
Prang!
Pyarrr!
Suara pas bunga dan berbagai furnitur telah Julia lempar. Sehingga ruangan kerja nya, Saat ini sudah bagaikan kapal pecah. Nyaris tak berbentuk lagi. Ia hanya bisa melampiaskan semuanya pada benda benda tak bersalah itu saja.
Sementara sekretaris nya hanya bisa berdiri dengan sesekali memejamkan matanya. Saat atasannya mengamuk dan memecahkan semua barang barang di dalam ruangan nya tersebut. Bahkan, Sekretaris nya tak ada niat untuk mencegahnya sama sekali.
"Brengsek!. " Umpat Julia dengan sangat emosinya. Bahkan, Penampilan nya saat ini sudah tak rapi dan juga elegan lagi. Tak seperti sebelumnya nya yang selalu tampil anggun dan juga glamour dengan barang barang branded nya itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?. " Bentak Julia sambil menjambak rambutnya sendiri. Saking bingung dan pening nya dia.
Tiba tiba otaknya tak bekerja dengan baik, Setelah ia bertemu dengan Arsen beberapa menit yang lalu. Bahkan, Saat ini Julia malah nampak seperti orang yang stres berat. Nyalinya habis begitu saja. Seakan telah di serap oleh aura Arsen.
"Nyonya, Anda harus tenang!. Agar kita bisa pikirkan lagi cara untuk menyingkir tuan Arsen!. " Ujar sekretaris nya membujuk Julia kembali, Agar wanita itu tidak hanya bisa marah marah dan merusak semua barang barangnya hingga hancur berantakan seperti ini.
"Cari anak itu!. Kenapa dia malah tidak datang di saat seperti ini?. " Sentak Julia yang masih mencari keberadaan putranya.
Dimana Arga, Malah tak menampakkan wajahnya. Saat Julia telah mempersiapkan semuanya. Hanya untuk membuat putranya menduduki tahta tertinggi di perusahaan tersebut. Namun, Nyatanya Arga malah tak menurut padanya. Dan berselisih paham sampai sampai ia enggan untuk datang di saat penting seperti tadi.
Di gantikan dengan pria yang tak di harapkan kedatangan nya sama sekali. Sampai membuat heboh ruangan rapat segala. Pada akhirnya mau tidak mau, Julia pun langsung mengambil sikap. Agar namanya tidak buruk di depan para petinggi perusahaan. Meskipun hanya sekedar pencitraan saja. Hingga darah Julia mendidih dibuatnya.
"Sepertinya, putra anda tidak sepaham dengan mamanya. "
Deg...
Julia dan sekretaris nya langsung menoleh. Saat pintu ruangan nya pun sudah terbuka. Menampilkan wajah sempurna Arsen. Yang malah melempar senyum smriknya. Ketika pria itu melihat suasana ruangan kerja Julia. Sudah tak seperti ruangan kerja lagi. Malah lebih mirip dengan gudang yang sudah lama tak di buka lagi.
"Wah, Apa disini baru saja terjadi gempa bumi lokal, Mam? " Tanya Arsen dengan nada sindiran nya.
Julia sibuk merapikan penampilan nya. Begitu pula dengan sekretaris nya. Yang ikut membantu atasannya itu untuk merapikan barang barang di meja kerjanya. Yang mana sudah sangat berantakan.
"Arsen, Mama hanya beres beres ruangan saja. Lagian, Sebentar lagi ruangan ini akan menjadi milik kamu, Sayang. " Jawab Julia masih saja ingin memainkan perannya. Membuat Joe jengah sendiri.
"Abang, Jangan begitu! Ini hak kamu nak. Tolong jangan buat Mama merasa sangat bersalah dan di pandang sebagai ibu tiri yang jahat padamu. " Ucap Julia dengan nada seolah ia ibu yang baik selama ini.
Arsen hanya menarik sudut bibir nya saja. Dan memilih duduk di sofa yang nampak masih layak untuk ia duduki saat ini. Namun, Joe dengan sigap langsung membersihkan sedikit pecahan kaca dan juga buku yang terbang di atas sofa tersebut. Dengan menggunakan tangan kekarnya itu.
Joe selalu memastikan tuannya bisa nyaman. Dan tak ada satu benda sekecil apapun yang bisa melukainya. Joe memang asisten yang cekatan dan sangat pengertian sekali. Sehingga tak heran, Jika Arsen sangat mempercayai nya selama ini.
"Biarkan Arga yang menduduki posisi itu!. " Ujar Arsen dengan nada santainya.
Mendengar itu, Julia pun langsung merapikan tatanan rambutnya kembali. Dan juga merapikan bajunya lagi. Lalu ia berjalan mendekati Arsen kearah sofa.
"Maksudnya apa nak? . Jangan buat Mama bingung begini?. " Tanya Julia dengan sangat antusias sekali.
"Posisi direktur akan tetap di duduki oleh Arga. Dan Arsen hanya ingin menjadi wakil nya saja. " Tegas Arsen dengan nada santainya.
Mata Julai langsung berbinar, Dan ia pun tersenyum puas. Pada akhirnya apa yang ia cita cita kan , Dan juga ia impi impikan selama ini, Akan segera terwujud. "
"Bang, Adik kamu tidak layak untuk menduduki jabatan ini. Kenapa kamu malah membebani nya dengan tanggung jawab sebesar ini?. Abanglah yang jauh lebih pantas daripada adikmu nak. " Ujar Julia masih saja sok baik. Dan pura pura menolaknya. Padahal, Di dalam hatinya. Arsen yakin jika Julia sedang bersorak riang.
Arsen kembali bangkit dari sofanya.Dan menarik sudut bibir nya. Pria itu masih saja bisa bersikap santai. Meskipun darahnya sudah mendidih sejak tadi. Tapi, Pembawaan pria itu sangat tak tertebak sama sekali. Bahkan, Gerak geriknya sangat tak bisa dibaca sedikit pun.
"Malam ini, Arsen akan pulang kerumah. Arsen harap kita bisa makan malam bersama!. " Ujar Arsen sambil tersenyum pada wanita licik itu. Yang merupakan ibu tirinya sendiri.
"Baiklah, Mama akan bilang dengan para pelayan. Untuk memasak makanan yang enak enak malam ini!. " Sahut Julia dengan senyum di bibir palsunya itu.
Arsen hanya diam, Dan menarik sudut bibir nya membentuk sebuah senyuman penuh arti nya.
"Bang, Kamu juga harus temui papa kamu dulu di rumah!. Dia pasti sangat merindukan kamu. " Seru Julia saat Arsen baru sampai di depan pintu ruangan, Untuk menuju kearah luar.
"Nanti malam pasti Arsen akan bertemu dengan Papa. " Jawab Arsen dengan tatapan penuh amarahnya. Namun, Julia tidak bisa melihat nya. Sebab, Posisi Arsen membelakangi nya saat ini.