
Dev berpikir sejenak. Setelah pertemuannya dengan Hirawan tadi siang, Hirawan mengatakan bahwa ia bersedia memberikan perlindungan yang dibutuhkan oleh Dev selama ia melancarkan aksinya untuk membuat Hendra pergi dari Xander. Apakah yang dimaksudkan perlindungan itu termasuk membiarkan Dev tetap berada di Xander Security? Jika iya, maka Dev tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
“Okay, gue terima taruhannya.” Ucap Dev mantap. Ia berjalan kembali ke motornya.
“Lo berarti udah siap pergi dari Bella. Bagus deh.” Ujar Kris.
Dev tidak menggubris ucapan Kris, dan kembali mengenakan helm fullfacenya, bersiap membawa motornya ke lintasan.
“Dev, lo serius? Mau menang ato kalah lo harus pergi dari sini, 'kan?!” Abbas mengingatkan.
“Lo gak perlu khawatir, gue gak akan pergi kemana-mana. Dan gue bakal dapetin 50 jutanya.” Ucap Dev dengan tenang.
Seorang pria dengan motor ninja hitam sudah bersiap di lintasan, Dev segera bergabung dengannya. Sorakan dari anggota geng Black Panther semakin riuh terdengar, memberikan semangat pada Red Eagle, pembalap kebanggaan mereka. Kris terlihat di sisi lapangan bersama beberapa orang anak buahnya yang lain, memperhatikan jalannya balapan ini.
Kedua motor itu mulai melaju kencang. Sebuah drone milik salah satu anggota Black Panther terbang di atas lintasan dan memantau balapan yang sedang berlangsung. Mereka sibuk dengan HP mereka masing-masing, memerhatikan Dev dan juga anak buah Kris yang sedang melajukan motornya.
Beberapa kali Dev terlihat unggul, beberapa kali juga Dev hampir disalip oleh motor itu. Namun pada lap terakhir Dev mulai memacu motornya lebih kencang lagi dan Dev mencapai garis finish lebih dulu dari anak buah Kris. Anggota Black Panther bersorak riuh atas kemenangan Dev, dan menghampiri Dev yang masih menunggangi motornya.
Kris menghampiri Dev yang sedang membuka helm fullfacenya, “Lo menang. 50 juta udah gue transfer ke rekening Xander atas nama lo.” Kris memperlihatkan layar HPnya yang menunjukkan bukti transfer.
“Sekarang tepatin janji lo buat pergi dari sini! Ini terakhir kalinya gue liat lo di Jakarta. Kalo sampe besok lo masih di sekitar sini, gue yang bakal seret lo pergi. Ngerti lo?!”
Kemudian Kris dan anak buahnya pergi setelah ancamannya itu.
“Dev, gimana dong? Kris pasti mantau lo udah ini. Mana dia bawa-bawa bodyguard Xander Security juga, ‘kan? Jangan cari masalah sama mereka.” Ucap Mondi khawatir. Di kalangan anak geng motor seperti mereka, Xander Securitypun sudah sangat dikenal sebagai organisasi yang sangat ditakuti.
“Gue gak akan kemana-mana, Mon. Lo tenang aja.” Ujar Dev dengan tenang.
***
Dengan langkah terburu Bella masuk kembali ke dalam mansion dan berniat menerobos masuk ke ruang kerja sang Kakek dan bertanya apa yang dikatakan sang kakek hingga kekasihnya itu begitu murka. Namun di pintu ruang kerjanya, Hirawan dengan kursi roda yang didorong oleh Ranti, pelayan senior di keluarga Xander, keluar dari ruang kerjanya bersama dengan Dokter Vito, dokter pribadi Hirawan. Hari ini setelah jamuan makan siang itu, Hirawan memang sudah dijadwalkan untuk pemeriksaan rutin mengenai kesehatannya.
“Bella? Ada apa?” tanya Hirawan melihat wajah Bella yang terlihat sangat kesal.
“Ah itu… Gak ada apa-apa, Kek.” Bella mencoba untuk mengubah ekspresi wajahnya, Ia tersenyum pada Dokter Vito. “Aku cuma mau pamit. Ada yang masih harus aku kerjakan, Kek.”
“Begitu rupanya. Gimana sakit kepala kamu?" tanya sang kakek.
"Udah mendingan, Kek. Barusan udah minum obat. Aku pergi sekarang ya, Kek." dusta Bella.
"Ya sudah kamu hati-hati, ya.” Ucap Hirawan kemudian pergi menuju ke kamarnya bersama Ranti dan Vito.
Tere menghamipiri Bella yang berjalan menuju pintu keluar. “Nona, ada telepon dari Raka.” Tere menyerahkan HP milik Bella. Bellapun mengusap layar dan menerima panggilan dari asistennya itu.
“Ada apa?” tanya Bella.
