Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 64: Makasih Udah Bertahan



Dev terbangun pada malam harinya. Ia menangkap sosok Bella yang sibuk dengan laptopnya di sofa ruang inap. Pundaknya mengapit HP ke telinganya dan berbicara dengan seseorang di telepon, sedangkan jarinya terus bergerak di atas keyboard laptop.


Bella memakai pakaian santainya. Ia mengikat rambutnya yang hitam dan panjang dengan asal-asalan. Ia menggunakan flare pants dan kaos dibalik cardigan coklatnya. Dev terpana melihat Bella, sama sekali tidak menyangka kini ia bisa melihat kekasihnya itu lagi setelah hari-hari yang berat yang dilaluinya.


Bella menutup teleponnya dan melihat ke arah Dev. Menyadari Dev sudah terbangun seketika raut wajahnya berubah sumringah. Padahal beberapa detik yang lalu ia terlihat begitu kesal saat berbicara pada seseorang yang sudah bisa dipastikan adalah Raka, asisten pribadinya.


“Kamu udah bangun?” tanya Bella sambil menutup laptopnya. Ia berjalan menghampiri Dev.


“Udah.” Ucap Dev tersenyum lirih.


Bella duduk di tepi brangkar yang Dev tiduri. Ia raih tangan Dev dan menciumnya beberapa kali.


“Makan dulu ya, Sayang.” Ucap Bella lembut. “Barusan perawat nganterin makanan buat kamu. Pas banget gak lama kamu bangun.”


Bella memijit tombol pada brangkar, memposisikan tubuh Dev agar punggungnya terangkat sehingga kini Dev ada pada posisi duduk. Bella mulai mensendokkan bubur beserta lauk pauknya pada Dev. Dev melahapnya dengan cepat, persis seperti orang kelaparan.


“Mau nambah?” tanya Bella yang terkejut Dev melahap buburnya dengan sangat cepat.


“Iya. Aku laper banget. Berhari-hari aku gak makan.” Ucap Dev.


Bella tertawa mendengar Dev yang kini sudah terdengar sangat sehat. Iapun menekan tombol di belakang brangkar Dev dan meminta perawat untuk membawakan makanan lebih banyak lagi.


“Sambil nunggu kamu makan buah dulu.” Bella menyuapi kembali Dev dengan buah-buahan yang telah dipotong potong. Seketika buah itupun habis. Bella menyodorkan air putih pada Dev, dan mengelap mulut kekasihnya itu dengan napkin.


Perawat datang dan membawa dua porsi bubur beserta lauk pauknya. Bella kembali menyuapi Dev.


“Kamu beneran gak makan apa-apa selama beberapa hari ini?” tanya Bella.


“Makan. Sekitar tiga hari yang lalu, ada ikan yang bisa kita dapetin waktu itu. Ikannya kecil kita bagi empat. Setelah itu gak ada lagi sesuatu yang bisa kita makan.” Jelas Dev.


“Aku udah ngerasa gak enak hati waktu kamu mau anterin Stella sama Tante Lidya waktu itu. Ternyata ada kejadian kayak gini. Aku udah pesimis kamu gak akan selamet.” Ucap Bella dengan raut wajah sedih.


“Maaf ya udah bikin kamu khawatir.” Ucap Dev.


Bella meletakkan mangkuk bubur ketiga yang sudah dihabiskan oleh Dev. Bella kembali memegang tangan Dev dan menciumnya. “Yang penting sekarang kamu udah disini lagi sama aku.”


Dev menarik tubuh Bella hingga ia bisa memeluk kekasihnya itu. Beberapa saat mereka berpelukan erat. Bella bersyukur bisa kembali merasakan hangatnya tubuh Dev di sekeliling tubuhnya.


“Sekarang aku pengen tau,” Bella melepaskan pelukannya, “Kenapa pesawat itu bisa jatuh? Kamu selalu ngecek kondisi pesawat sebelum terbang, ‘kan?”


Bella terlihat begitu penasaran. Dev tidak langsung menjawab. Ia sendiri merasa tidak nyaman untuk berbohong pada Bella, tapi ia harus melakukannya.


“Aku kayaknya kurang teliti atau memang kerusakan itu tiba-tiba kejadian. Setelah aku ngerasa ada yang gak beres. Aku langsung kasih tau semua orang di pesawat kalo kayaknya pesawatnya bakal jatuh. Kita pakai jaket keselamatan dan aku instruksikan buat segera keluar dari pesawat. Pengawal Alpha, Lidya dan Stella, juga awak kabin aku suruh buat segera lompat dari pesawat duluan. Pas banget aku lompat, pesawatnya kebakar dan jatuh ke laut.”


