Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 76: Alec Xander Bentlee (end)



Dev segera membopong sang istri dan membawanya ke rumah sakit. Bella segera ditangani dan Dev menunggu di depan ruangan bersama dengan Bu Ranti dan juga Tere.


“Lo tenang, Dev. Jangan mondar-mandir kayak setrikaan.” Ucap Tere.


“Bella lahiran sebelum waktunya, ya jelas gue cemas.” Ucap Dev panik.


“Tuan, memang ada yang melahirkan sebelum waktunya. Selama ini Nyonya Bella tidak mengalami kendala selama kehamilannya, pasti Nyonya baik-baik saja.” Ranti ikut menenangkan.


“Semoga, Bu.” Ucap Dev setuju.


Tidak lama kemudian sebuah tangis khas seorang bayi yang baru lahir terdengar. Dokter keluar dan mengabarkan Bella sudah melahirkan seorang bayi laki-laki dalam keadaan sehat. Dev tidak bisa menahan rasa harunya. Para pengawal, Tere, dan Ranti tidak henti-hentinya memberikan selamat pada Dev karena kini ia sudah menjadi seorang ayah.


Beberapa saat kemudian Dev dipersilahkan untuk menjenguk sang istri. Ia memasuki ruangan dengan senyum merekah di bibirnya. Ia melihat Bella terbaring dengan wajah yang kelelahan, penuh peluh, namun terlihat sangat cantik. Bella tersenyum lirih saat melihat sang suami menghampirinya.


“Sayang, kamu hebat banget.” Ucap Dev seraya mengecup pelan kening Bella.


Bella tidak mengatakan apa-apa. Ia terdiam. Pelupuk matanya digenangi air.


“Bel..” Dev membelai rambut sang istri.


“Kamu…” Bella berusaha mengatakan sesuatu di tengah isak tangis yang tiba-tiba muncul, “Gak apa-apa kok, kamu gak usah pura-pura seneng lagi depan aku.”


“Maksud kamu apa, Sayang?” tanya Dev.


“Aku tau selama ini kamu pura-pura bahagia dengan kehamilan aku. Padahal aku tau kok, dalam hati kamu ngerasa sedih.” Bella kembali histeris, “Anak itu bukan bayi kamu, Dev!”


Ini adalah pertama kalinya lagi, Bella kembali menangis histeris setelah beberapa bulan ia sangat tenang dan terlihat menguasai dirinya. Namun kelahiran putranya membuat Bella tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri bahwa anak yang dikandungnya bukanlah darah daging Dev, melainkan putra dari Kris, yang telah tega menodai Bella waktu itu. Kini kenyataan itu tidak bisa lagi ia sangkal.


“Kamu ngomong apa sih, Bel? Aku gak pura-pura bahagia. Selama dia adalah anak kamu, maka dia juga adalah anak aku. Aku bakal sayang sama dia sama kayak anak kandung aku sendiri.” Ucap Dev menenangkan, namun Bella terus menangis.


Dev sendiri tidak bisa lagi berbohong. Jujur, selama ini luka di hatinya terus berdenyut sakit. Mengingat bahwa ia harus hidup sebagai ayah dari anak Kris yang telah menodai sang istri, kadang membuat Dev merasa tidak rela. Namun ia selalu bisa menguasai dirinya di depan Bella. Karena saat mengingat anak itu akan memiliki darah daging Bella, Dev kembali bisa menerimanya. Selama dia anak dari Bella, maka anak itu akan menjadi anaknya juga. Begitu yang selalu Dev pikirkan.


Tiba-tiba seorang perawat datang, “Pak Dev, dokter Vito ingin bertemu dengan anda.”


“Kamu gak liat saya lagi bicara pada istri saya?!” Dev merasa terganggu dengan kehadiran perawat itu.


“Maafkan saya, Pak.” Ucap perawat itu merasa menyesal.


“Biar kami yang menemani Nyonya Bella, Tuan.” Ucap Ranti.


