
Tiga Bulan Kemudian...
Hari demi hari telah berlalu. Banyak kisah selama tiga bulan terakhir ini. Tak terkecuali kehidupan yang di lalui oleh Arga. Dimana ia masih saja enggan untuk menemui Mamanya. Pria itu lebih memilih untuk tinggal di Apartemen nya sendiri. Dan ia juga tak pernah menyapa Mamanya saat di perusahaan.
Arga masih saja kecewa dan marah, Karena ia baru tahu jika dirinya adalah anak yang tak di inginkan oleh Mamanya. Namun, Selama tiga bulan terkahir ini, Ia malah ada hiburan tersendiri saat pulang ke Apartemen nya. Dimanan gadis cantik yang tak lain dan tak bukan adalah tetangga barunya itu, Merupakan seorang gadis yang unik baginya. Tak heran jika keduanya kini pun sudah nampak akrab satu sama lainnya.
Bahkan, Tak jarang jika keduanya sering makan bersama. Dan memasak bersama karena gadis yang bernama Wulan itu sama sekali tidak bisa masak. Padahal, Ia adalah seorang wanita yang seharusnya adalah keahliannya dalam urusan dapur. Namun, Oleh karena itulah Arga dan Wulan menjadi dekat. Sebab, Berulang -ulang kali Wulan membuat kericuhan hanya gara-gara tidak bisa memasak. Namun, Ia juga enggan makan makanan luar. Apalagi yang tidak higenis katanya.
Hari ini Arga pulang sedikit telat. Karena ada beberapa pekerjaan, Yang mengharuskan nya untuk tetap lembur. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang sebahunya. Berjalan begitu anggun, Memasuki gedung pencakar langit setelah melewati penjaga dengan mudah. Akhirnya ia bisa masuk dengan leluasa dalam bangunan ini.
Di tekan nya tombol lift. Tepat di lantai mana teman nya berada. Sedangkan, Di tangan nya membawa paperbag berisi makanan. Yang ia beli langsung dari restoran terbaik di kota ini.
Senyum gadis itu merekah. Ketika ia sudah berada di dalam lift. Suasana perusahaan sudah sedikit sepi. Namun, Di lantai sepuluh sana lampu ruangan masih saja menyala.
Ting...
Pintu lift terbuka, Membuat gadis itu segera melangkah kan kakinya lebar. Menuju ruangan tempat teman nya sedang bekerja.
Tok... tok... tok...
Ceklek...
"Wulan" Seru Arga ketika pintu ruangannya terbuka dari arah luar. Dan memperlihatkan wajah cantik seorang gadis khas asia. Dengan mata sipit kulit yang begitu putih mulus.
Arga mengira tadi adalah security atau pun OB yang masih lembur. Namun, malah salah duga. Yang datang nyatanya tetangga apartemen nya sendiri. Dan hal yang membuatnya bingung adalah kenapa Wulan bisa masuk. dengan mudah kedalam perusahaan nya itu.
"Apa aku mengganggu mu?. " Tanya Wulan sambil menampilkan senyum terbaiknya.
"Tentu saja tidak. " Jawab Arga yang ikut tersenyum pada teman nya itu. "Oh ya, Bagaimana bisa kamu masuk ke ruangan ini?. Bukankah di bawah masih ada security yang jaga?. " Tanya Arga masih saja penasaran.
Wulan malah terkekeh, Lalu meletakkan paper bag di atas meja sofa. Tepat di samping meja kerja Arga. Lalu ia duduk di sofa tersebut dengan santainya.
"Aku bilang pada mereka, Jika aku adalah kurir makanan. " Jawab Wulan dengan kedipan matanya. Hingga mampu membuat Arga terkekeh akan tingkah Wulan saat ini.
Dan inilah yang membuat Arga betah, Lama lama di dekat gadis itu. Ia mampu menghibur dirinya, Di saat kepala nya semakin pusing. Akan memiliki cara untuk membuat Mamanya insyaf. Dan meminta maaf pada semua orang yang telah ia Zholimi. Setelahnya ia menyerah kan dirinya, Untuk di adili di pengadilan nantinya. Namun, Bukannya tobat Julia malah semakin merajalela saja. Sehingga Arga pun masih enggan untuk pulang.