Tanpa sadar Bella menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya ada di posisi itu. Ia merasa ngeri dan bersyukur dalam waktu yang bersamaan.


‘Maafin aku, Bel. Aku harus bohong.’ Ucap Dev menyesal.


“Jadi Tante Lidya sama Stella sekarang…” Bella mulai terisak.


“Maafin aku gak bisa jaga mereka dengan baik.” ucap Dev dengan sangat menyesal. Jujur iapun merasa menyesal harus menyingkirkan mereka berdua. Karena sejujurnya Dev tidak memiliki masalah dengan Stella ataupun Lidya. Ia hanya ingin membalaskan dendamnya pada Hendra dan Stuart. Namun karena syarat dari Hirawan, terpaksa Dev menyingkirkan juga kedua orang itu.


Bella menghapus air matanya. “Ada kabar yang belum kamu denger, Dev. Om Hendra sama Stuart juga ngalamin kecelakaan. Om Hendra pergi ke dermaga sama Stuart saat udah denger kecelakaan itu, mungkin mereka niatnya mau datengin lokasi hilangnya pesawat jet itu. Tapi mereka malah…” Sekuat tenaga Bella mencoba menguasai dirinya, “mobil mereka masuk ke laut dan tenggelam. Mereka ditemuin udah gak bernyawa keesokan harinya.”


Bella menghapus air matanya dengan tisu, “Aku gak nyangka mereka meninggal dengan cara kayak gini. Aku gak bener-bener benci sama Tante Lidya, Stella, Om Hendra dan Stuart juga. Walaupun kadang mereka nyebelin, tapi mereka keluarga aku, Dev. Aku udah kehilangan mama sama papa, sekarang aku juga udah gak punya tante dan om juga sepupu-sepupu aku. Aku sama Kakek gak punya siapa-siapa lagi sekarang.”


Dev kembali merengkuh tubuh Bella, “Maafin aku, Bel.” Rasa bersalah yang dirasakan Dev semakin besar melihat Bella menangis dan berduka atas kehilangan keempat anggota keluarganya itu.


Beberapa saat, setelah puas menangis Bella melepas pelukan Dev, “Kamu gak usah minta maaf. Ini bukan salah kamu. Ini udah takdir mereka. Yang paling aku syukuri sekarang, walopun aku kehilangan mereka, tapi kamu selamat dan kembali kesini. Aku bener-bener gak tau gimana aku hidup kalo kamu gak ada.”


Dev mengecup kening Bella pelan, dan menatap kedua mata Bella lekat. “Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Bel. Waktu aku terombang-ambing di lautan, yang aku pikirin Cuma aku harus selamat, karena aku pengen ketemu kamu lagi.”


Senyum merekah di bibir indah Bella.


“Iya. Kamu pengawal Alpha, kamu mantan tentara AU, dan kamu kuat banget. Aku tau kamu pasti selamat.” Bella kembali mencium tangan Dev beberapa kali, menyentuhkannya pada pipinya, dan menatap kedua mata Dev dengan lekat. “Makasih ya kamu udah bertahan.”


***


Di sebuah kamar di sebuah apartemen mewah


Jari-jari Kris terus bergerak di atas keyboard. Ia terus menatap layar komputernya dengan marah. Berkali-kali ia mencoba melakukan hal yang selalu dilakukannya. Namun bukan hasil yang didapat, kini semua yang dilakukannya ditolak. Pihak bank sepertinya sudah mengetahui ada black hat hacker yang mencuri uang nasabah mereka.


"SI*L!!" umpat Kris.


Kemudian ia mengecek bursa saham. Matanya terbelalak lebih besar dari sebelumnya. Sebagian saham miliknya telah dijual tanpa sepengetahuannya. Ia mengalami capital loss yang sangat besar.


"Hacker mana yang berani ngajak ribut sama gue?! Gue abisin dia!" teriaknya frustasi. Sahamnya di Xander tiba-tiba saja berkurang setengahnya.


Jari-jarinya terus bergerak mengetik kode-kode pemograman. Tiba-tiba sebuah pesan spam muncul begitu saja di layar komputernya.


[KRIS, LO BAKAL ABIS. xbas)


"Xbas?" alis Kris bertemu, "Jadi dia yang berani main-main sama gue?!"


Ia mengangkat perangkat komputernya dan seketika membantingnya dengan marah, "XBAS SI*LAN!!"