Mau tidak mau Dev pamit pada Bella, “Sayang, aku ketemu dokter Vito dulu sebentar ya.” Seraya menghapus air mata Bella yang terus mengalir deras.


Dev kini berada di ruangan Dokter Vito, “Ada apa, Dok?”


“Sebelumnya saya meminta maaf karena lancang meminta anda datang kemari disaat Nyonya Bella baru saja melahirkan.” Ucap Dokter Vito.


“Gak apa-apa, dok. Katakan saja ada apa.” Ucap Dev tidak sabar, jujur ia memang sedikit merasa terganggu. Ia ingin mendampingi Bella, apalagi dengan emosi Bella yang kembali tidak terkontrol membuat Dev ingin berada di samping Bella dan menenangkannya.


“Ada hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan sejak dulu. Hal ini kembali mengganggu saya setelah Nyonya Bella melahirkan sebelum waktunya. Begini, Pak, Dokter spesialis kandungan mengatakan Nyonya Bella tidak melahirkan lebih cepat, namun tepat pada waktunya.”Ucap Dokter Vito. Dev mengerutkan dahinya, merasa bingung. “Maaf sebelumnya, Pak, apakah anda pernah melakukan hubungan intim dengan Nyonya Bella sebelum kejadian itu?”


Dev mulai mengerti maksud pertanyaan Dokter Vito.


“Iya, Dok. Sekitar dua minggu sebelum kejadian itu, saya dan Bella pernah melakukannya.” Tiba-tiba saja sebuah harapan muncul dalam benak Dev.


“Saya menyarankan anda dengan putra dari Nyonya Bella melakukan tes DNA. Ini untuk lebih memastikan saja. Namun saya mengatakan ini hanya sebagai dugaan saya saja. Mohon anda tidak kecewa jika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan.”


“Nggak, Dok. Saya juga ingin segera memastikannya. Tolong lakukan tes itu, tapi saya mohon Bella jangan sampai tau dulu.”


Dokter Vito mengangguk setuju. Segera setelah dari ruangan Dokter Vito, Dev melakukan Tes itu, dan sebuah harapan besar muncul. Namun ia terus menghalaunya. Ia tidak ingin kecewa jika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.


Beberapa hari kemudian Bella sudah diperbolehkan untuk pulang. Ia terlihat lebih pendiam, kelahiran putranya membuat Bella kembali teringat dengan traumanya. Meskipun demikian, Bella tetap memberikan ASInya pada sang putra. Ia menyayangi putranya, namun masih sedikit sulit untuk berdamai dengan masa lalunya itu.


Dev sangat khawatir dengan keadaan Bella. Susah payah Bella terlepas dari traumanya, kini ia harus melihat Bella kembali diselimuti ingatannya akan kejadian kelam itu. Dev ingin segera mengetahui hasil tes


tersebut, namun tes itu baru bisa keluar setelah satu hingga dua minggu.


Sekitar dua minggu kemudian, hasil tes DNA keluar. Dev segera menemui Dokter Vito di rumah sakitnya.


Dokter Vito menyodorkan amplop berisi hasil dari tes DNA yang telah dilakukan.


Dev membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya. Dev menatap kertas tersebut dan hasil dari tes DNA menyatakan bahwa 99,99% Dev adalah ayah biologis dari bayi itu.


“Ini beneran, Dok?” Dev masih belum bisa mempercayainya.


“Betul, Pak. Anda ayah kandung dari bayi Nyonya Bella. Selamat Pak, Ini buah dari kesabaran anda selama ini.”


"Tapi bukankah Bella diperiksa saat sesudah kejadian itu? Harusnya saat itu para dokter sudah tau kalau Bella hamil?"


"Maafkan kami, Pak Dev. Kehamilan pada satu sampai dua minggu pertama memang agak sulit terdeteksi. Namun itu juga bisa karena kelalaian dari kami, sekali lagi maafkan kami, Pak." ucap Dokter Vito menyesal.


