Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 65: Bahagia dan Ringan



Keesokan paginya, Bella terbangun. Ia memeluk sesuatu yang hangat selama tidurnya dan menyadari ia tertidur di sisi Dev, di brangkar rumah sakit yang ditiduri oleh Dev. Ia memicingkan mata dan menoleh ke arah wajah Dev. Dev masih tertidur. Bella kembali merebahkan kepalanya pada bahu Dev dan memeluk lagi kekasihnya itu.


Dev mulai menggerakkan tubuhnya, tanda ia sudah terbangun. Menyadari Bella masih berada di sebelahnya, Dev mencium pucuk kepala kekasihnya itu.


“Yang, aku harus siap-siap ke kantor. Tapi gara-gara kamu cium barusan aku jadi males bangun.” Ucap Bella.


Dev tersenyum, masih dengan mata terpejam, “Ya udah bentar lagi aja bangunnya, Yang. Aku juga masih kangen.”


Bella tersenyum mendengarnya. “Ya udah, bentar lagi ya.” ucap Bella kembali memejamkan matanya. Dev menjawab dengan gumaman.


Beberapa saat kemudian Dev terlihat tertidur kembali. Dengan malas, Bella bangkit dari brangkar dan segera bersiap ke kantor. Jika saja semua deadline berjalan dengan baik, maka dia bisa saja cuti hari ini. Namun kemarin ia baru saja masuk kantor lagi setelah sebelumnya Bella cuti karena pemakaman Hendra dan Stuart. Maka dari itu, pekerjaannya banyak yang terbengkalai. Mau tidak mau, hari ini ia harus masuk kerja.


Bella sudah selesai bersiap, makanan untuk Bella dan Dev sarapanpun datang. Mereka sarapan bersama dan Dokter datang saat itu memberitahukan perkembangan Dev. Seharusnya Dev beristirahat beberapa hari lagi. Namun Dev bersikukuh mengatakan bahwa ia sudah tidak apa-apa dan akhirnya dokter mengizinkannya untuk pulang siang nanti, jika kesehatan Dev semakin membaik menurut dokter.


“Yang, aku berangkat sekarang ya. Nanti aku kesini buat jemput kamu. Pokoknya kamu nanti ke Rumah Besar dulu. Kakek pengen ketemu.” Ucap Bella sambil membereskan berkas dan laptopnya setelah dokter pergi dari ruangan Dev.


“Iya, Sayang. Tapi kalo kamu sibuk gapapa kok aku bisa ke Rumah Besar sendiri. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu. Katanya tadi banyak deadline yang molor.” Ucap Dev.


“Tapi masa kamu pulang, aku gak jemput?” Bella menghampiri Dev.


“Gapapa, Yang. Nanti kita ketemu di Rumah Besar ya.” Ucap Dev tersenyum sambil memainkan tangan Bella yang digenggamnya.


“Kamu beneran mau pulang sekarang? Kamu baru kemarin loh ditemuin dengan kondisi dehidrasi parah. Beberapa hari lagi harusnya kamu baru boleh pulang.” Tanya Bella meyakinkan Dev.


“Aku gapapa, Yang. Lagian istirahat itu enaknya juga di rumah sendiri, di rumah sakit gini malah bosen.” Ucap Dev bersikukuh.


“Kamu mau pulang ke apartemen kamu?” tanya Bella.


“Iya, Yang. Masa ke apartemen orang lain?” ucap Dev.


“Kenapa gak ke apartemen aku aja? Kamu gimana nanti makan dan lain-lain. Tangan kamu masih digips, lutut kamu masih diperban. Kalo butuh apa-apa gimana?” tanya Bella lagi.


“Nanti aku suruh Abbas di apartemen aku juga. Biar kita saling bantuin. Udah, Yang, kamu gak usah khawatir. Aku bisa, kok.”


Bella menghela nafas, menyerah jika Dev Sudah mulai keras kepala.


“Ya udah.” Pungkas Bella.


Dev tersenyum lebar, Dev mengulurkan tangannya meminta Bella mendekat padanya, “Sini dulu.”


Bella menggeser duduknya dan mendekat pada Dev.


“Udah lama aku gak cium kamu.” Ucap Dev dengan nada yang nakal.


Bella tersipu malu mendengarnya, namun ia berpura-pura tidak setuju. “Gak lama-lama banget deh perasaan.”


“Yang, aku tuh abis dalam kondisi antara hidup dan mati loh beberapa hari terakhir. Bagi aku itu lama banget.” Protes Dev.


Bella tertawa melihat Dev merajuk, iapun membelai pipi Dev dan mendekatkan bibirnya pada bibir Dev. Bibir mereka berpagut melepas rindu. Perasaan luar biasa itu kembali dirasakan keduanya, bahagia dan ringan. Tidak


ada lagi perasaan resah tidak akan saling berjumpa lagi.


