
Derap langkah kaki lebar seorang pria. Begitu tegap dan pasti memasuki sebuah Apartemen mewah miliknya sendiri. Di tengah tengah kota London. Pria itu langsung menghempaskan pantatnya, Tepat di tengah tengah sofa empuk yang ada di dalam ruangan tamu.
Melonggarkan kerah kemejanya. Dan mulai membuka jas kerjanya. Dimana asistennya siap siaga menjadi hanger dadakan untuknya.
"Mau mandi sekarang, Tuan?. Biar saya siapkan air hangatnya. " Ujar Joe pada tuannya itu.
"Hm." Jawab Arsen dengan singkat nya.
Asisten Joe pun segera beranjak pergi dari hadapan nya tuannya. Namun, Baru saja satu langkah ia pergi. Arsen sudah kembali memanggil nama Asisten nya itu.
"Joe... "
"Iya, Tuan A?. "
"Jam berapa di Jakarta sekarang?. " Tanyanya dengan mata yang terpejam dan meletakkan kedua tangannya pada badan sofa dengan santainya.
Joe pun melirik arloji di pergelangan tangannya. Lalu, ia pun sudah bisa menebak pukul berapa waktu di Jakarta Sekarang. " Hampir setengah delapan pagi, Tuan. " Jawab Joe dimana sekarang jam di Landon sudah hampir pukul setengah satu dini hari.
Tanpa menjawab lagi, Arsen pun hanya mengibaskan tangannya. Memberikan kode agar Joe segera pergi dari hadapan nya. Joe yang paham pun, Langsung beranjak pergi meninggalkan tuan nya. Dan entah apa yang akan di lakukan pria itu setelah ini. Yang jelas Joe pun tak mau ikut campur terlalu dalam, Mengenai urusan pribadi Arsen. Jika Arsen sendiri tak mau membagi cerita dengannya.
Selain menjadi asisten yang baik, Joe juga sangat pandai menjaga privasi tuannya. Ia juga adalah tipe pria yang bisa di pegang janjinya. Sehingga tak di ragukan lagi kesetiaan nya. Meskipun, Klan Arsen sampai mengiming iminginya harta kekayaan yang berlipat ganda sekalipun. Joe tak akan pernah berpaling dari tuan nya sendiri. Pria yang telah banyak membantunya. Dan mereka pun sudah melewati suka duka nya bersama.
Sepeninggal Joe untuk menyiapkan air mandinya. Arsen pun langsung meraih ponselnya. Ia akan mencoba menghubungi seseorang yang telah mengusik pikirannya selama ini. Gadis konyol dan tak tahu malunya. Yang telah membuat dirinya terpesona dan juga tak ingin berpaling lagi.
Arsen mulai menyalakan ponsel nya. Yang sudah beberapa hari ini, Memang tak ia aktifkan. Karena Arsen tak ingin misinya disini malah terganggu. Dan apa yang menjadi kelemahan nya saat ini, Malah tercium oleh orang lain. Bahkan, Arsen tak pernah menyimpan nomor ponsel siapapun di benda pipih nan canggih itu. Termasuk nomor ponsel Zeera sendiri.
Belum juga sempat Arsen menghubungi Zeera. Layar ponselnya malah sudah menyala lebih dulu. Mendapatkan panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
"Darimana saja?. Kenapa ponselmu selalu tak bisa di hubungi?. Apa kakak sengaja atau hanya untuk meng...
" Kau bisa bertanya satu satu?. Biar aku tidak bingung untuk menjawabnya." Potong Arsen dengan nada santainya. Karena Zeera langsung menanyakan banyak hal dengannya. Begitu Arsen menjawab panggilan nya tadi.
Bahkan, Arsen belum sempat untuk menyapanya lebih dulu. Tapi, Zeera sudah melayangkan banyak pertanyaan untuknya.
"Baiklah, Kalau begitu aku tutup dulu telponan nya. Karena aku ingin mandi dan istirahat. " Sahut Arsen yang langsung mematikan sepihak.
Tut... tut... tut...
"What?. " Zeera tak habis pikir dengan apa yang barusan ia alami. Arsen benar benar membuatnya kesal tujuh tanjakan. Sehingga Zeera hanya bisa menatap layar ponselnya saja dengan tatapan tak percayanya.
"Apa aku sedang bodoh? . Atau.... " Zeera menggelengkan kepalanya saja. Sambil mengusap dadanya agar ia bisa sabar dalam ujiannya kali ini.
Zeera tidak tahu saja, Jika di belahan bumi yang berbeda itu. Arsen sedang menarik sudut bibir nya puas. Ia yakin jika Zeera sedang sangat kesal padanya. Namun, Pria itu malah semakin membuat Zeera keluar tanduk nya.
Pria itu sudah menyiapkan kejutan khusus untuk gadisnya. Dan ia pun tak akan pernah melepaskan Zeera kembali. Setelah dirinya juga hampir tiada. Hanya karena keserakahan ibu tirinya sendiri.
Banyak hal yang telah Arsen lewati sebelum nya. Sehingga sekarang fisik dan juga sikap Arsen jauh lebih mengerikan dan penuh ketelitian. Jika dulu, Ia masih memiliki hati nurani untuk tidak menyakiti orang lain. Karena baginya manusia bisa berubah. Namun, Seperti nya kali ini ia tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang berani mengusik hidupnya. Tak perduli sekalipun orang itu adalah orang terdekatnya sendiri.
"Tuan, Air hangat nya sudah siap. " Seru Joe yang telah datang menghampiri Arsen kembali.
Arsen pun segera bangkit dari sofanya. Dan melangkah lebar menuju kamarnya. Bahkan, Arsen masih memperlihatkan senyummya sambil berjalan. Membuat asisten Joe berpikir. Jika Zeera lah yang telah berhasil membuat seorang Arsen bisa tersenyum sedemikian rupa.
"Ck,,, Virus cinta memang membuat orang menjadi stress. " Guman Joe sangat pelan. Namun, Sayangnya telinga Arsen begitu peka akan sesuatu. Sehingga ia langsung menoleh dan menatap Joe dengan tatapan tajamnya.
"Kau bilang apa, Joe barusan?. " Tanyanya dengan tatapan mengerikan itu.
"Ah, Ti... tidak ada, Tuan. " elak Joe berusaha menghindar dengan sedikit berbohong.
"JOE... "
"Maaf Tuan, Saya telah lancang. " Jawab Joe dengan kepala tertunduk gugup.
"Makanya kau harus coba mencintai seorang wanita!. Biar kau tahu rasanya jatuh Cinta. " Seru Arsen. Yang sontak membuat Joe melongo tak percaya akan ucapan Arsen barusan.