“Kita ke kantor.” Ucap Bella saat dirinya sudah terduduk di dalam mobil. Tere segera melajukan mobil itu menuju gedung Xander Corp.
Sepanjang perjalanan Bella tidak henti-henti bertanya dalam hati, ada apa dengan Dev? Apa yang kira-kira kakeknya katakan padanya? Jika saja sang kakek tidak sedang akan memeriksakan kesehatannya, ia akan segera menemukan jawabannya. Leo mengatakan Dev butuh waktu untuk berpikir, apakah sang Kakek tidak menyetujui hubungan mereka seperti yang selalu ia khawatirkan selama ini?
Bella membuka HPnya dan mencoba menghubungi Dev. Namun HPnya tidak aktif. Bella melemparkan HPnya ke kursi di sebelahnya sambil menghela nafas dengan kasar. Apa ia akan kehilangan Dev lagi kali ini?
Bellapun tiba di gedung Xander Corp. Gedung itu sepi karena hari itu hari Sabtu. Hanya terlihat beberapa pengawal dan satpam. Saat di lobi dua orang perempuan yang sangat dikenalnya datang menghampiri Bella. Bella mengerlingkan matanya tidak suka dengan kehadiran mereka.
“Wah, CEO kita hari Sabtu begini juga datang ke kantor ternyata. Kamu emang hebat, Bella. Tante bangga sama kamu.” Ucap Lidya, entah ucapannya itu tulus atau gimik, Bella tidak peduli.
“Ngapain Tante disini?” tanya Bella dengan dingin.
“Kita mau jemput Daddy. Barusan dia ngambil sesuatu yang ketinggalan di ruangannya. Kita mau makan malam di Singapura. Kak Bella mau ikut?” tanya Stella.
Bella memijat keningnya pelan. Di saat dirinya harus bekerja di hari Sabtu seperti ini, keluarga tidak tau diri itu malah akan pergi makan malam di negara tetangga.
“Gue gak ada waktu. Gue bukan orang yang gak ada kerjaan kayak kalian.” Kemudian Bella meninggalkan kedua perempuan menyebalkan itu.
“Bel, mana pengawal kamu yang bernama Dev itu? Kok gak jagain kamu? Setelah kamu nolak pengusaha-pengusaha muda sukses yang coba kakek kamu jodohin ke kamu, ternyata pilihan kamu jatuh sama pengawal kayak dia? Kenapa kamu gak sama Kris aja sih, Bel? Dia emang pengawal kamu dulu, tapi liat dia sekarang. Perjuangan dia buat menyetarakan dirinya sama kamu, patut diacungi jempol loh.” Ujar Lidya.
“Iya, Kak. Kak Kris itu keren banget. Selama ini dia jagain kakak padahal Kakak kasarin dia terus. Kak Kris juga ganteng. Kok kakak bisa sih gak jatuh cinta sama dia padahal tiap hari dulu selalu bareng-bareng.” Stella menimpali sang ibu.
Bella mengerutkan keningnya. Ada apa dengan mereka berdua?
“Bukannya kalian benci sama Kris? Kenapa sekarang malah muji-muji dia? Gue masih inget kalian ngehina dia pas makan malem waktu itu.” Bella menatap tajam keduanya bergantian, “Satu hal lagi, gak usah ngurusin hidup orang lain. Urusin aja hidup kalian sendiri.” Kemudian Bella berjalan kembali menuju lift meninggalkan kedua perempuan itu.
Bella sampai di ruangannya. Raka sudah ada disana dan menyampaikan hal mendesak yang harus segera ditangani oleh Bella. Hingga malam haripun datang, pekerjaan Bella sudah rampung seluruhnya dan iapun kembali ke apartemennya.
Ketika sampai di basement Bella melihat motor Dev sudah tidak ada. Iapun segera menaiki lift menuju ke unit miliknya. Saat di lift HPnya bergetar. Raka meneleponnya lagi dan segera Bella mengangkatnya.
“Mohon maaf Bu Bella, ada hal yang harus saya sampaikan.” Ucap Raka di seberang sana.
“Ada apa lagi? Gue bahkan belum nyampe rumah, sekarang lo udah nelepon lagi.” Gerutu Bella.
“Ini soal Dev. Dev mentransfer uang sebesar 50 juta ke rekening kantor.”
“50 juta?!” Bella mengulangi ucapan Raka, memastikan bahwa yang didengarnya tidak salah.
Bella menutup teleponnya dan berjalan tergesa menuju apartemennya segera setelah pintu lift terbuka. Ia mengakses pintu unit miliknya dan berjalan menuju kamar belakang, ia melihat jaket milik Dev sudah tidak ada.
“Dev, lo kemana? Kenapa lo bisa bayar 50 juta itu? Lo dapet uang darimana?” gumam Bella dengan resah.