Namun Dev tidak terlalu mempermasalahkan itu. Yang penting kini kebenaran sudah terungkap. Dev tidak bisa menahan rasa bahagia yang membuncah dari dalam dirinya.


Setelah itu ia segera pulang membawa hasil tersebut. Ia tidak sabar untuk menemui Bella. Ini akan menjadi obat yang paling tepat yang akan menyembuhkan trauma Bella.


Sesampainya di Rumah Besar, seorang pengawal mengatakan bahwa Hirawan baru saja sampai dari pengobatan paru-parunya di Swiss. Ia kini berada di kamar Bella.


“Nak, lupakan masa lalu. Dia adalah putramu dan juga Dev.” Hirawan terlihat sedang memegang tangan sang cucu yang terus menangis.


Dev menghampiri mereka, “Kakek udah pulang?” tanya Dev mencium hormat tangan sang kakek mertua.


“Iya, kakek baru bisa pulang karena Dokter baru mengizinkan Kakek pulang sekarang. Dev, kamu dari mana?” tanya Hirawan.


Dev tidak bisa menahan senyum bahagianya, “Saya dari rumah sakit, Kek. Saya baru saja bertemu dengan Dokter Vito.”


“Ada kabar apa? Kenapa kamu terlihat sangat senang?” tanya Hirawan penasaran.


Dev berjongkok di sebelah Hirawan yang berhadapan dengan Bella yang duduk di sofa.


“Silahkan anda lihat ini, Kek.” Ucap Dev.


Hirawan meraih amplop putih itu. Ia mengeluarkan isinya dan mulai membacanya.


Dev memegang tangan Bella dan menghapus air mata Bella.


“Ini..?” Hirawan terlihat terperangah hingga tidak bisa berkata-kata. Bella terlihat penasaran dengan kertas itu. “Kamu baca ini, Nak.” Hirawan menyerahkan kertas itu pada Bella.


Bella bergeming, tidak menyambut kertas itu.


Dev meraup kedua pipi Bella, “Bel, selama ini kamu bener-bener mengandung anak aku. Bayi itu darah daging aku, Bel!”


Bella menatap Dev dengan tatapan yang sulit diartikan. Dev kembali meyakinkan Bella, “Malam kelopak mawar merah di apartemen kamu, Bel.”


“Enggak, Bel. Ini Beneran. Waktu kamu melahirkan, aku ketemu Dokter Vito. Aku lakukan tes itu, karena para dokterpun punya kecurigaan yang sama. Kamu melahirkan sebelum waktunya, tapi ternyata nggak, Bel. Kamu melahirkan tepat waktu. Karena kamu udah dalam keadaan hamil saat kamu ketemu sama Kris hari itu. Bayi itu bukan anak Kris, dia anak aku!” Ucap Dev bersemangat, dan memeluk Bella yang kini masih tertegun tidak percaya.


“Bawa kemari, cicit saya.” Ucap Hirawan pada Ranti yang sejak tadi berada disana bersama dengan bayi mungil itu. Ranti menggendong bayi itu dan membawanya menghampiri Hirawan, kemudian Hirawan menggendongnya dan menatap wajah kecil di pangkuannya dengan senyum merekah di wajahnya.


Bella menatap Dev, masih tidak percaya. “Dia beneran anak kamu?” lirih Bella.


Dev mengangguk mantap, “Dia anak aku, Bel. Anak kita.” Dev kembali meyakinkan Bella.


Sontak Bella memeluk Dev untuk menyalurkan rasa bahagia yang tiba-tiba saja membuncah di hatinya, menggantikan segala rasa sakit dan gelisah yang selama ini dirasakannya.


“Bayi ini adalah darah daging kamu dan Dev, Bella. Cicit kakek. Penerus Xander Corp generasi keempat dan pemegang saham utama Bentlee Shop dari Omega Group.” Ucap Hirawan dengan mata berbinar. Dengan bangga ia menyebutkan bayi mungil itu adalah pewaris dari perusahaan raksasanya, dan juga start up yang tengah dikembangkan oleh Dev.


