
Ceklek...
Suara pintu terbuka, Membuat para team medis langsung membungkuk hormat. Ketika tuannya datang dan masuk kedalam ruangan rawat.
"Selamat malam, Tuan A. " Sapa dokter pria yang bertanggung jawab penuh. Atas kesembuhan pasien di atas ranjang sana.
Arsen hanya menaikan tangannya saja. Dan membuat para team medis itu paha. Mereka pun mempersilakan tuan nya untuk menghampiri pasien itu.
"Kondisi tuan besar sudah membaik, Tuan. Bahkan, Semua racun dalam tubuhnya sudah bersih. Hanya perlu melakukan therapy saja. Agar beliau bisa berjalan normal seperti biasanya. " Ujar Dokter itu menjelaskan kondisi pasien nya.
"Berapa lama waktu pemulihan nya?. " Tanya Arsen sedikit pelan.
"Maaf tuan, Kami tidak bisa memprediksi nya. Karena itu semua tergantung pada semangat pasien sendiri. " Jawab dokter itu lirih. Ia juga takut jika jawabannya malah membuat tuannya marah besar.
"Kalian boleh keluar!. " Perintah Arsen sambil terus menatap sosok pria paruh baya, Yang saat ini masih berbaring di atas ranjang sana.
"Baik, Tuan. Kami permisi dulu! ". Pamit dokter tersebut dengan para team medis lainnya.
Arsen hanya menggerakkan tangannya saja. Dan membuat Joe langsung menggiring para dokter itu. Untuk segera keluar dari ruangan rawat tuan besarnya. Menyisakan Arsen seorang, Karena Joe tahu apa yang akan tuan nya itu lakukan saat ini.
Arsen langsung melangkah, Mendekati arah ranjang pria paruh baya. Yang saT ini sedang terbaring lemah. Dengan wajah sendu dan juga sedikit pucat. Menatap langit langit ruangan itu dengan mata berkaca kaca.
Namun, Apa yang terjadi nyatanya tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ia di tipu habis habisan. Sampai sampai ia tidak tahu, Jika sebenarnya dia telah membawa seorang iblis berwajah manusia yang penuh keserakahan nya.
"Maafkan Papa, Arsen!. " Ujar pria paruh baya itu lirih. Suaranya juga terdengar tercekat. Menahan tangis penuh penyesalan nya.
Sebenarnya ia sendiri malu pada putranya ini, Karena kebodohannya sendiri. Ia malah hampir membunuh putranya. Dan menyerahkan semua harta dan peninggalan istrinya. Pada wanita yang jahat dan tak memiliki hati seperti Julia. Ia juga telah di tipu habis habisan. Sehingga ia tak berdaya lagi.
Jika saja waktu bisa di ulang. Calvin tak akan pernah mempercayai Julia seumur hidup nya. Dan ia juga pasti telah mengusir Julia sejak lama dari kediamannya. Namun, Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Ia harus di uji dengan kehadiran benalu dalam keluarga nya. Sehingga ia bisa menjadikan semua ini sebagai pelajaran hidupnya.
"Tak ada yang perlu di maafkan lagi. " Jawab Arsen sembari mendarat kan bokongnya di bibir brankar sang Papa.
Calvin menoleh kesampingnya. Untuk menatap wajah putranya. Yang saat ini jauh lebih berkharisma, Dan juga jauh lebih gagah. Bahkan, Calvin sendiri hampir tak mengenali putranya itu. Sebab, Arsen memang jauh lebih banyak berubah. Dari gestur tubuhnya saja, Orang sudah tak bisa berpaling dan mereka tahu, Jika pria ini sangatlah gagah.
"Sekarang, Akan lebih baik jika Papa fokus pada kesembuhan Papa saja dulu!. Selebihnya nanti saja kita bahas!. " Ujar Arsen menasehati Papanya.
Calvin terus menatap wajah putranya. Banyak sekali pertanyaan, Yang saat ini telah memenuhi otaknya. Terutama tentang bagaimana putra nya ini bisa selamat dari kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dan selain itu juga Calvin sangat penasaran, Darimana Arsen mendapatkan banyak harta dan kedudukannya seperti sekarang ini.
Namun, Calvin hanya bisa menyimpan nya dalam hari saja saat ini. Sebab, Ia tahu jika sekarang waktunya belum tepat untuk bertanya. Apalagi ketika melihat wajah putranya yang terlihat lelah.