
Dev, Abbas, dan dua pengawal Alpha yang menjalankan misi yaitu Danu dan Paul, tiba di Rumah Besar pada siang harinya. Mereka segera menghadap Hirawan. Hirawan menyambut keempat pengawal Alpha itu dengan wajah bahagia. Ia mengatakan bahwa mereka akan segera mendapatkan hadiah besar yang sudah dijanjikan sebelumnya. Hirawan juga mengatakan para anggota Black Panther akan mendapatkan bagian mereka melalui Abbas.
“Tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada mereka.” Ucap Hirawan.
“Baik Pak, akan saya sampaikan.” Ucap Abbas.
Abbas, Danu, dan Paul meninggalkan ruang kerja Hirawan setelah itu. Kini hanya Hirawan dan Dev disana. Dev berjalan dengan tongkat yang menyangga ketiaknya, menghampiri meja Hirawan. Ia meletakkan surat yang
berisi sidik jari Hendra di hadapan Hirawan.
“Ini surat pernyataan bahwa Hendra mengundurkan diri sebagai pimpinan Andhara Farma, Pak.” Ucap Dev.
Hirawan membuka map itu dan tertawa puas.
“Kamu melebihi ekspektasi saya, Dev. Saya sangat senang karena saya sudah memilih kamu untuk menjalankan misi ini. Jadi akhirnya kamu memutuskan untuk menghabisi Hendra dan Stuart?”
Dev menyangkalnya, ia menceritakan setiap detail yang terjadi pada Hirawan.
“Saya tidak menyangka Vanessa bisa bernyali besar menghabisi suaminya sendiri. Dan saya tidak merasa heran jika Hendra menghabisi dirinya sendiri. Jika saya ada di posisinya, maka sayapun akan melakukan hal yang sama. Saya lebih baik mati daripada kehilangan Xander Corp.” Ucap Hirawan. “Saya akan mengganti nama Andhara Farma menjadi MD Farma untuk menghormati ayah kamu. Tapi maaf, saya harus mengatakan ini, saya tidak bisa mengembalikan MD farma pada kamu. Tapi saya akan memberikan kamu saham, tapi kepemilikannya harus terpusat pada Xander.”
“Tidak apa-apa, Pak. Sayapun tidak berniat untuk mengambil alih MD Farma. Akan jauh lebih baik kepemimpinan MD Farma terpusat pada CEO Xander Corp.” ucap Dev setuju.
“Baiklah, saya rasa kita sudah sepakat mengenai ini. Lalu, bagaimana dengan Kris? Apa rencana kamu untuk menyingkirkannya?”
“Saat ini saham Kris sudah berkurang setengahnya. Polisi juga sedang mencarinya. Namun kini ia sedang buron. Sepertinya ia sudah memperkirakan bahwa dia akan segera ditangkap setelah pihak bank mengetahui perbuatannya.”
Hirawan mengangguk-anggukan kepalanya, “Tinggal menunggu waktu sampai akhirnya dia ditangkap.”
“Betul, Pak. Saat ini proses pemecatannya dari Xander Corp pasti sedang berlangsung.” Ucap Dev.
“Baiklah,” ucap Hirawan, “Sembuhkan lukamu secepatnya dan kamu bisa menikahi Bella.”
Dev tertegun mendengarnya, “Anda memberikan restu anda, Pak?” Dev masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Iya. Bella sangat sedih saat mendengar pesawat itu jatuh. Dia terus teringat pada kamu. Kamu sudah memenuhi syarat yang saya ajukan, kini kamu bisa menikahi cucu saya. Kalian bisa menikah setelah setelah TIM SAR
menyerah dalam pencarian Stella dan Lidya dan menyatakan bahwa mereka meninggal.”
Dev tidak bisa menahan senyumnya. Namun ia teringat sesuatu, “Saya belum memulai start up saya, Pak. Saya mengatakan pada Bella bahwa syarat yang anda ajukan waktu itu adalah saya harus membangun start up saya sebagai usaha saya membuat diri saya sepadan dengan Bella.”
“Kamu bisa memulainya setelah menikah. Start up yang akan kamu kembangkan ada di bawah naungan Omega Group. Dengan menikahi Bella, maka hubungan antara Xander Corp dan Omega Group akan terjalin lebih erat. Itu sangat bagus untuk Xander. Ini berkat kamu, Dev.” Ucap Hirawan dengan mata yang berbinar.
Dev mendengus dalam hati, memang benar ternyata, dalam hidup Hirawan yang terpenting adalah Bisnis. Mengembangkan Xander agar semakin besar dan besar adalah tujuan utama dalam hidupnya. Dev teringat pada ucapan Hendra saat itu. Ia mengatakan bahwa dalam bisnis menghilangkan satu nyawa seakan tak ada artinya. Kini Dev melihatnya sendiri, Hirawan sama sekali tidak bersedih setelah melihat putra dan cucu sambungnya tewas.
