
"Cepat cari tahu! , Siapa wanita sialan itu sebenarnya?"Julia langsung memerintah anak buahnya untuk mencari tahu, Tentang Wulan. Gadis yang telah mengacaukan rencananya juga.
Sehingga ia sendiri, Tak bisa mengendalikan Arga lagi. Belum juga selesai urusan nya untuk membuat Arsen. Pergi dan menyerahkan semua asset nya pada dirinya. Kini, Ia malah tertimpa masalah baru lagi. Ingin rasanya, Julia kembali membuat Arsen lenyap untuk kedua kalinya. Tapi, Sejauh ini setiap kali ada anak buahnya. Yang ia tugaskan untuk menyelidiki Arsen. Selalu dan selalu anggota nya tak kembali tanpa kabar berita apapun.
Selain itu juga. Julia merasa ada yang salah dengan gadis yang mendekati putranya. Ia juga tak memiliki informasi apapun tentang keluarga, Maupun riwayat hidup yang jelas. Semuanya tampak abu-abu semua. Sehingga ia kesulitan untuk mendapatkan informasi apapun tentangnya.
"Siap, Nyonya." Jawab anak buahnya. Yang saat ini langsung menyanggupinya. Karena, Jika tidak?. Mereka sendiri yang akan terkena masalahnya.
Julia langsung masuk kedalam kamar nya. Melangkah sambil menahan rasa amarahnya. Sekretaris nya pun, Hanya bisa diam. Tak ingin, membantah apapun perintah atasannya itu. Sebab , Ia tahu jika Julia saat ini tengah mendidih. Dan geram dengan masalah hari ini.
Benar saja, Di dalam kamarnya. Julia terus saja mondar mandir. Sambil terus berpikir keras, Mencari cara untuk menyelesaikan masalah nya satu persatu. Dan sejak kepulangan Arsen. Dirinya menjadi tidak leluasa bergerak bebas. Bahkan anak buahnya satu persatu hilang tak berkabar berita lagi.
"Sial, Kenapa sekarang langkahku menjadi terhambat, Begini?. " Guman Julia sambil menggigit kuku tangannya.
"Mungkin, Tuhan sekarang sedang marah padamu. " Suara seorang pria membuat Julia langsung terkejut.
Bertepatan dengan itu, Lampu di kamar nya menyala. Rupanya ia kedatangan tamu yang tak di undang. Dan telah duduk di kursi pojok kamar nya.
"Beraninya, Kau masuk kedalam kamarku. Dimana saja para penjaga di rumah ini?. " Sentak Julia semakin emosi saja.
Pria itu malah terkekeh . Seolah ia sudah biasa mendengar suara kasar Julia. Dan ia juga sebenarnya tak ingin lagi berurusan dengan wanita itu. Namun, Demi menyelamatkan dirinya dari incaran seseorang. Pria itu akan tetap pura-pura menurut akan perintah Julia.
"Kau pikir aku ini apa?. Hah?. ATM berjalan kamu?. Atau apa?. " Julia semakin tersulut emosi saja.
Seharian ini sudah membuatnya hampir gila. Di tambah lagi tiba-tiba pria itu datang. Dan meminta uang padanya. Padahal, Keuangan nya akhir-akhir ini sedang tidak baik. Dimana, Perusahaan menutup akses keluar masuk uang dengan bebas. Dan semua itu atas perintah langsung dari Arsen.
"Berikan saja uang yang aku minta!. Kalau tidak mau aku membuka mulut, Dan membongkar semua kebusukanmu itu, Julia. " Ancam pria itu dengan santainya.
"Kau sudah berani mengancamku, Rupanya?. Kau lupa jika aku yang telah menyelamatkan kamu dari kematian?. Dasar sialan, Kau. " Maki Julia dengan tatapan tajamnya.
Pria itu mulai jengah, Dan bangkit dari kursinya. Lalu, Menghampiri Julia yang saat ini masih saja berdiri di tempatnya semula. Dengan tatapan tajam penuh amarahnya pada pria tersebut.
"Kau juga lupa?. Jika aku masih memiliki rekamannya?. Hm. " Ujar pria itu tepat di depan telinga Julia.
Wanita paruh baya itu, Hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Untuk menahan amarahnya, Lalu ia pun menatap pria itu dengan wajah merah padamnya.
"Kau pikir, Kau siapa?. Berani mengancamku, Begitu?. " Sinis Julia dengan penuh amarahnya.
"Pilihan ada di tangan kamu sendiri, Mareta. " Bisik pria itu lagi dengan bisikan pelan nya.
Deg...