Marry Me

Marry Me
Tak Kalah Konyol



Kediaman Naures...


Waktu sudah hampir larut malam, Keena malah tak bisa memejamkan matanya. Gadis itu memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Hanya dengan memakai piyama tidur tanpa lengan dengan setelan celana pendeknya saja.


Namun, Ia malah berdiri saja di depan pintu kamar nya. Lantaran keadaan rumah sudah sangat sepi sekali. Para penghuni rumah ia yakin sudah pada masuk ke alam mimpi masing-masing. Namun, Gadis itu menarik sudut bibir nya. Saat ia melihat lampu kamar adik nya masih menyala. Di liriknya jam di dinding tepat di samping kamarnya. Yang sudah menunjukkan pukul 23.30 , Lalu tanpa pikir panjang lagi ia langsung melangkah menuju kamar adiknya.


Sedangkan, Di dalam kamar sana Juna sedang fokus pada layar laptopnya. Nampaknya ia memang sengaja sedang belajar, Untuk persiapan kembali ke barak besok pagi. Karena, Juna juga masih dalam proses pendidikan. Oleh, Karena ada kebijaksanaan dari komandannya. Ia bisa pulang beberapa hari. Itu pun karena bantuan dari Opanya. Yang merupakan pensiunan perwira juga dulunya. Dan sudah banyak mengenal para petinggi petinggi kapolri.


Kalau tidak, Mana mungkin Juna bisa dapat izin pulang kerumah yang di luar kota begini.


Tok... tok... tok...


"Juna... Buka pintu nya!. kakak tahu kamu belum tidur. " Seru Keena sambil terus menggedor gedor pintu kamar adik bungsunya itu.


"Kakak mau ngapain?. Juna sebenartar lagi mau istirahat, Jangan ganggu Juna dong kak!. " Sahut Juna masih enggan membuka pintu kamarnya. Sebab, Juna sudah paham dan hafal betul kelakuannya kakaknya satu ini. Yang selalu saja membuat masalah dengan kekonyolan nya sendiri.


"Kakak ingin bicara sesuatu nih. Come on!. " Lagi lagi Keena mengeraskan suaranya.


Tak mau semua penghuni rumah ikut terjaga akan kelakuan Kakaknya. Juna pun terpaksa membuka pintu kamarnya. Dengan helaan nafas yang sedikit kasar. Tatapan pemuda itu pun begitu tajam. Namun, Itulah yang menjadi daya pikat Juna. Rahang tegas dengan gestur tubuh tinggi tegapnya. Sangat cocok untuk menjadi abdi negara.


"Wah, Kamu masih saja selalu rapi. " Keena memuji kamar adiknya. Yang sejak dulu sangat pembersih dan juga menyukai kerapian . Sangat beda jauh dengannya yang seorang wanita, Tapi sangat malas dan juga asal asalan saja.


Sedangkan, Kamar Juna melebihi kamar anak perawan saking bersih dan rapinya. Semua barang barang yang ada di susun dan sangat bersih. Bahkan, Debu saja hampir tak terlihat di dalam kamar luas tersebut.


Terang saja, Karena Juna tak pernah memasukkan orang sembarangan ke dalam kamar nya. Meskipun kedua orang tuanya sendiri. Ia lebih suka membersihkan kamarnya seorang diri, Daripada menyuruh pelayan dirumah tersebut.


"Kakak mau ngapain sih?. Sana kembali ke kamar kakak saja!. Juna harus istirahat kak, Besok pagi harus kembali ke Semarang lagi. " Juna langsung mengusir kakaknya. Sebelum Keena membuat ulah dan mengacak acak kamarnya lagi seperti sebelumnya.


"Ck,,, Pelit banget sih jadi adik. Kakak tidak bisa tidur. Makanya kakak kesini. " Sahut Keena yang malah langsung menuju ranjang sang adik bungsunya.


Gadis itu pun tanpa malu, Ataupun canggung di depan adik nya yang sudah dewasa. Memakai piyama sedikit seksi, Sehingga paha dan lengan mulusnya terpampang nyata begitu. Beruntung adiknya sosok pria yang dingin dan datar. Bahkan, Mempunyai otak yang waras sehingga tidak tergoda meskipun Keena telanjang sekalipun di depan matanya. (Hahaha... Othor rada oleng gengs🤭).


Juna langsung menarik selimut dan menutupi paha mulus kakaknya. Saat Keena malah berbaring santai di atas ranjang nya.


Keena tersenyum, Lantaran ia terharu akan nasihat adiknya itu. Yang nyatanya sangat perhatian pada kakak perempuan nya sendiri. Meskipun ia selalu memasang wajah dingin nya tersebut.


"Apa kakak, Boleh tidur di kamar kamu malam ini, Jun?. " Keena menaik turunkan alisnya.


"Tidak!. " Jawab Juna cepat. Sehingga Keena langsung mendengus kesal.


Tetapi, Bukan Keena namanya kalau gadis itu tidak memiliki ide konyolnya. Dan benar saja , Ia sekarang mulai membenarkan posisi tidurnya. Sehingga, Juna hanya bisa menatap jengah akan tingkah kakaknya satu ini.


"Wajar saja, Bang Adam tidak tertarik pada kakak. " Sindir Juna yang langsung membuat Keena menatapnya tajam.


"Kenapa kamu malah bawa bawa, Bang Adam segala?. " Ketusnya selalu saja sensitif jika menyangkut nama Adam.


Juna hanya menarik sudut bibir nya tipis. Menutup pintu kamar nya. Dan kembali melangkah menuju arah ranjang nya kembali . Mematikan laptopnya dan langsung menghidupkan lampu tidurnya. Berniat mematikan lampu kamar nya. Karena lampu tidur nya telah menyala. Tapi, Keena langsung mencegahnya.


"Jangan di matikan lampu nya!." Seru Keena memohon. Sebab, Gadis itu memang takut jika gelap. Bahkan, Ia tidur tidak pernah mematikan lampunya sama sekali.


"Dasar penakut. " Cibir Juna yang ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping kakakny. Namun, Ia langsung menberi batas dengan bantal guling. Agar mereka ada jarak saat tidur. Sebab, Kakanya itu juga sangat rusuh jika sedang tidur.


Brak!


"Kak keke... " Juna sedikit mengeraskan suaranya. Saat tiba tiba Keena malah memeluk adiknya. Dan juga mendaratkan kakinya tepat di pinggang sang adik.


"Diam!. Jangan banyak protes!. Nanti setelah kita menikah, Kakak tidak bisa peluk kamu lagi. Karena kamu udah di peluk sama istri mu juga. " Seloroh Keena sambil menarik sudut bibir nya.


"Tapi, Nggak gini juga kak. " Protes Juna sedikit risih. Karena ia bukan anak kecil lagi. Yang bisa di peluk sana sini. Apalagi sekarang mereka sudah dewasa.


"Kenapa?. Kamu takut kalau burungmu berdiri juga?. "


"KAKAK... "


Bukannya canggung setelah menggoda adiknya. Keena malah terkekeh puas. Membuat Juna hanya bisa pasrah dan membiarkan kakaknya melakukan apapun yang ia mau. Daripada ia kesiangan bangun hanya gara gara berdebat dengan Keena yang tak pernah ada habisnya itu.