“Maaf sebelumnya, Pak.” Ucap Dev, “Saya mendapat kabar bahwa saya mendapatkan surat dari kemiliteran. Mereka akan membersihkan nama saya dan memanggil saya kembali.”
“Saya tidak mungkin menolaknya, Pak. Menjadi abdi negara sudah menjadi cita-cita saya sejak lama.” Ucap Dev.
Hirawan terlihat tidak suka dengan ucapan Dev, “Kalau begitu saya tidak akan mengizinkan kamu menikah dengan Bella jika kamu kembali ke militer.” Ancamnya.
“Tapi, Pak…”
“Setelah kamu mengenggelamkan salah satu pesawat jet saya, lisensi kamu untuk menerbangkan pesawat juga akan hilang. Bagaimana kamu akan kembali menjadi pilot pesawat tempur?” ucap Hirawan tegas, “Lalu bagaimana dengan Bella? Bagaimana jika kamu ditugaskan untuk pergi ke medan perang di luar sana, lalu kamu tidak selamat? Saya tidak akan membiarkan cucu saya menjadi seorang janda!”
Dev terdiam, ucapan Hirawan memang benar adanya.
“Kamu bisa dipidanakan karena sebagai pilot kamu sudah lalai hingga menyebabkan kecelakaan dan menghilangkan nyawa. Saya yang membantu kamu agar kamu tidak sampai menempuh proses hukum. Kamu hanya akan kehilangan lisensi kamu! Jadi saya pastikan kamu tidak akan kembali menjadi seorang LETDA. Camkan itu, Dev!” teriak Hirawan.
***
Dev keluar dari ruang kerja Hirawan dengan lesu. Ia menyerah. Kali ini ia harus mengucap salam perpisahan pada mimpinya di kemiliteran untuk kedua kalinya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir Hirawan akan sangat menentangnya untuk kembali ke militer lagi.
Namun, kini ia tidak terlalu bersedih. Karena semua ia lakukan untuk bisa bersama dengan Bella. Tidak ada yang lebih penting untuknya kali ini selain bisa menikahi Bella.
“Tuan Dev, mari saya antarkan anda ke kamar.” Tanpa sadar Dev melamun, dan seorang pelayan sudah ada di hadapannya.
“Kamar?” tanya Dev.
“Tuan Hirawan meminta saya untuk menyiapkan kamar untuk anda.” Ucap pelayan itu. “Mari ikut saya.”
Dengan bingung Dev mengikuti pelayan itu menuju ke sebuah kamar. Kamar itu sangat luas. Lima kali lipat lebih luas dari kamar apartemen miliknya. Dev melihat tasnya yang berisi pakaian sudah ada di sisi tempat tidur di kamar itu.
“Makan siang sudah ada di meja, selamat menikmati. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa menekan tombol ini, kami akan segera datang kemari.” Ucap pelayan itu menunjukkan tombol di dekat tempat tidur. Kemudian pelayan itu pergi.
Dev menghampiri meja kecil di sisi jendela yang memperlihatkan sebuah taman bunga mawar. Dev menyandarkan tongkatnya pada dinding dan duduk di salah satu meja. Ia mulai melahap makanan yang tersedia sambil menikmati pemandangan indah di luar kamar tamu itu.
Tiba-tiba HPnya berdering. Dev menghampiri tasnya dan mengambil HPnya. Muncul nama Abbas di layar HPnya.
Tanpa menunggu sapaan Dev, Abbas berkata, “Bro, Lo harus liat email yang gue kirim.” Ucap Abbas.
“Ada apa?” tanya Dev.
“Lo harus liat sendiri.” Ucap Abbas dengan nada yang serius.
Mendengar ucapan Abbas, Dev mematikan telepon dan membuka emailnya melalui HP. Ia melihat sebuah email dari Abbas. Beberapa video dikirimkan olehnya.
Dev membuka salah satu video. Video itu adalah penggalan video dari sebuah CCTV. Dalam video itu menayangkan seorang gadis membuka pakaiannya hingga tanpa mengenakan apapun. Kemudian gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Emosi Dev memuncak setelah menyadari siapa gadis yang ada di dalam video itu. Gadis itu tak lain adalah Bella, kekasihnya yang sangat ia cintai dan juga ia jaga kehormatannya.
Seseorang sudah memasang kamera pengintai di kamar Bella dan menguntitnya. Dev tidak bisa memikirkan nama lain yang mungkin melakukan hal ini selain pengawal pribadi Bella yang dulu, yaitu Kris.