Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 59: Penculikan



Hendra dan Stuart bersiap untuk pulang. Mobil Alphard hitam menjemput mereka di lobi gedung Xander Corp.


“Kabari segera jika ada kabar terbaru.” Ucap Hendra pada seorang pengawal setianya.


“Baik, Pak.” Ucap pengawal yang tergabung ke dalam tim Sigma itu.


Mobil segera melaju setelah Hendra dan Stuart masuk ke dalam mobil itu. Di dalam mobil mereka terus merasa resah. Karena belum ada kabar dari pesawat yang ditumpangi Lidya dan Stella. Stuart bahkan terus berurai air mata.


“Kamu cengeng sekali sih? Hanya karena perempuan kamu nangis sampe segitunya?!” ucap Hendra marah.


“Aku gak bisa kehilangan Vanessa, Dad.” Ucap Stuart sambil sesenggukan.


“Dasar, kamu bikin malu aja! Jangan sampai orang-orang ngeliat kamu seperti ini! Mau ditaro dimana muka Daddy!” teriak Hendra.


Stuart terus saja menangis seperti bayi besar.


“DIAM!” teriak Hendra murka, “Kamu bikin Daddy makin sakit kepala!”


Stuartpun menahan tangisnya, ia mencoba menguasai dirinya.


Seseorang tiba-tiba saja muncul dari kursi belakang dan memukul kepala Stuart hingga pingsan. Sontak Hendra menoleh kebelakang dan ketika akan berteriak orang itu membekap mulut dan hidung Hendra hingga akhirnya iapun pingsan.


Mobil terus melaju ke dermaga. Disana tubuh Hendra dan Stuart dibawa ke sebuah kapal feri oleh dua pengawal Alpha yang ternyata sudah membajak mobil Hendra saat mereka akan pulang tadi. Kapal feri itupun segera meninggalkan dermaga dan melaju menuju sebuah pulau terpencil.


Tidak lama kemudian tubuh kedua ayah dan anak itu digotong ke sebuah Gudang tua tempat menyimpan ban-ban bekas yang sudah tidak terpakai. Anggota Black Panther sudah ada disana. Begitu juga Lidya dan Stella. Tubuh kedua perempuan itu didudukkan dan diikat dengan tali tambang pada masing-masing kursi kayu. Tubuh Hendra dan Stuart segera bergabung dengan kedua keluarganya. Kini keempat orang itu sudah diikat dan berjajar menghadap ke arah para anggota Black Panther.


Dev dan Abbas ada di sebuah ruangan terpisah dari gudang itu. Kini keduanya tidak lagi menggunakan seragam pengawalnya. Mereka memakai pakaian santai mereka lengkap dengan jaket kebanggaan mereka. Abbas menggunakan jaket bomber Black Panther, dan Dev menggunakan jaket Red Eagle miliknya.


Abbas terus berkutat dengan laptopnya. Dev dengan wajah cemas melihat ke arah laptop yang dioperasikan oleh sahabatnya itu. Dev sendiri sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Abbas lakukan. Ia hanya menunggu Abbas menyelesaikan instruksinya.


“Done!” Abbas memijit tombol enter di laptopnya.


“Udah?” tanya Dev.


“Udah.” Abbas bertepuk tangan heboh dan bersorak sorai. “Dari dulu gue pengen ngebajak internal TNI. Akhirnya setelah gue bersabar, kesampean juga.”


“Lo yakin udah berhasil ngirimin semua bukti itu ke semua atasannya Sumargo?” tanya Dev masih tidak yakin.


“Ya elah, Bro. Lo gak percaya banget sih. Sini gue jelasin,” Abbas menatap Dev dengan serius. “Gue udah kirim file bukti-bukti transaksi Sumargo sama Mr. Ryu bukan cuma ke Kepala Staf AU, tapi langsung ke Panglima tertinggi TNI. Gue juga kirim spam ke semua instansi militer AU tentang kasus-kasusnya Sumargo. Lo tenang aja, dia pasti abis. Pantengin aja berita, ini pasti bakal jadi topik utama.”


“Lo cerdas banget, Bro.” Dev menjabat tangan sahabatnya kemudian memeluknya dengan sumringah. “Kenapa gak dari dulu lo bantuin gue?” tanya Dev masih tidak percaya.


“Bro, gue gak mau gegabah. Intel militer juga bisa ngehack kali, jago-jago lagi. Kalo gue ketauan bisa abis gue. Beda sama sekarang, gue punya dekeng, Hirawan sama lo yang didukung Mr. Nates. Sumargo sama antek anteknya gak akan berani kalo tau dua orang penting itu ada di balik gue.” Jelas Abbas.


Abbas merangkul sahabatnya, “Emang bener, kebusukkan itu pasti bakal terungkap. Mau serapi apapun ditutupin, yang namanya bangkai pasti bakal kecium juga. Lo mujur banget, Bro, bisa kenal sama Bella, dipercaya Hirawan, dan sekarang salah satu pebisnis paling kaya di dunia aja ada di pihak lo. Gue beneran bakal setia sama lo, bro. Lo babuin gue juga, gue mau!”


