
Setelah sarapan benar saja, Arsen langsung mengantarkan Zeera untuk pulang ke Apartemen nya sendiri. Pria itu bukan tidak mau berlama lama dengan Zeera. Namun, Ia juga harus mencegah hal hal yang tidak di inginkan olehnya. Sebab, Arsen tahu jika keluarga Zeera adalah agamis sekali. Dan tidak mungkin ia membuat Zeera tersesat karena ulahnya.
Bahkan, Arsen tahu juga seluk beluk siapa Umi She dlu. Jauh sebelum ia mengenal Abi nya Zeera. Sebagai pria normal pada umumnya. Arsen hanya ingin menjaga Zeera sampai waktunya nanti tiba. Dimana ia bisa melamar dan menikahi Zeera secara hukum dan agama. Meskipun, Arsen bukanlah pria baik baik. Karena , Ia juga sadar jika dirinya banyak dosa dan jauh dari kata baik. Namun, Setidaknya ia tidak mau membuat orang yang ia cintai ikutan sesat bersamanya juga.
"Mungkin untuk beberapa bulan kedepan kita akan jarang bertemu. Kuliah nya dengan benar disini!. Ingat meskipun aku tidak ada disini, Tapi jangan harap kau bisa bebas. " Seru Arsen dengan nada ancaman nya.
"Ck,,, Bisa bisa nya dia mengancamku begitu. " Guman Zeera sambil mendengus kesal.
"Apa kau sedang mengumpatku?. " Arsen menatap tajam kearah Zeera. Dimana gadis itu saat ini memang sedang duduk di samping nya. Keduanya masih berada di dalam mobil milik Arsen. Dan mereka juga ada di basemen gedung Apartemen Zeera.
"Tidak... aku tidak mengumpat, Kakak saja yang salah dengar. " Sahut Zeera mengelak.
"Denger aja telinganya. " Batin Zeera dalam hatinya.
Arsen masih saja enggan untuk berpaling, Hingga membuat asisten Joe di dalam mobil lain. Tepatnya di belakang mobilnya. Hanya bisa menunggu atasannya bersama anggotanya yang lain.
Hari ini mereka juga akan kembali ke Jakarta. Dan harus menyelesaikan semua permasalahan disana. Termasuk memberi perhitungan pada ibu Tiri Arsen. Yang sudah berani membuat Papanya jadi orang gila seperti itu.
Demi menguasai semua aset yang Arsen miliki. Sebab, semua aset yang di miliki oleh Tuan Calvin adalah milik Mamanya Arsen. Sang papa hanya meneruskan bisnis istri nya, Dan menggabungkan perusahaan kecil nya menjadi satu perusahaan yang sama pada masa itu.
"Sana buruan masuk!. Karena aku masih banyak urusan setelah ini. " Arsen berucap sambil membuka pintu mobilnya.
Zeera pun hanya bisa menurut sambil merengut. Bahkan, Gadis itu menutup pintu mobilnya dengan sedikit kasar. Lalu tanpa banyak bicara Zeera pun segera beranjak pergi dari depan mobil Arsen.
Namun, Arsen menurunkan kaca mobilnya lagi. Dan memanggil gadis itu.
"Hei... " serunya sambil melambaikan jari kelingking nya. Meminta Zeera untuk kembali menghampiri nya.
"Apa kau menyuruhku membawa kopermu kembali ke Villa?. " Sahut Arsen dengan nada penuh sindiran nya.
Lagi lagi Zeera menggerutu kesal. Namun, Gadis itu tak urung kembali melangkah menuju bagasi mobil Arsen. Dan mengambil kopernya di sana.
"Dasar pria tidak peka, Bisa bisa nya dia tidak turun dari mobilnya. Atau hanya sekedar basa basi saja membantu ku membawa koper ini. " Gerutu Zeera sambil menghentak hentakan sepatu nya di lantai basemen tersebut.
Sedangkan, Di dalam mobil lain. Joe sedang mengulum senyumnya sendiri. Ketika melihat mulut Zeera komat kamit mengomel sendiri. Yang bisa Joe tebak, Jika saat ini Zeera pasti sedang mengumpat tuannya itu. Karena, Hanya Zeera satu satunya orang yang punya keberanian mencela tuannya.
"Kalian tahu Jika cinta itu rumit?. " Tanya Joe pada anak buahnya.
"Tapi, Nona Zeera tidak serumit itu, Tuan. " Sahut salah satu anak buah Joe. Mereka juga sambil terus memperhatikan Zeera dari dalam mobilnya.
"Nona Zeera memang tidak rumit, Tapi tuan kita yang selalu membuat rumit. " Seru Joe yang di sambut gelak tawa oleh anak buahnya yang lain.
"Joe... Kau berani bergosip di belakang ku?. Sudah bosan melihat matahari rupanya kau. "
Joe langsung gelagapan mendengar suara Arsen dari earphone yang ia pakai. Dan bahkan, Tak hanya Joe yang mendengar nya, Semua anggotanya yang ada di dalam mobil itu pun sama sama mendengar nya. Hingga Joe mengumpat kasar dalam hatinya.
"Habislah aku. " Batin Joe dalam hatinya sambil memejamkan matanya.
"Setelah ini kalian harus masuk ruangan intimidasi!. " Seru Arsen dengan nada perintah nya.
"Siap Tuan. " Jawab mereka serentak, Meskipun hanya lewat earphone saja. Bisa bisa nya mereka melupakan benda canggih itu. Di saat sedang asyik menggosip tuannya. Hingga pada akhirnya mereka kena semua.
"Shitt... " Umpat Joe mulai ketar ketir, Begitu juga dengan lima anak buahnya.