Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 34: Pacar Kepala Batu



Kring…kriiingg…


Sebelum Dev menjawab, HP Bella berdering.


Bella meletakkan garpu yang sedang dipegangnya dan menengok ke layar HPnya, nama sang kakek terpampang disana.


“Dev, bentar ya. Kakek nelpon.” Ucap Bella.


Bellapun mengangkat teleponnya tanpa beranjak dari kursinya.


Drrrtt….drrrtt….


Kini giliran HP Dev bergetar. Sebuah notifikasi chat dari Abbas muncul di dilayar. Dev membukanya.


[Abbas]: Bro\, masih idup lo? Kenapa gue telepon lo susah banget sih sekarang?


Dev tersenyum tipis membaca chat dari sahabatnya itu. Ia memang sudah lama tidak datang ke markas Black Panther ataupun sekedar membalas dan mengangkat telepon dari Abbas.


[Dev]: Gue sibuk\, bro\, sorry. Ada apa?


[Abbas]: Entar malem ada yang ngajak lo balapan. Lo bisa gak?


[Dev]: Siapa? Gue gak janji.


[Abbas]: Gue gak tau siapa\, tapi dia nawarin uang taruhan 50 juta.


50 juta? Siapa kira-kira orang yang berani mempertaruhkan uang 50 juta untuk taruhan? Sepanjang ia balapan, uang yang dipertaruhkan tidak pernah sebesar itu. Seketika Dev tergiur. Uang itu bisa ia gunakan untuk membayar ganti rugi kerusakan dinding kaca.


[Dev]: Gede amat? Lo emang punya uang segitu? Kalo gue kalah gimana?


[Abbas]: Nggak. Dia gak minta kita bayar 50 juta juga. Katanya kalo kita kalah\, lo harus ngelakuin sesuatu buat dia.


Dev semakin merasa penasaran dengan orang yang mengajaknya balapan ini.


[Dev]: Lo yakin dia punya uangnya?


[Abbas]: Iya. Dia udah ngeliatin uangnya ke gue lewat seseorang. Pokoknya lo dateng dulu aja. 50 juta uang yang gede banget\, bro.


[Dev]: Okay\, gue ke tempat biasa ntar malem.


Drrtt…..drrttt…


HP Dev kembali bergetar, ia mendapatkan sebuah memo tugas untuk mendampingi Bella di acara makan siang bersama Hirawan dan rekan-rekan bisnisnya.


Bertepatan dengan itu, Bella meletakkan teleponnya.


“Dev, bentar lagi gue mau ke rumah kakek. Lo ikut ya.” Pinta Bella.


“Okay. Ada acara apa sih?” tanya Dev kembali melahap makanannya.


“Bukan acara penting sih, kakek mau main golf sama temen-temennya terus makan siang. Karena gue CEO sekarang, gue harus kenalan dan nyapa mereka.” Ucap Bella sambil memajukan sedikit bibirnya.


“Semangat dong. Sekarang lo kan harus memperluas relasi lo sebagai pemimpin perusahaan. Lagian gue ikut kan, kalo lo bosen nanti lo panggil gue. Gue bakal bawa lo pergi dari sana.”


“Serius?” tanya Bella sumringah.


“Iya dong, tapi pastiin lo udah nyapa semua rekan bisnis kakek lo dan udah lakuin tugas lo dulu.” Dev kini beranjak dari duduknya dan membawa piring-piring bekas mereka sarapan ke bak cuci piring, dan mencucinya.


“Dev, udah biarin aja, biar ART yang cuci.” Ucap Bella.


“Bu Ranti emang nanti kesini lagi?” tanya Dev.


“Bukan bu Ranti, tapi sama ART yang suka bersih-bersih.” Ucap Bella yang kini meneguk segelas susu putih.


“Cuma dikit gini ngapain nunggu ART lo dateng. Lo gak pernah cuci piring, Bel?” tanya Dev.


“Gak pernah. Kan udah ada yang tugas bersihin, ngapain gue repot-repot.” Ucap Bella.


“Ya, tapi kan begini doang bisa dikerjain sendiri.” Dev mulai berdebat.


“Ya, kalo udah ada ART yang bakal nyuci, kenapa harus dikerjain sendiri?” Bella meladeni debat yang dimulai oleh Dev.


Dev terdiam dan menggeleng pelan, “Iya, terserah Nona Bella aja kalo gitu.” Dev akhirnya menyerah.


“Dev, lo janji jangan marah ya.” Bella menggenggam tangan Dev.


“Lo ngelakuin apa lagi tiba-tiba pengen gue janji gak marah? Jelasin dulu ada apa baru gue bisa janji.” Dev merasa khawatir.


Bella tidak menjawabnya dan menarik tangan Dev menuju kamarnya dan masuk ke dalam walk in closetnya. Di sisi paling kiri, dekat dengan pintu, sekitar satu per lima bagian dari walk in closetnya itu kini berisi pakaian untuk pria seperti kaos, kemeja, blazer, celana jeans, setelan formal, sepatu, jam tangan, dasi, dan sabuk. Semua barang-barang itu dari berbagai macam brand terkenal kelas dunia. Dev menatap Bella tidak mengerti.