“Apaan sih lo.” Dev tertawa mendengar ocehan sahabatnya itu, “Gue justru berterimakasih banget sama lo. Karena otak jenius lo itu gue bisa bersihin nama gue. Percuma gue kenal sama Hirawan dan Mr. Nates, kalo gak ada lo. Thanks banget, Bro. Gue bener-bener gak tau harus bilang apa lagi sama lo.”


Dev merasa lega. Beban yang selama ini dirasakannya, satu persatu mulai terangkat. Ia berhasil mengirimkan bukti adanya kerjasama antara Sumargo dan Mr. Ryu kepada kepala Staf AU. Menurut pendapat Abbas, Sumargo sudah bisa dipastikan hancur. Dev hanya tinggal menunggu, militer pasti akan memanggilnya kembali dan namanya di kemiliteran dapat dibersihkan.


“Kalem, Bro. Gue pasti bantuin lo sampe akhir.” ucap Abbas.


Dev mengangguk, dengan penuh dendam Dev berkata, “Sekarang giliran keluarga Andhara. Mereka bakal abis malam ini juga. Setelah itu, Kris. Gue bakal ancurin mereka semua”


Perlahan tubuh Stella mulai bergerak. Matanya memicing dan perlahan kesadarannya mulai kembali.


“Dev?” ucapnya.


Orang pertama yang Stella lihat saat membuka matanya adalah Dev yang kini duduk di kursi di hadapan mereka berempat. Stella melihat pria yang tadi pagi mengawalnya kini duduk dengan santainya di kursi dihadapannya


dengan kaki kanan menyangga kepada kaki kirinya. Ia juga sudah tidak lagi menggunakan seragam pengawalnya, namun menggunakan kaos hitam dibalik jaket kulit hitamnya, dan celana jeans belel. Sama sekali tidak seperti seorang pengawal yang selalu berpakaian rapi. Kini Dev lebih mirip dengan preman jalanan, dan itu membuat Stella sangat ketakutan.


Ditambah di belakang Dev berdiri beberapa orang dengan setelan yang lebih urakan. Penampilan Dev yang urakan diselamatkan oleh wajah tampannya, sehingga kesan menyeramkan tidak terlalu terasa. Namun orang-orang di belakang Dev, mereka berpenampilan layaknya preman sejati dengan wajah menyeramkan dengan banyak tindik dan tato menutupi lengan bahkan wajah mereka.


Stella mulai menyadari bahwa tubuhnya kini diikat sangat erat pada sebuah kursi. “Dev? Gue kenapa diiket kayak gini!? Siapa mereka?!” Stella mulai histeris.


Dev belum menjawab. Ia masih menunggu ketiga orang lainnya tersadar. Stella melihat ke arah kanan dan kirinya dan sontak terkejut melihat ayah dan ibu beserta kakak laki-lakinya yang tidak sadarkan diri dengan tubuh terikat pada kursi yang didudukinya.


“Mommy! Daddy! Kak Stuart! Bangun! Kita diculik! Dev nyulik kita!” Stella terus berteriak sambil terus berlinang air mata. “Kenapa lo ngelakuin ini, Dev?! Lepasin gue!”


“Gue gak akan ngomong dua kali. Jadi kita tunggu mereka bangun baru gue kasih tau kenapa kalian disini.” Ucap Dev dengan suara rendahnya.


Stella terus berteriak dan meronta-ronta berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Namun sia-sia, tali itu mengikatnya dengan sangat kuat.


“Mon,” panggil Dev.


“Kenapa, Dev?” ucap Mondi.


“Bangunin mereka.” Perintah Dev.


“Beres. Gue juga udah bosen nunggu mereka gak bangun-bangun.”


Mondi dan dua orang anggota Black Panther menghampiri Stuart, Hendra, dan Lidya. Masing-masing dari mereka menenteng satu ember air dan kemudian mengguyurkan seluruh air di dalam ember itu kepada masing-masing keluarga Andhara.


Seketika ketiga orang itu terbangun dan terkejut akibat dinginnya air yang mengguyur kepala mereka.


“Ini dimana?" ucap Lidya masih mencerna apa yang terjadi.


"Dev nyulik kita, Mom!" Stella terus menangis.


Lidya menatap ke arah Dev dan menyadari ia tidak bisa bergerak, "Kenapa kita diiket?!” Lidya mulai histeris.


Hendra baru saja sadar, sepertinya pengaruh obat bius yang dihirupnya belum hilang sepenuhnya. Lidya menoleh ke arah kanan dan melihat suami dan anak tertuanya disana.


"Daddy! Stuart! Bangun kita diculik!!" teriak Lidya. Stella terus membangunkan ayah dan kakak laki-lakinya itu.


Kemudian Hendra mulai sadar dan menyadari tubuhnya diikat. Ia menoleh ke arah kirinya dan melihat sang istri dan anaknya disana menangis histeris. Kemudian ia menatap Dev yang duduk di hadapannya dengan penuh benci.


“Berani-beraninya kamu, DEV!!” teriak Hendra murka.


Dev hanya tersenyum puas melihat orang-orang di depannya begitu terkejut dan berteriak histeris.


Berbeda dengan yang lain, Stuart justru tertegun saat menyadari sosok yang dikenalnya kini berjalan menghampiri pria-pria menyeramkan di belakang Dev dan bergabung bersama mereka.


“Vanes, kenapa kamu ada disini?” tanya Stuart.