Bella melepas pelukannya, menghapus air matanya, dan menatap sang Kakek, “Kakek, dia masih bayi.” Ucap Bella penuh haru.


“Masa depan dia udah jelas, Bel. Dia akan melanjutkan tampuk kekuasaan yang sekarang dipegang oleh Dev, ayah kandungnya.” Hirawan menatap Dev dan Bella bergantian dengan bahagia.


“Kakek, bisakah kasih nama untuk anak saya dan Bella?” pinta Dev.


Hirawan kembali menatap sang cicit, “Kakek sudah memikirkan sebuah nama untuknya.”


Dev dan Bella menunggu dengan penasaran. Lalu Hirawan berkata, “Nama bayi ini adalah Alec Xander Bentlee.” ucapnya dengan penuh kebanggaan, menyematkan nama Xander dan Bentlee pada cicitnya itu.


Dev dan Bella mengangguk setuju, “Nama yang bagus, Kek.” Ucap Dev.


“Kita akan buat pesta yang sangat besar untuk menyambut kelahiran Alec. Dan juga pernikahan kalian berdua.” Ucap Hirawan.


“Tapi kita udah nikah kan, Kek?” tanya Dev.


“Kalian menikah dengan sangat sederhana dan hanya upacara pernikahan saja saat itu. Kakek ingin kalian mengadakan resepsi yang sangat meriah, kalian layak mendapatkannya.” Ucap Hirawan, “Panggil Raka kemari.”


Raka, asisten kepercayaan Hirawan muncul dari pintu dengan tergesa.


“Buat acara semeriah mungkin untuk resepsi pernikahan Bella dan Dev, juga penyambutan untuk cicit saya. Buat acara yang meriah dan sebesar-besarnya. Undang semua rekan bisnis saya. Kamu paham?” perintah Hirawan.


“Akan saya lakukan, Pak.” Ucap Raka.


Hirawan menyerahkan sang bayi pada Dev, “Gendong putramu, Dev.”


Dengan hati-hati Dev menerima tubuh mungil itu. Ia tatap wajah kecilnya. “Anak Papa…” Dev tak bisa menahan harunya, “Tumbuhlah jadi anak yang hebat, bahagia, dan juga sehat, Nak.”


Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya keluarga Xander dengan kehadiran Alec di tengah-tengah mereka, terutama Bella. Seketika kejadian kelam itu terhapus sudah dari benak Bella. Alec adalah putra dari Dev, darah daging Dev. Itu adalah hal terindah dan terbaik yang pernah terjadi dalam hidup Bella.


***


(EPILOG)


Langkah Dev terdengar menggema di lorong Rumah Besar. Wajahnya kesal. Mulutnya terus meneriakkan nama sang istri.


“BEL!” teriak Dev.


Bella keluar dari sebuah kamar dan menutup pintunya perlahan.


“Apa sih teriak-teriak, Alec baru tidur. Susah nidurin dia sekarang tau! Kalo dia bangun lagi kamu yang nidurin.” Ucap Bella dengan wajah cemberut sembari berjalan menuju kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Alec, Dev mengekor di belakang Bella.


“Iya iya nanti aku yang nidurin kalo dia bangun. Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu bilang sama panitia kalo aku bakal balapan di sirkuit bareng sama rider motoGP?!” tanya Dev.


Bella tertawa melihat wajah Dev yang tegang, “Emang kenapa? Ini kesempatan bagus loh. Lagian kamu bakal balapan bukan buat beneran tanding buat menang, tapi sebagai bentuk partisipasi dari event motoGP yang kali ini


disponsorin sama Xander. Kamu ‘kan yang pengen jadi sponsor utama event itu.”


“Ya tapi kan gak ikut balapannya juga. Aku udah gak pernah balapan sejak 5 tahun lalu, Bel! Masa aku harus balapan sama Fernandez dan yang lainnya?!” Ucap Dev masih tidak terima, “Otak kamu bisa gak sih berhenti mikir


sesuatu yang absurd kayak gini?!”


