Marry Me

Marry Me
Mulai Sadis



Sedangkan di belahan bumi yang berbeda, Seorang pria tampan rupawan. Sedang duduk di sebuah kursi di dalam ruangan yang nampak sedikit remang remang. Sambil menatap nyalang pada seorang pria paruh baya. Wajahnya yang begitu mirip dengan seseorang yang sangat ia kenal.


Waktu menunjukkan pukul Sepuluh malam. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu. Dimana Sang pria paruh baya itu sedang terikat di sebuah kursi besi.


"Berani sekali kau memakai wajah itu. Tanpa izin dulu dari pemiliknya. " Sentak Arsen dengan tatapan membunuhnya.


Hingga pria paruh baya yang saat ini sedang terikat. Hanya bisa bungkam dengan tubuh gemetaran. Niat hati ingin menikmati semua uang, Dari hasilnya menipu banyak orang. Kini ia malah terkurung di dalam sebuah ruangan berukuran kecil nan lembab ini, Bau amis yang menusuk indera penciuman nya. Serta wajah yang sudah lebam akibat ulah anggota Arsen.


Arsen mulai memainkan sebuah bor listrik. Yang sengaja ia hadapkan pada pria paruh baya itu. Membuat Sang pria langsung beringsut berusaha untuk mundur dari hadapan Arsen.


"Tolong, Jangan lakukan itu, Tuan!. " Seru Sang pria paruh baya itu mulai memohon ampunan.


"Coba kau bayangkan!. Jika alat ini menembus bola matamu itu!. Pasti akan sangat seru sekali, bukan?. " Arsen malah semakin gencar untuk membuat pria itu semakin ketakutan.


Pria itu menggelengkan kepala nya cepat. Dan sampai sampai celana nya mulai basah saking ketakutan nya. Melihat itu Arsen menarik sudut bibir nya licik.


Arsen pun langsung menekan bor listrik itu. Pada ujung kursi besi yang di duduki pria paruh baya tersebut. Sehingga sang pria pun tak mampu lagi menutupi rasa takut nya. Ia terus memohon agar Arsen mengampuni nya.


"Ampun, Tuan. Tolong jangan bunuh saya!. Saya akan melakukan apapun, Yang tuan perintahkan!. Saya mohon jangan... !. " Serunya dengan bibir yang bergetar.


Brak!


Arsen pun menendang kursi itu. Membuat pria paruh baya tersebut terjungkal ke belakang sana. Dengan posisi yang masih saja terikat. Ia pun kesulitan untuk bangun. Lantaran tangan dan kakinya di ikat kuat dengan rantai.


"Apa yang bisa, Kau jaminkan padaku!. Untuk tidak membunuh mu saat ini?. " Arsen bertanya sambil bangkit dari kursinya.


Arsen pun semakin tersenyum penuh arti. Lalu menghampiri Sang pria paruh baya tersebut. Arsen sama sekali tak terlihat ramah. Yang ada hanyalah wajah menakutkan nya saja, Dengan tatapan membunuhnya serasa ingin menguliti tubuh pria paruh baya tersebut saat ini juga.


"Jo."


Pintu ruangan pun terbuka. Ketika Arsen berteriak memanggil nama asistennya itu. Dan masuklah sosok oria tak kalah tampan tersebut. Dengan membawa sebuah map lengkap dengan pulpen nya. Bahkan, Disana ada bantalan tinta untuk cap sidik jari juga.


"Suruh dia berikan stempelnya disana!. " Titah Arsen tegas.


"Siap tuan. " Jo berniat ingin membuka bantalan tinta tersebut. Dan mengambil jari Sang pria paruh untuk menyematkan sidik jarinya disana. Namun, Arsen segera menahan tangan Jo. Lalu pria itu menggelengkan kepala nya.


Jo nampak bingung akan sikap tuan nya. Namun, Mata Jo langsung melotot saat Arsen malah mengeluarkan pisau kecil dari sepatunya.


Sretttt!


"Aaa... " Pria paruh baya itu menjerit meringis saat kulit lengan nya di lukai oleh Arsen. Dan belum cukup sampai disana. Lukanya pun di tekan untuk menghasilkan darah segar miliknya. Yang menetes di bantalan tinta tersebut. Lalu setelah dirasa cukup. Arsen pun menarik jempol pria paruh baya itu. Dan langsung di cap jari.


Arsen pun memberi kode pada anggotanya di luar sana. Dimana telah ia siapkan sejak tadi. Dan ruangan itu pun sebenarnya di kontrol dan di awasi dari arah luar. Namun, Hanya orang luar yang bisa melihat apa yang di lakukan orang di dalam ruangan tersebut.


Tak berselang lama, Masuk tiga orang pria. Yang langsung menyeret pria paruh baya itu. Dan entah akan dibawa kemana. Yang jelas salah satu pria disana memakai seragam medis.


"Jo, Awasi mereka!. Dan setelah ia sadar nanti. Berikan ia arahan nya!. "


"Baik, Tuan A. "