Tepat saat itu pintu diketuk. Merekapun menghentikan aktivitasnya.


“Siapa sih ganggu banget!” ucap Dev kesal.


“Masuk.” Ucap Bella sambil tertawa melihat wajah kekasihnya yang kesal.


“Selamat pagi bu Bella!” sapa Abbas.


“Pagi,” sapa Bella, “Gue gak nyangka lo beneran gabung di Xander, Bas. Belom sempet ketemu, lo malah ngalamin hal kayak gini di hari kedua lo kerja.”


“Iya, sial banget emang gue. Untung gue masih dikasih kesempatan buat nyapa bos gue sekarang.” Ucap Abbas sumringah.


“Gue ucapin selamat bergabung ya. Leo udah ceritain detailnya sama gue kenapa lo bisa sampe gabung di tim Alpha. Ternyata lo yang selama ini bantuin Tere dapetin info buat gue dan ngamanin data Xander?” ucap Bella.


“Gak nyangka banget kan lo?” ucap Abbas bangga.


“Tapi lo harus tau, Bel, dia juga yang rahasiain perkara Dev diberhentiin dari militer. Sebenernya dia udah tau penyebabnya, tapi dia diem aja. Ngeselin banget ‘kan?” seloroh Tere.


“Gue waktu itu punya pertimbangan. Percuma Dev tau kalo dia gak bisa ngapa-ngapain. Tapi sekarang gue udah beresin semuanya.” Ucap Abbas dengan bangga.


“Oh iya,” Bella terlihat bersemangat dan menatap kekasihnya itu, “Yang, Sumargo udah berhasil ditangkap. Dia gak bisa ngelak lagi. Nama kamu juga banyak diberitain sebagai anak buah yang jadi korban dari kelicikan Sumargo. Kemarin lusa dateng surat dari kemiliteran buat kamu. Kamu diminta dateng ke markas besar buat pembersihan nama kamu.”


“Serius?!” ucap Dev tidak percaya. Entah mengapa saat Bella mengatakannya dengan wajah yang bahagia, Dev ikut merasa begitu bahagia, padahal perihal ini sudah ia ketahui lebih dulu dari Abbas tempo hari.


Bella mengangguk, “Kemarin aku nerimanya antara seneng sama sedih. Seneng akhirnya kamu bisa dapet keadilan. Tapi sedih karena kemarin lusa kamu kan masih dinyatakan hilang.”


“Selamat, Bro. Akhirnya lo bisa balik ke militer.” Ucap Abbas ikut bahagia.


Dev memeluk Bella dengan bahagia. “Gue masih belum bisa percaya.” Dev menatap Abbas, “Thanks banget, Bro!”


“Itu sih kecil, lo gak usah bilang makasih sama gue.”


“Lo juga harus bilang makasih sama Dev, kalo gak ada dia lo udah tenggelam di lautan dimakan ikan hiu. Terus di pulau lo masih nyusahin. Liat si Dev, kaki sama tangannya luka gara-gara bantuin lo manjat pohon pas di pulau kecil itu.” Tere mengingatkan.


“Lo gak usah ngingetin kenangan buruk, dong! Gue gak bilang juga, Dev udah tau kali gue berterimakasih banget sama dia. Iya gak, Bro?” ucap Abbas.


“Ter, lo masih galak aja sama Abbas. Bukannya lo selama dia ngilang lo nang…” Tere segera menutup mulut Bella dengan tangannya.


“Gue sama Bella berangkat dulu. Kalian ngobrol aja ya. Dah!” Tere menyeret Bella untuk keluar.


“Gue belum selesai ngomong, Ter!” ucap Bella sambil mulutnya masih terus dibekap oleh Tere.


Bella dan Terepun keluar dari ruangan. Meninggalkan Abbas dan Dev berdua.


“Si Tere kenapa?” tanya Dev tidak mengerti.


Abbas tertawa tersipu, “Selama gue gak ada, Tere tuh nangisin gue, Bro. Ternyata dia suka sama gue juga selama ini! Kemarin pas pertama gue liat dia lagi, dia meluk gue dan matanya sembab banget.”


“Serius?” tanya Dev tidak percaya, perempuan Tangguh seperti Tere ternyata bisa menangis juga.


“Dia gak bilang sih, dia malah marah-marahin gue, tapi sambil jagain gue. Dari kemarin dia gak pulang. Manis banget kan tuh cewek.” Abbas kembali merona.


“Iya..iya.. selamat, cepet tembak sana.” Ledek Dev.


“Pasti dong, tunggu aja tanggal mainnya.” Ucap Abbas, “Eh Bro, gue kesini sebenernya mau laporin sesuatu.”


“Apa?” tanya Dev penasaran.


“Ini tentang si Kris. Polisi mulai bergerak sekarang buat nangkep dia.”