Bella mengulum senyumnya melihat wajah kesal sang suami, “Cuma satu lap aja! itu juga cuma pembuka doang. Sayang, kamu itu udah terlalu cape kerja. Kamu seneng-seneng dong sedikit. Balapan lagi kayak dulu. Biar kamu gak stress terus gak marah-marah terus. Dulu kamu tuh baik banget, sabar banget, kok sekarang emosian. Ngomel terus kerjaannya tiap hari.”


“Gimana gak pusing, ratusan ribu karyawan itu harus aku pikirin keberlangsungan hidupnya! Terus punya istri sama anak yang kelakuannya bikin aku migrain tiap hari! Gak bisa, aku gak mau balapan!” Dev dengan tegas menolak.


“Ducati loh yang bakal jadi tim kamu.” Ucap Bella memancing Dev dengan merk favorit dari sang suami. Namun Dev terlihat tidak tertarik.


“Ya udah kalo gitu, malam ini kamu tidur sama Alec aja.” Bella mendorong tubuh Dev keluar kamar.


“Yang! Kamu gitu kebiasaan ngancemnya,” Dev merajuk. “Yauda Iya. Aku ikutan balapan besok.”


“Nah gitu dong, Alec pasti seneng liat papanya balapan. Siapa tau dia ngikutin jejak kamu.” Ucap Bella sembari melingkarkan tangannya di sekeliling leher Dev.


“Iya. Semoga Alec makin kesini makin kayak aku. Aku cape sama sikap dia yang lebih mirip kamu.” Ucap Dev.


“Loh emang kenapa kalo mirip aku?” tanya Bella tanpa dosa.


“Aku mau dia jadi anak sebaik aku, bukan anak yang bar-bar kayak ibunya. Baru aja kemarin dia gangguin temen sekelas dia di TK sampe nangis, tadi dia cubit anaknya Abbas sama Tere sampe tuh anak nangis kejer. Mirip kan sama kamu?!”


“Mainan Alec diambil sama temennya. Terus dia ambil lagi mainan dia terus dia marahin aja temennya itu, eh taunya anak itu malah nangis. Ya bukan salah Alec dong. Terus Alec cubit Aisha karena itu anak emang gemes banget, Yang. Masa masih satu tahun tapi udah segemuk itu. Abbas sama Tere ngasih makan apa sampe anaknya segemesin itu. Siapa yang gak tahan buat gak nyubit coba?” Bella membela sang putra.


“Nah itu tuh, belain aja terus kalo anak kamu bikin sal…” tiba-tiba saja Bella mengecup bibir Dev.


Dev terdiam.


“Udah marahnya?” tanya Bella.


Dev terdiam. Bella mengecup sekilas bibir Dev lagi dan Dev masih bergeming.


“Jadi gak mau jatah malam ini?” tanya Bella dengan nada seduktif.


Dev memalingkan wajahnya.


Bella mundur beberapa langkah dari Dev dan mulai memainkan ekspresi wajahnya, “Kok panas ya malam ini?” Bella mengipas-ngipaskan tangannya pada lehernya.


Bella menyingkap rambut panjangnya yang menghalangi dadanya ke belakang. Satu persatu ia buka kancing blouse yang dikenakannya dengan sangat perlahan, memancing hasr*t sang suami yang masih berdiri dengan wajah kesalnya.


Saat tiga kancing sudah terbuka, dan belahan bukit kembar Bella sudah terlihat, ekspresi wajah Dev mulai berubah. Ia menghela nafas dan menggerak-gerakan rahangnya.


“Kayaknya…” Bella kembali mengancingkan blousenya dengan cepat, “nyalain AC aja deh biar gak panas.”


Terlihat wajah Dev berubah kecewa dan seketika menghampiri Bella, “Kamu main-main sama aku?” tanya Dev kemudian membopong tubuh Bella ke tempat tidur seraya berkata, “Siapin stamina kamu. Kamu dihukum malam ini!”


MARRY ME, DEV, SELESAI.