
Ketika di kediaman Naures dan Yuni si kembar sedang beragumen. Dan sama sama tak mau mengalah. Sementara di kediaman Al dan Umi She. Saat ini mereka sedang bersiap siap untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.
"Abi,Umi, Fatih duluan ya!. " Ujar Fatih yang langsung berpamitan pada kedua orang tuanya.
Fatih pun menyalami punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Lalu, Ia pun langsung beranjak pergi menuju arah mobilnya.
"Fatih... "
Pria tampan yang jauh terlihat kalem dan wajahnya yang selalu teduh. Dengan aura berbeda itu, Langsung menoleh pada kedua orang tuanya kembali. Ketika ia di panggil oleh Abinya.
"Iya, Bi. Ada apa?. " Tanyanya dengan suara pelan nya.
"Kalau merasa sudah cocok dengan Ara, Lebih baik bicarakan hal ini baik-baik dengan Mommy dan Daddy nya!. Abi akan membantu bicara dengan mereka. " Ujar Al dengan nada tegasnya.
Fatih hanya diam sambil manatap kedua orang tuanya secara bergantian. Lalu menghela nafasnya pelan. Sedetik kemudian, Fatih hanya tersenyum tipis.
"Jangan buru buru, Bi!. Fatih tidak tahu Ara bagaimana?. Lagian kami itu sepupuan, Jadi...
" Kalian bisa menikah meskipun sepupuan! . " Potong Al dengan melempar senyum smirk nya.
Sedangan kan Uminya hanya diam, Sambil mengukir senyum nya. Dan itu bisa nampak jelas oleh Fatih. Fatih bukan tidak tahu seluk beluk keluarga nya. Namun, Sebagai seorang pria Fatih pun tahu harus bagaimana. Namun, Ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat. Untuk menjelaskan semuanya pada keluarga besarnya. Apalagi, Ara yang masih kuliah saat ini.
"Nanti kita bicarakan lagi, Bi. " Jawab Fatih sambil tersenyum. Dan langsung membuka pintu mobilnya.
Pasangan suami istri itu hanya mengulum senyum nya saja. Sambil terus menatap mobil putra sulung nya hilang menjauh dari pandangan mereka.
******
Sosok pria muda dengan setelan jas kerjanya. Begitu nampak rapi dan begitu berwibawa. Langkahnya yang lebar mulai menuruni anak tangga.
"Arga sibuk Ma, Ada meeting penting pagi ini. Jadi, Maaf Arga tidak sempat sarapan pagi ini. " Jawab Arga tanpa menoleh sedikitpun pada Mamanya.
Julia yang mendengar itu, Langsung maju dan menghampiri putranya. Wanita paruh baya yang selalu berpenampilan glamour dan mewah tersebut. Tak pernah menyerah untuk membujuk putranya. Dan entah apa yang saat ini tengah ia rencana kan lagi. Agar misinya berjalan sesuai rencananya.
"Mama harap kamu bisa bicara kembali dengan kedua orang tuanya, Zeera!. Karena ini adalah satu satunya jalan kita, Untuk bisa memperluas bisnis keluarga kita, Arga!. " Ucap nya dengan nada perintah nya.
"Oh, Jadi mama pikir pernikahan itu hanya main main saja!. " Arga menggeleng kan kepalanya. "Bagi Arga pernikahan itu hal yang sakral, Ma. Bukan hanya bisnis" Jawab Arga dengan tegas.
"ARGA... " Sentak Julia mulai kembali emosi.
"Stop Ma!. Tolong jangan paksa Arga lagi!. Arga tidak ingin memaksa Zeera untuk menerima Arga menjadi suaminya. Lagian, Zeera juga masih mencintai kak Arsen. " Arga masih saja kekeh dengan keputusan nya saat ini. Ia juga tak goyah akan pendiriannya sendiri.
Wajah Julia langsung memerah padam. Ia juga mengepalkan kedua tangannya erat. Nyatanya bicara baik baik pun dengan Arga, Tak mengubah apapun . Malah putranya bersikap semakin dingin padanya.
"Arsen sudah mati, Dan tak mungkin orang yang sudah tiada akan kembali lagi. " Sentak Julia dengan nada meremehkan nya.
Arga yang akan beranjak pergi, Langsung menghentikan langkahnya kembali. "Arga yakin, Jika kak Arsen masih hidup. Dan Arsen mohon kembalikan juga Papa kerumah ini!. "
Julia menegang sesaat akan ucapan putranya. Ia tak pernah menyangka , Jika Arga akan membahas masalah ini di depan nya. Namun, Julia berusaha untuk tetap santai saja.
"Apa maksud ucapan kamu, Arga?. " Pertanyaan Julia malah membuat Arga menarik sudut bibir nya. Ia benar benar muak dengan situasi seperti ini. Mamanya juga tak pernah ingin berubah sedikit pun.
"Jangan pura pura tidak paham, Ma. Mama pikir Arga tidak tahu, Apa yang sudah mama perbuat pada Papa. " Arga benar benar jengah saat ini.
Deg...