“Waktu gue sewain lo apartemen, gue minta personal shopper buat beliin baju-baju ini sekalian buat lo. Tadinya gue mau simpen di apartemen lo.”


Dev bersiap membuka mulutnya untuk protes pada Bella, namun Bella segera melanjutkan ucapannya, “Tapi ini sebelum gue janji sama lo kemarin buat gak beliin lo macem-macem. Gue kan gak bisa ngembaliin ke toko kayak gue batalin kontrak apartemen. Terus masa mau gue buang? Kan sayang juga. Lo harus terima semua barang-barang ini pokoknya.”


“Tapi Bel…” Dev mencoba untuk mengatakan sesuatu, namun Bella kembali mendahuluinya.


“Gue udah terlanjur beli, Dev. Ini gak perlu lo bawa pulang. Ini disimpen sini aja kalo lo nginep dan butuh baju kayak kemarin.”


Dev mencubit kaos hitam tanpa lengan dengan tulisan ‘celine’ di dada yang digunakannya, “Jadi ini baju bukan punya lo?”


“Bukanlah, lo gak liat modelnya cowok banget. Ini semua punya lo.” Ucap Bella dengan merasa bersalah.


Dev menghela nafas dan tersenyum, tangannya mengusap pipi Bella. “Iya ya udah, gapapa.”


Seketika Bella tersenyum lega, “Beneran?


“Iya, gue anggap lo minjemin baju ini buat gue. Ntar juga pasti gue balikin.”


“Iya deh, terserah lo. Ya udah sekarang lo pilih baju buat dateng ke rumah kakek.”


Bella mulai memilih-milih pakaian untuk Dev, “Kita kan bakal main golf dulu, hmm…, nah lo pake ini aja.”


Bella meraih satu stel pakaian olahraga, lengkap dengan sepatu dengan merek adidas. Dev tidak menyambutnya. Ia berjalan menuju lemari itu dan meraih jaket kulit hitam dengan logo burung elang berwarna merah di punggung, yang tergantung diantara baju-baju yang dibelikan Bella.


“Lo mau pake jaket itu?” tanya Bella terbelalak.


“Nggaklah. Ini mau gue ambil. Udah kelamaan disini.” Ucap Dev. Ia membutuhkan jaket itu untuk mengikuti balapan nanti malam.


“Lo cepet siap-siap. Gue juga mau ganti baju dulu.” Ucap Dev sambil berlalu keluar dari walk in closet milik Bella.


“Tapi bajunya?” Bella masih memegang satu stel pakaian olahraga itu.


“Gue udah ada baju, Bel.” Ucap Dev sambil tersenyum dan keluar dari kamar Bella. Bella hanya terdiam tidak mengerti.


Beberapa saat Bella sudah berganti pakaian. Ia keluar dari kamarnya dan tertegun melihat Dev yang sedang duduk di salah satu kursi bar di dapurnya sambil meneguk segelas susu. Ia menggunakan seragam pengawalnya.


“Kok, lo pake baju itu?” tanya Bella kesal.


“Gue dapet tugas jagain lo. Yuk, berangkat.” Ucap Dev.


Bella masih terdiam di posisinya, ia menggerutu, “Pantesan lo langsung mau pas gue ajakin pergi ke rumah kakek tadi.”


“Yang penting kan gue ada sama lo.” Ucap Dev sambil menghampiri Bella dan meraih tangannya.


“Gue pengen ngenalin lo ke kakek, Dev.”


“Jangan sekarang, Bel. Sekarang kan acara kakek lo sama rekan-rekan bisnisnya. Masa lo mau ngenalin gue? Gue cuma bakal bertugas hari ini.” Dev mencoba membuat Bella mengerti.


“Jadi gue nanti harus bener-bener nganggep lo cuma pengawal gue doang?” Bella mengingat janjinya yang akan membiarkan Dev bertugas secara profesional saat Dev sedang bertugas sebagai pengawal.


Dev tersenyum dan mengangguk. “Jangan cemberut, dong.”


Bella memajukan sedikit bibirnya, merasa kesal.


Melihat wajah cantik Bella yang tidak bersemangat, Dev menarik pinggang Bella untuk mendekat padanya. Tangannya yang lain menyentuh tengkuk Bella dan seketika Dev mencium mesra bibir sang kekasih. Beberapa saat mereka terus bercumbu. Seketika rasa kesal yang Bella rasakan menguap entah kemana. Ciuman Dev selalu membuat Bella seperti melayang.


Dev menjauhkan bibirnya, “Udah ya, jangan kesel lagi. Inget, gue pacar lo sekarang. Seudah gue tugas, kita kan bisa kayak biasa lagi.”


“Susah punya pacar yang kepalanya batu kayak lo.” Gerutu Bella, ia berpura-pura masih kesal pada Dev dan berjalan menuju pintu dengan senyum yang merekah.


“Kok lo masih bete sih?” ucap Dev kecewa, ternyata ciumannya tidak mempan membuat Bella kembali ceria.


“Nanti malem, lo nginep lagi disini. Baru gue gak akan bete lagi.” Ucap Bella sambil menatap galak pada Dev.