berduka cita.


Sontak semua orang pun menangis dengan sejadi-jadinya. Melana sudah tak sanggup lagi menahan air matanya saat mendengar Dokter berbicara.


Grecila menangis kencang begitu juga dengan Miza. Kepergian Sang Kakak dan kepergia Sang adik sangat membekas.


Baru saja mereka kembali bersama tetapi Erlan sudah harus pergi meninggalkan mereka. Grecila pun memeluk erat pinggang Deon dengan kencang seakan ia tidak mau kehilangan Erlan.


Bagaimana nantinya saat sang anak mencari Maminya?


Apalagi mereka sudah ditinggalkan begitu cepat. Bahkan mereka belum menghabiskan waktu semenit saja. Belum saling menatap, melihat, tapi sudah harus berpisah dengan begitu cepat.


Bagaimana nantinya jika sang anak menanyakan maminya?


Bagaimana nantinya saat mereka melihat teman mereka sedang berbagi kasih sayang kepada sang mamah?


Sudah pastinya mereka akan merasa sedih dan mulai menanyakan berbagai hal kepada Dion nantinya.


...**Tuhan Sudah berkehendak lain!!!...


...Kita bahkan tidak tau kapan kita akan mati!...


...Jadi kita harus tetap siap saat waktunya kita sudah di panggil dengan Tuhan Yang Maha Esa!...


...See you...


...Jangan bersedih!...


...Kita harus mengikhlaskanya**...