
Sudah geram dan tersulut emosi dengan ulahnya sendiri. Sekarang di tambah lagi Julia kesal karena Arsen ternyata tidak dapat datang untuk makan malam. Dengan tanpa sebuah pemberitahuan sama sekali. Hal itu jelas saja membuat Julia sangat murka.
Bahkan, Ia juga sampai meluapkan nya dengan para pelayan di rumahnya. Hingga sang sekretaris nya pun ikut jadi pelampiasan kemarahan nya.
Wanita paruh baya itu merasa di permainan kan oleh Arsen. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa apa sekarang. Karena menurutnya Arsen sama sekali tidak membahas masalah yang lalu itu sudah menjadi keberuntungan untuknya.
Bahkan, Julia menduga jika Arsen tidak ingat apapun saat ini. Dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Sebab, Saat melihat nya Arsen nampak biasa tanpa bersikap mencurigakan sama sekali.
Sedangkan di tempat lain. Saat ini Arsen tengah duduk dengan santainya. Di kursi kebesaran nya sambil menatap layar komputer di meja kerjanya.
"Kabar apa yang kau bawa, Hari ini?. " Tanya Arsen pada Asisten nya. Yang baru saja masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Tuan, Arga pergi meninggalkan rumah utama, Tuan A. " Joe melaporkan kejadian di rumah utama. Dengan apa yang telah terjadi antara ibu dan anak tersebut.
"Apa wanita itu sudah memberitahu Arga kebenarannya?. " Arsen bertanya tanpa meninggalkan layar komputernya.
"Hanya mengungkap sedikit masa lalu, Tuan. Selebihnya ia masih merahasiakannya. " Jawab Joe jujur.
Arsen diam beberapa saat. Sambil terus fokus pada layar komputernya. Membuat Joe harus sabar menunggu, Jawaban apa yang akan Arsen berikan. Dan hal apa yang akan ia lakukan saat ini. Sesuai dengan perintah Arsen tentunya.
"Kirim anak buah mu untuk mengikuti dan menjaga anak itu!" Perintah Arsen yang mulai menghentikan gerakan jarinya. Untuk menari nari di atas Keyboard komputernya.
"Bagaimana, Kalau tuan Arga...
" Awasi saja dia dari jauh!. Dan laporkan padaku apapun yang ia lakukan!. "
"Baik, Tuan. " Joe pun langsung pamit pergi. Meninggal kan tuan nya. Setelah mendapatkan perintah langsung.
Sementara itu, Arsen pun hanya diam sambil menatap punggung Joe. Yang mulai hilang di balik pintu ruangan kerjanya. Bagi Arsen, Hari ini adalah awal kehancuran Julia sendiri. Tanpa harus ia melakukan hal lebih, Sebab wanita itu pasti akan gila pada waktunya.
Arsen memang di kenal kejam dan juga tak memiliki hati nurani. Di bisnis bawah tananhnya, Namun pria itu masih memiliki sedikit perasaan untuk tidak menyakiti Arga. Sebab, Arsen akan selalu ingat dimana Arga kecil dulu. Yang selalu ingin dekat dengannya. Meskipun, Julia sering kali melarang nya.
Arsen sudah tahu, Jika mereka tidak memiliki hubungan darah apapun. Tetapi, Arga tidak sejahat Mamanya. Beruntung Arga tidak menuruni sifat buruk Julia. Karena pria itu pun adalah korban kebiadaban Julia.
Drt... drt...
Ponsel Arsen berdering ketika pria itu sedang melamun. Arsen melirik kearah ponselnya. Dan langsung menarik sudut bibir nya. Saat nama Zeera muncul memenuhi layar ponsel mahalnya itu.
"Belajar lah yang benar!. Sebentar lagi ujian skripsi!. " Ucap Arsen mengawali sapaan nya. Ketika panggilan video itu memunculkan wajah cantik kekasih nya.
"Tanpa belajar pun aku akan lulus. " Jawab Zeera dengan sombongnya. Membuat Arsen menggeleng kan kepalanya.
"Ck,,, Kau memang sangat percaya diri sekali. " Timpal Arsen dengan tatapan datarnya.
Zeera pun hanya menanggapi nya dengan kekehan kecilnya saja. Selanjutnya mereka berdua saling mengobrol. Meskipun Arsen hanya banyak mendengarkan semua ocehan gadis konyol itu saja. Karena ia hanya fokus pada wajah dan juga senyum serta tawa Zeera. Selebihnya ia anggap angin lalu saja. Namun, Jangan salah meskipun seperti tak menyimak. Arsen akan mengingat semua kalimat yang di lontarkan Zeera saat ini.
Sebab, Selain mapan Arsen juga pria genius. Yang mudah mengingat segala sesuatu hanya dengan sekali dengar saja. Tak heran jika ia sekarang bisa sesukses ini. Walaupun cara awal ia mendapatkan nya. Dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Banyak hal yang telah ia lalui dimasa lalu. Sehingga Arsen sekarang di tempah menjadi orang yang kuat dan tak pernah menyerah.
"Aku tutup dulu telpon nya. Karena aku harus pulang. " Ujar Zeera, Dimana gadis itu saat ini sedang berada di kampus nya.
"Hem." Jawaban Arsen selalu singkat . Bahkan, Zeera saja sampai hafal sendiri.
Setelah telpon dari Zeera terputus. Pintu ruangan kerjanya pun kembali di ketuk dari arah luar.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk! ". Sahut Arsen dari dalam ruangan nya.
Ceklek....
Seorang pria datang menghampiri Arsen dengan sedikit buru buru. Bahkan, Wajahnya nampak gugup saat menghampiri atasanya itu.
" Ada apa?. "
"Tuan besar, Sudah sadar. Tuan. " Jawab pria yang merupakan kepala perawat yang bertugas menjaga dan merawat Papanya Arsen selama ini.
Tanpa menjawab lagi, Arsen pun langsung bangkit dari kursi kerjanya. Dan beranjak pergi dari ruangan tersebut. Di ikuti oleh kepala perawat itu. Melangkah menuju arah ruangan khusus rawat sang Papa.