
Julia mengangkat tangannya, Untuk menampar Wulan. Namun, Sayangnya gerakan tangannya terhenti saat Wulan telah lebih dulu menahan tangan Julia. Sehingga tangannya menggantung di udara. Mata wanita paruh baya terbelalak akan sikap gadis di hadapan nya saat ini.
"Kau... " Lagi lagi Julia berusaha untuk mengangkat tangannya, Tapi cekalan tangan Wulan lebih kuat daripada tenaganya.
Ketika Julia terus berusaha melepaskan tangannya. Saat itulah Wulan melepaskan nya dengan gerakan santai. Namun, Mampu membuat tubuh Julia terhuyung ke belakang dan hampir saja membentur ujung meja. Kalau saja sekretaris nya tidak cepat menghalangi dengan tubuhnya.
"Nyonya, Kalau sudah tua itu lebih baik istirahat saja di rumah!. Duduk dengan manis tanpa melakukan apapun lagi, Kan tidak enak kalau sudah encok. " Sindir Wulan dengan nada mengejeknya.
"Lagian, Anda marah saat saya bilang Lon*eh tadi?. Upsss... " Wulan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Lalu ia malah terkekeh pelan, Seolah sengaja ingin memancing amarah Julia saat ini. "Bukannya benar ya, Kalau anda itu mantan... " Wulan mendekatkan dirinya kearah Julia. Sambil sedikit mencondongkan badannya yang ramping itu tepat di hadapan Julia.
"Seorang wanita malam, Yang di comot oleh pria kaya dan di angkat derajat nya, Lalu dengan tidak terimakasih nya anda malah ingin menguasai semua harta kekayaan nya juga. " Seru Wulan dengan sindirirannya lagi.
Mendengar itu Julia pun langsung tersulut emosinya. Dan kembali mengangkat tangannya lagi. Tapi, Lagi lagi gerakan nya kalah cepat dengan Wulan. Sehingga Julia sama sekali tak bisa menyentuh sedikit pun kulit gadis cantik itu.
"Nyonya, Tahan emosi anda!. " Bisik sekretaris nya berusaha menyadarkan atasanya tersebut.
Sudut bibir Wulan terangkat membentuk senyum liciknya. Lalu tiba-tiba Wulan berjongkok dan memohon pada Julian.
"Nyonya, Saya mohon jangan pisahkan saya dengan Arga!. Saya sungguh mencintainya, Saya rela melakukan apa saja untuk anda!. Tapi, Saya mohon jangan suruh saya untuk meninggalkan putra anda itu, Nyonya!. Hikss... hiks... " Sikap Wulan membuat Julia dan juga Sekretaris nya bingung.
Namun, Julia malah kini tersenyum penuh kemenangan nya. Saat Wulan berlutut memohon di kaki nya. Seolah ia mengaku kalah dengan dirinya.
"Jangan harap saya, Akan menyetujui hubungan kalian. Karena saya tidak akan sudi memiliki calon menantu seperti kamu. " Bentak Julia dengan nada merendahkan nya.
"Apa yang...
" CUKUP MA!?. "
Julia langsung menoleh kearah pintu sana. Karena ia terkejut saat tiba-tiba ada suara Arga disana. Bahkan, Rasa keterkejutan nya belum reda akan penuturan Wulan barusan. Padahal, Ia sendiri tak pernah mengatakan hal seperti itu. Tapi, Bisa-bisanya Wulan bilang dengan mudahnya. Dan momen nya juga pas dengan kedatangan Arga.
"Arga sayang, Mama... "
"Apa mama belum puas juga?. " Sentak Arga sambil membantu Wulan berdiri dibawah kaki Mamanya. Hingga Julia tak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Sebab, Arsen telah lebih dulu memotong ucapannya.
"Sekarang, Apa lagi rencana mama?. Mama tidak pernah berubah sama sekali, Bisa-bisanya Mama meminta Wulan untuk membantu mama membunuh Kak Arsen kembali. Dimana hati nurani Mama?. " Arga menggeleng kan kepala penuh kekecewaan.
Julia hanya bisa menganga tak percaya. Begitu pula dengan sekretaris nya. Karena disaat Arga sedang bersitegang dengan Mamanya. Disana lah Wulan malah tersenyum mengejek nya.
"Kau... "
"Aww... " Wulan menyusupkan kepalanya di dada bidang Arga. Seolah bersembunyi karena ketakutan akan sikap Julia saat ini.
"Arga akan menikah dengan Wulan."
Deg...