
Suasana kamar yang temaram. Dengan sinar lampu tidur saja. Bahkan, Suasana yang awalnya sangat terlihat romantis dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Namun, Saat ini hanya tersisa beberapa kelopak bunga mawar. Yang masih ada di atas kasur empuk sana.
Enjotan dan juga gerakan tubuh seorang pria kekar. Namun berwajah tampan itu. Sedang begitu konsentrasi nya. Membuat gadis yang ia cintai mulai mengoceh dengan suara ******* halusnya. Pada akhirnya apa yang ia tahan. Sudah tak bisa di tunda lagi. Karena istrinya itu malah nampak menggoda iman nya sendiri.
"Apa kakak tak bisa pelan, Barang sedikit saja?. " Zeera masih saja bisa mengajukan protes nya.
"Akh... "
"Jangan banyak protes, Jika kamu masih bisa menikmati nya, Sayang. " Jawab Arsen dengan suara beratnya. Menahan gejolak hasrat yang mulai membuncah nikmat. Setelah pemanasan yang cukup pelik di antara keduanya.
Bahkan, Untuk sekedar berciuman saja. Arsen perlu memakai tenaga ekstra nya. Agar ia bisa melancarkan aksi nya itu. Dan saat ini, Ia bisa menikmati indahnya bertempur penuh peluh dengan, Sosok gadis cantik yang selama ini selalu menutupi rambut indahnya dengan hijab anggun nya. Namun, Saat ini malah nampak begitu semakin cantik. Saat tubuhnya di kungkungan tubuh kekar suaminya.
Dengan peluh yang mulai membasahi ujung pelipisnya. Dan juga bagian dada seksinya. Namun, Dua benjolan padat berisi itu. Nampak di pijat dan di remas oleh suaminya. Sehingga, Zeera hanya bisa membusungkan badannya bak busur panah yang siap digunakan.
"Akhh... Arsen" Zeera tak sadar telah menyebut nama suaminya begitu saja. Saat ia merasakan betapa gilanya malam ini. Padahal, Ini pertama kalinya ia merasakan indahnya surga dunia.
"Come on, Sayang!. Kau begitu seksi saat seperti ini. " Racau Arsen yang tak mampu lagi mengusai dirinya.
Rintihan Zeera benar-benar tak tertolong lagi. Membuat Arsen semakin menggila akan pesona istri nya saat di atas ranjang seperti ini.
Permulaan yang banyak drama. Nyatanya tak begitu membosankan. Saat sudah masuk pada area inti permainan nya. Bahkan, Arsen begitu memuja kesempurnaan istri nya itu. Dialah pria pertama yang telah mengambil kesucian istrinya. Dan Arsen begitu bangga pada istrinya. Sejak dulu sampai sekarang. Zeera sangat berprinsip. Sehingga ia mampu menjaga kesucian nya. Hanya untuk pria yang telah sah menikahinya.
Erangan panjang keduanya. Mengakhiri permainan awal ini dengan baik. Dan juga begitu sangat memuaskan. Sampai Arsen mulai menimbun benihnya. Agar bisa tumbuh subur di dalam ladang yang semestinya untuk bercocok tanam.
Tugas mereka setelah ini. Hanya memberikan pupuk dan perawatan yang baik. Agar benih unggul itu bisa terus berkembang biak dengan sempurna.
"Ouwh... Akhh... "
"I love you, Azeera Bagaskara. " Ungkap Arsen saat permainan ronde pertamanya telah usai.
"Ha... love you more, Arsen Dharmendra. " Balas Zeera dengan nafas yang tersengal-sengal.
Arsen ambruk di samping istrinya, Dan menoleh lalu menarik tubuh Zeera yang masih polos. Masuk kedalam dekapannya. Hingga rasa nyaman, Meskipun masih tanpa sehelai benang pun.
"Aku lelah, Sayang. " Lirih Zeera yang tanpa rasa canggung sama sekali.
"Aku tahu, Sayang. " Sahut Arsen dengan menarik sudut bibir nya. Lalu mengecup pucuk kepala istrinya sedikit lama.
"Tidurlah!. Pisangnya kembali tegang!. "