Marry Me

Marry Me
Pulang Ke rumah



Sore menjelang malam ini, Hujan turun dengan lebatnya. Mengguyur bumi dan seisinya. Sepasang sejoli yang belum sempat jadian, Namun malah terlihat kompak saat melindungi dirinya. Saat ini ikut kebasahan karena hujan turun tanpa permisi terlebih dahulu.


Sejak tadi, Arsen memberikan saran untuk berteduh terlebih dahulu. Namun, Zeera bilang lanjutkan saja. Gadis itu malah menikmati hujan dengan sangat riang. Seolah ia tak pernah terkena air hujan sedikitpun juga.


"Kak, Siapa mereka tadi?. Kenapa tiba tiba menyerang kita seperti itu?. " Rasa ingin tahu yang terlalu tinggi, Membuat Zeera makin penasaran saja. Ia juga nampaknya belum lega jika belum mengetahui, Siapa komplotan pria yang hampir saja mencelakai mereka berdua tadi.


"Entahlah, Aku juga tidak tahu. " Jawab Arsen sedikit berbohong. "Yang jelas mereka bukan orang baik. " Sambungnya lagi sambil menghentikan laju motornya. Saat mereka telah tiba di depan pagar besi. Yang tinggi menjulang tepat di sebuah rumah mewah dua lantai.


Ya, Itu adalah kediaman Zeera dan keluarganya. Meskipun hujan masih belum reda. Namun, Arsen tak mau menahan Zeera untuk lebih lama lagi bersamanya. Gadis itu akan semakin kepo tentang kehidupan nya yang sebenarnya. Jika, Tidak Arsen kembalikan kerumah orang tuanya saat ini. Sebab, Arsen juga masih memiliki rencana setelah ini. Yang jelas pria itu tidak akan tinggal diam. Setelah ia hampir celaka bersama Zeera tadi.


"Masuklah!. Baru aku pergi. " Titah Arsen dengan penekan nya.


"Tas dan ponselku, Masih di mension kakak. " Ujar Zeera sambil membuka helm nya.


"Besok kau bisa ambil lagi kesana!. Sekarang cuaca sedang tidak mendukung, Kau juga sudah kedinginan. Jangan pancing aku untuk memberikan mu kehangatan dengan cara yang berbeda. "


Zeera langsung melotot mendengar ucapan Arsen. Pria itu sudah banyak berubah, Dan sekarang malah jauh lebih mesum . Padahal, Dulu Arsen adalah pria yang pendiam dan juga dingin. Pertumbuhan seseorang memang begitu cepat berbeda. Sehingga apa yang di laluinya, Membentuk karakter dirinya.


Tak berselang lama pihak keamanan kediaman Al. Langsung membuka pintu gerbang, Ketika tahu ada anak majikan nya yang pulang. Arsen merapatkan kembali helm nya. Lalu mulai menghidupkan kembali mesin motornya.


"Kak... " Panggilan Zeera membuat Arsen menoleh kembali. "Hati hati di jalan!. " Tutur Zeera dengan senyum dibibirnya.


Arsen hanya menganggukkan kepala nya saja. Dan langsung pergi dari sana. Melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Menjauh dari kediaman Zeera dan orang tuanya.


"Darimana saja?. Sudah tahu hujan deras bukannya neduh. Malah keenakan hujan hujanan. " Sherly langsung ngedumel pada putrinya. Yang selalu saja membuatnya sakit kepala itu.


"Umi, Hujan itu berkah bukan?. Jadi, Apa salahnya jika Zeera belajar untuk menikmati keberkahan ini?. " Jawab Zeera sambil mencium punggung tangan Uminya.


"Motor kamu dimana?. Terus ini lagi pake jaket siapa?. Helm juga. " Nyatanya Sherly begitu paham akan barang barang putrinya. Sehingga ia hafal betul semua perlengkapan putri bungsu nya itu.


"Motor Zeera lagi sakit, Umi. Jadi perlu di rawat inap dulu. " Jawab Zeera dengan Selengehan nya.


"Kamu ini ada ada saja. Buruan masuk sana!. Mandi dan ganti bajumu!. Umi buatkan teh hangat buat Zeera ya. "


"Ok Umi. " Zeera pun langsung bergegas pergi dari hadapan Uminya.


Sherly pun segera memainkan ponselnya. Saat Zeera sudah masuk kedalam rumah lebih dulu. Sherly seperti nya sedang menghubungi seseorang.


"Halo, Bagaimana?. " Sudut bibir Sherly terangkat membentuk senyum. Kala ia menerima informasi dari orang di balik telponan nya.


"Kau mencoba membohongi Umi, Sayang. " Guman Sherly menatap ke arah lantai atas sana.


Namun, Dibalik itu semua Sherly justru bangga pada puterinya. Dengan begini, Ia tidak akan ragu lagi. Dan apa yang telah ia rencanakan sejak awal. Sekarang telah berjalan lancar. Baginya tak sia sia, Jika melakukan hal tak masuk akal. Hanya untuk membuat seseorang keluar dari persembunyian nya.


Sherly pun kembali masuk kedalam rumah nya. Dan mulai menuju arah dapur. Karena, Ia juga ingin membuat kan teh hangat untuk sang anak bungsu nya. Meskipun, Zeera sering pecicilan dan bikin ia pening. Namun, Percayalah jika Sherly sangat menyayangi anak anaknya. Begitu pula dengan suaminya. Ia tidak akan pernah mau membuat anaknya menderita dan hidup dalam keterpaksaan.