
Arsen hanya melirik ponselnya. Ketika ada panggilan masuk beberapa kali. Yang ia tahu itu adalah nomor Zeera kekasih nya. Sudut bibir Arsen terangkat membentuk sebuah senyum tipisnya.
Hingga Fatih mulai menatap curiga akan tingkah sahabat nya itu. "Loe kenapa?. Senyam senyum kagak jelas. " Ledek Fatih yang baru saja mengambil kan Arsen minum.
Dimana di dalam ruangan kerjanya itu. Memang ada lemari pendingin khusus, Agar ia tidak repot repot lagi mengambil air ke dapur saat sudah masuk kedalam ruangan itu.
"Thank you bro!. " Ucap Arsen ketika Fatih menyodorkan sebotol air minum untuknya. Sebab, Fatih tahu jika Arsen tidak menyukai minuman bersoda sejak dulu.
"Jawab dulu!. Loe kenapa senyum senyum begitu?. " Fatih masih saja penasaran akan sikap Arsen. Yang baginya sedikit mencurigakan.
Sudah lama tak saling jumpa. Dan bertukar kabar, Pada akhirnya keduanya kini bisa kembali bertemu lagi. Meskipun sudah beberapa tahun lamanya. Bahkan, Fatih mengira jika Arsen benar-benar sudah tiada. Karena pria itu sempat menghilang bagaikan di telan bumi. Walaupun Fatih sempat berpikir juga, Jika Arsen masih hidup. Namun, Ia sendiri pun tidak bisa menemukan keberadaan nya.
"Seperti nya adikmu, Sudah mulai nyaman sama gue. " Seru Arsen dengan sangat percaya dirinya.
"Lamar gih!. Jangan lama lama!. " Sahut Fatih dengan tegasnya.
"Itu pasti, Bro. Loe tenang aja!. Gue gak akan lepasin dia lagi. " Arsen tersenyum pongah. Seolah memang inilah waktu yang telah ia tunggu-tunggu selama ini.
Jika Arsen benar-benar menyukai adiknya. Maka, Datanglah di saat sudah dewasa dan sukses. Bukan tanpa alasan Fatih mengatakan hal itu. Hanya saja pada waktu itu Fatih tidak mau adik satu satunya. Malah salah arah hanya karena percintaan seorang Abg. Dan bukan juga maksud Fatih untuk tidak percaya pada Arsen.
Justru karena ia yakin. Jika Arsen tak akan pernah main main dengan ucapan nya. Jika dia sendiri telah mengatakan nya dengan sangat sadar.
Fatih menepuk bahu sahabat nya pelan. "Gue percaya sama loe, Sen!." Ujar Fatih sambil tersenyum.
Arsen hanya tersenyum smrik. Dan kembali meminum air di dalam botolnya. Arsen hanya sedikit ragu, Jika sahabat nya tahu, Apa yang membuat nya bisa bertahan sampai sekarang ini. Dan apa pekerjaannya sebenarnya nanti. Mungkin keluarga Zeera malah tak akan merestui hubungan nya dengan putri mereka.
Dan sampai sekarang, Hanya itulah keraguan Arsen. Pria itu merasa, Jika dirinya adalah manusia hina dan penuh dosa. Bahkan, Ia adalah pria yang kejam. Sangat berbeda dari dirinya yang dulu.
"Gue janji!. Setelah urusan gue selesai nanti. Gue akan kembali ke jalan yang benar. Dan meninggal kan semua kehidupan gue yang sekarang. " Batin Arsen dalam hatinya.
Ingin sekali Arsen bicara dan menceritakan semua masa lalunya. Yang penuh dengan kekejaman dan kekerasan itu. Tepat dimana Grandma nya meninggal dunia. Bahkan, Masa lalunya setelah kecelakaan terjadi. Sampai pada akhirnya Arsen berubah seratus delapan puluh derajat.
Kadang Arsen juga mengira jika dirinya yang sekarang adalah monster. Yang tak mengenal balas kasih sedikitpun. Hingga baginya juga, Membunuh adalah hal biasa. Meskipun semula bermula hanya karena keserakahan ibu tirinya itu.