Marry Me

Marry Me
Awal Kehancuran Julia



Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang waralaba, Dan juga perusahaan media. Dengan predikat masuk dalam kategori dua puluh besar di Negara ini. Perusahaan besar itu adalah "DHARMENDRA CORPS".


Julia mulai melangkah masuk kedalam sebuah ruangan besar. Dimana saat ini sedang akan di adakan rapat pemegang saham. Serta menunjuk Di rektur Utama perusahaan. Menggantikan posisi Julia yang juga telah mengganti posisi suaminya sendiri. Atas persetujuan anak tertua mereka , Meskipun dalam bentuk sebuah tanda tangan yang telah mereka palsukan.


Semua para petinggi perusahaan nampak membungkukkan badannya, Menyambut kedatangan Direktur utama yang akan lengser dan akan menunjuk pengganti nya sendiri hari ini.


"Dimana Arga?. Kenapa dia belum datang juga?. " Bisik Julia pada sekretaris nya.


"Sabar, Nyonya!. Mungkin sebentar lagi beliau datang. " Jawab sang sekretaris nya menenangkan atasannya.


Julia pun langsung duduk di kursi kebesaran nya. Dengan di dampingi sang sekretaris nya, Yang selalu setia di samping atasannya tersebut. Beberapa saat terdiam Julia mulai angkat bicara. Menyangkut hal yang akan ia bahas saat ini. Dengan mengumpulkan semua para petinggi perusahaan. Dan para pemenang saham tentunya.


Tanpa Julia sadari, Jika hari ini adalah hari dimana ia akan mengubur semua impiannya selama ini. Dan juga melupakan semua keinginannya , Yang telah ia harapkan sejak lama. Lantaran Julia tidak mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan nya nanti.


Beberapa menit berlalu setelah Julia mengucapkan kata sambutannya. Dan juga akan mengumumkan siapa penerusnya selanjutnya, Serta akan mengumumkan orang yang akan menjadi pengganti dirinya sebagai direktur utama perusahaan tersebut.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka dari arah luar. Awalnya Julia menarik sudut bibir nya, Karena ia menganggap itu yang datang adalah putranya sendiri. Namun, Ketika seorang pria dengan wajah khas bule nya membukakan pintu ruangan tersebut.


Dahi Julia mengkerut sempurna, Begitu pula dengan sekretaris nya dan juga semua para petinggi perusahaan. Tetapi, Mereka lebih terkejut lagi saat melihat sosok pria yang ada di belakang pria asing tersebut. Bahkan, Sampai membuat Julia langsung terpundur dari kursinya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Bukan karena ia sedang jatuh cinta. Melainkan karena ia sedang gugup dan hampir saja jantungan.


Orang yang telah ia anggap mati, Dan juga telah berhasil ia lenyapkan. Tiba tiba kini ada di hadapan nya dengan penampilan yang jauh lebih berkharisma. Selain itu juga, Julia malah nampak menegang ketika tatapan Arsen begitu membunuh padanya.


Gleg...


Berkali-kali Julia menelan salivanya dengan susah, Karena kali ini ia benar-benar melihat dengan jelas. Bagaimana perbedaan Arsen dulu dengan sekarang.


Banyak para petinggi perusahaan, Kini saling pandang satu sama lainnya. Dan saling berbisik, Bergosip saat melihat kedatangan orang asing secara tiba tiba dalam ruangan rapat saat ini.


"Entahlah, Tapi wajah nya mirip sekali dengan tuan Calvin"


"Iya, Aku juga berpikir begitu. "


"Apa dia benar benar tuan Arsen?. Putra tertua dari mendiang nyonya Selia?. "


"Tapi, Bukannya dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?. "


Dan masih banyak lagi lainnya, Suara berisik dari para petinggi perusahaan tersebut. Hingga membuat Julia panik sendiri. Namun, Sekretaris nya langsung menenangkan atasanya. Agar Julia tidak membuat kesalahan saat ini. Dan mempermalukan dirinya sendiri di depan semua para petinggi perusahaan nya.


"Tenanglah, Nyonya!. " Bisik sang sekretaris nya mencoba menenangkan Julia. Di saat ia melihat sendiri bagaimana paniknya Julia saat melihat Arsen datang dengan penampilan sesempurna ini.


"Apa kabar , Nyonya Julia?. " Sapa Arsen dengan suara serak penuh kharisma dan juga penuh penekan nya.


"Maaf, Tuan!. Dia adalah ibu anda. " Sahut Joe dengan nada meledeknya.


"Ah, Iya. Kau benar Joe." Senyum Arsen terbit begitu mengerikan membuat semua orang malah merinding akan senyuman seorang pria tampan dengan aura berbeda itu.


"Apa kabar, Mama. ?. " Arsen kembali mengulang pertanyaan dengan menatap kearah Julia. Yang saat ini malah merasa angker sendiri.


Julia melirik kearah sekretaris nya. Dan sang sekretaris pun menganggukkan kepalanya. Seolah memberi kode agar Julia bersikap sebagaimana mestinya seorang ibu pada umumnya. Kala melihat putranya kembali.


"Arsen... Benarkah ini kau nak?. " Julia pun menghampiri Arsen dan langsung memeluk tubuh kekar itu, Sambil menangis tersedu sedu.


"Oh, Tuhan terimakasih kau telah mengembalikan putraku ini. " Seru Julia sambil terisak mendekap tubuh kekar Arsen. Yang sama sekali tidak membalas dekapan nya.


"Ck,,, Dia sangat pandai berakting rupanya. " Batin Joe dalam hatinya.