Marry Me

Marry Me
Rencana



"Nyonya... " Sekretaris nya datang menghampiri Julia. Di saat Julia ingin mengejar langkah putranya.


"Ada apa?. " Julia bertanya dengan nada masih dengan penuh kekesalannya.


Sekretaris nya pun langsung memberikan tabletnya. Dan Julia segera mengambil alih benda canggih itu dari tangan sang sekretaris nya. Namun, Mata Julia membelalak dengan tatapan tak percayanya. Ketika ia melihat hal yang baginya mustahil. Tapi ini benar benar nyatanya baginya.


"Tidak... tidak mungkin. Ini tidak mungkin. " Serunya sambil menggeleng kan kepalanya. Ia juga sampai melemparkan benda pipih itu asal. Hingga wanita paruh baya yang telah menjadi sekretaris nya selama ini, Hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja. Sebab, Ia tidak bisa marah ataupun menegur atasanya itu.


"Nyonya, Anda tenang dulu!. Mungkin ini hanya mirip saja. " Ujar sang sekretaris nya berusaha menenangkan atasannya tersebut.


"Bagaimana, Jika itu adalah dia?. Bagaimana?.Apa yang harus aku lakukan?. " Tanya Julia dengan bibir bergetarnya.


"Nyonya, Kalau tuan Arsen masih hidup, Anda masih bisa membujuk nya!. Dan saya ada ide untuk itu. " Sekretaris nya pun mulai tersenyum menghibur.


"Apa kau sudah punya rencana?. " Anggukan kepala sang sekretaris nya, Membuat Julia ikut mengulas senyum liciknya.


Dan apalagi ketika sang sekretaris nya, Mulai membisikkan sesuatu padanya. Wanita paruh baya itu pun semakin lega. Senyum penuh tipuan dan kelicikan nya terbit secara bersamaan.


Julia pun tertawa puas. Dan menepuk bahu sekretaris nya. "Kau memang bisa di andalkan. " Ujar nya memuji sekretaris nya tersebut. "Mulai bulan depan, Gajimu akan aku naikkan. " Sambungnya lagi sambil tersenyum.


"Terimakasih, Nyonya. Saya akan selalu setia pada anda. " Jawab sekretaris nya dengan sangat tulus.


Mereka berdua ini memang sangat cocok sekali. Keduanya adalah wanita wanita licik. Yang hanya mementingkan diri sendiri, Tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Dan tak pernah menerima belas kasih sedikitpun. Bagi mereka apapun yang menjadi penghalang jalan nya. Maka, Sekali pun harus membunuh akan siap mereka lakukan.


Dimata dan pikiran mereka, Hanyalah uang, uang dan uang. Bagi mereka semuanya bisa mereka kendalikan dengan uang. Dan oleh sebab itulah tak perduli keluarga sekali pun, Jika menjadi penghalang akan mereka lenyapkan dengan cara apapun.


Sementara di tempat lain, Arsen tengah berdiri di depan meja besar. Dengan monumen dengan bentuk gedung gedung tinggi di meja besar tersebut. Lalu tatapan nya terus tertuju pada satu titik.


"Joe... "


"Iya, Tuan. " Joe masih saja selalu siap, Berdiri di samping tuannya. Meskipun ia juga sempat mendapatkan hukuman dari tuannya. Sebagai hadiah kecilnya saat di Amerika.


Dan baru saja mereka tiba di Jakarta, Beberapa menit yang lalu. Kini Arsen malah tengah sibuk dengan permainan barunya.


"Menurut mu, Apa aku harus merobohkan pondasi terkuat mereka terlebih dahulu?. Atau mematahkan salah satu kakinya?. " Tanya Arsen sambil menyenggol salah satu kaki monumen gedung gedung. Yang telah di susun menyerupai sebuah bangunan nyata pada umumnya.


Brak!


Satu pilar mulai runtuh secara langsung, Ketika salah satu kakinya ia ambil dan ia singkirkan. Melihat itu, Joe mulai berpikir.


"Jika anda ingin permainan ini semakin menarik, Dan juga menginginkan mereka tersiksa secara perlahan, Maka lebih baik pincangkan terlebih dahulu salah satu kakinya, Tuan!. " Ujar Joe dengan seringai tipisnya.


Arsen langsung menoleh, Menatap dalam netra Hazel sang asistennya itu. Hingga sudut bibir nya pun mulai terangkat. Membentuk sebuah senyuman liciknya.


"Apa dengan seperti ini, Permainan nya akan menjadi semakin seru?. " Tanya Arsen lagi sambil melempar sebuah senyuman penuh artinya.


"Apa perlu kita mulai sekarang, Tuan?. Agar kita bisa melihat nya secara langsung, Sampai dimana keseruan permainan yang telah mereka buat!. " Joe tak kalah mengerikan nya dari atasannya itu ternyata.


Tawa Arsen pecah, Sambil bertepuk tangan seakan ia sedang bangga dengan kinerja sang sekretaris nya tersebut. Mungkin Arsen berpikir, Jika ia tidak salah telah merengkrut Joe sejak awal. Sebagai orang kepercayaan nya. Bahkan, Sejak awal juga mereka berdua telah melewati banyak hal. Sehingga mereka bisa sampai di titik sekarang ini.