Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 73: Anak Kita



Beberapa hari kemudian, saat keadaan Hirawan sudah semakin membaik, rapat dewan direksi diadakan. Dev diangkat menjadi CEO sementara menggantikan Bella. Setelah rapat itu selesai, dengan bantuan dari Raka, Dev segera menyelesaikan agenda-agenda penting yang selama beberapa hari terakhir terbengkalai.


Dev begitu serius menyimak segala penjelasan Raka mengenai pekerjaan barunya. Hari itu selain ada rapat dewan direksi dan dinyatakan secara resmi menjadi CEO, Dev juga akan rapat bersama dengan seluruh Kepala Divisi beserta seluruh pegawai Xander Corp. Setelah itu ia dijadwalkan rapat bersama dengan Albert, yang mewakili Diamonds Corp dalam projeknya bersama dengan Xander Corp dan Omega Group.


Siang harinya, Albert tiba di gedung Xander Corp setelah terbang dari Surabaya. Mereka membahas projek kerjasama mereka. Sore harinya Dev menjamu Albert dengan minum kopi dan kudapan sore hari di balkon lounge kantornya. Mereka bersantai sejenak sebelum mengakhiri pertemuan mereka.


“Saya berterimakasih sekali, Pak. Anda sangat membantu saya yang masih harus banyak belajar mengenai projek ini.” Ucap Dev setelah menyesap secangkir kopi di balkon itu.


“Udah, kita gak usah terlalu formal lagi. Saya seneng kok bisa bantu kamu. Kalo ada apa-apa kamu bisa hubungi saya, tanyakan semua yang kamu gak ngerti. Jangan sungkan, projek kita ada di tangan kamu sekarang.” Ucap Albert berusaha untuk lebih ramah pada mitra bisnisnya yang terlihat masih sangat awam di dunia bisnis.


“Makasih, Pak. Jujur, saya sangat gugup. Sampai-sampai tangan saya gak berhenti gemetar sejak rapat dewan direksi tadi pagi.” Dev terus merilekskan kedua tangannya yang dingin dan berkeringat saking gugupnya harus mengemban tanggung jawab ini.


“Gugup itu wajar, tiba-tiba kamu menjadi seorang direktur utama dari perusahaan sebesar Xander Corp. Saya sendiri akan sangat gugup dan terbebani kalau jadi kamu. Belajarlah yang tekun, baca buku dan tanyakan hal-hal yang gak kamu mengerti. Pak Hirawan mempercayakan semua ini sama kamu, berarti dia tau kamu mampu, Dev.” Ucap Albert sambil menyesap kopinya.


Sore itu Albert memberikan beberapa sarannya mengenai cara mengelola perusahaan. Dev banyak belajar dari obrolannya itu.


Malam mulai datang dan Albertpun pamit pulang. Sedikit demi sedikit ilmu bisnis Dev bertambah. Dev merasa semangatnya bertambah setelah pertemuannya dengan Albert. Sebelum kembali ke rumah sakit, Dev pergi ke apartemen Bella dan membawa laptop dan beberapa buku.


Dev menatap buku-buku itu dengan sedih, seharusnya ia mempelajari bisnis bersama dengan Bella dan segera memulai start-up nya. Namun melihat kondisi Bella, Mr. Nates juga memahaminya dan membiarkan Dev fokus terlebih dahulu untuk mengelola Xander Corp. Start up itu bisa Dev mulai nanti jika keadaan Bella sudah membaik dan kembali mengemban tugasnya sebagai CEO.


Dev tiba di rumah sakit. Ia simpan buku dan laptopnya di ruang tunggu, kemudian berdiri di di depan ruangan Bella yang dijaga oleh para pengawal.


“Tere ada di dalam?” tanya Dev pada Danu dan Paul, pengawal Alpha, yang bertugas menjaga Bella malam itu.


"Ada, Tuan. Saya akan memintanya keluar.” Ucap Danu sambil memijit tombol pada earpiecenya. Sontak Dev tercengang Danu memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan’.


“Kenapa lo manggil gue kayak gitu?” tanya Dev yang sebelumnya memang sudah lumayan akrab dengan Danu.


“Anda, CEO Xander Corp sekarang.” Jawabnya singkat. Dev benar-benar tidak terbiasa dengan ini semua.


Tidak lama pintu kamar Bella terbuka, dan Tere membungkuk hormat pada Dev.


“Apaan sih, Ter?” protes Dev merasa keberatan bahkan Terepun memperlakukannya berbeda.


“Saya sedang bertugas sekarang, Tuan.” Ucap Tere dengan sopan. Tere menutup pintu kamar Bella, “Ada hal yang harus saya sampaikan.”


Dev mengusap wajahnya dengan kasar, tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Bella tadi, “Kenapa lo gak ngasih tau gue, Ter?!” ucap Dev marah, “harusnya lo telepon gue tadi!”


“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak ingin menambah beban pikiran anda. Hari ini anda banyak agenda penting, bahkan Pak Hirawanpun meminta kami tidak memberitahukan hal ini pada Tuan.” Ucap Tere merasa menyesal, “Namun sekarang Nona Bella sedang tidur, keadaannya sudah lebih tenang. Anda bisa mengunjunginya.”


Devpun menyerah untuk berdebat dan kemudian masuk ke dalam ruang inap Bella. Tere menunggu di luar dan membiarkan Dev mengunjungi Bella seorang diri.


Perlahan Dev melangkah menuju brangkar yang ditiduri oleh Bella. Ia tatap wajah Bella yang pucat dan kurus. Dev mengecup kening Bella, dan mengusap pipinya pelan. Ia tatap wajah Bella dengan lekat, berharap Bella bisa kembali seperti dulu.


“Aku kangen sama kamu, Bel. Aku kangen Bella yang cantik dan seksi.” Ucap Dev lirih.


Sebutir air mata mengalir dari matanya yang terpejam. Dev menyadari, Bella tidak tertidur, namun Bella juga tidak histeris seperti sebelumnya. Dev melihat Bella memberinya celah.


“Bel, hari ini aku ke kantor. Kakek kamu minta aku buat gantiin posisi kamu. Kamu harus liat penampilan aku sekarang. Aku pake setelan jas dan rambut aku klimis. Kamu gak suka ‘kan liat aku pake baju kayak gini.” Ucap Dev mencoba mengobrol biasa dengan Bella.


“Aku gugup banget.” Lanjut Dev. “Untung kamu udah ajarin aku beberapa ilmu bisnis yang paling dasar waktu itu, termasuk cara ngomong di depan umum. Hari ini aku pidato di depan pemegang saham, terus di depan para kepala divisi, manager, dan karyawan Xander Corp. Terus aku juga meeting sama Albert dan ngomongin projek kerjasama kita sama mereka.” Dev mencoba memancing Bella agar merespon, “Kamu hebat banget bisa ngehandle itu semua setiap hari. Aku aja baru satu hari tapi kerasanya berat banget.”


Bella masih bergeming. Namun Dev tidak menyerah.


“Kamu tau gak, kenapa sekarang aku gantiin kamu?” Dev meraih tangan Bella, Dev kembali tercengang karena Bella membiarkan ia menggenggam tangannya. “Kemarin Kakek kamu manggil aku, dan beliau minta aku buat gantiin kamu karena kamu masih sakit sekarang. Aku nyanggupin itu karena aku harus bisa sehebat kamu, calon istri aku.”


Bella masih memejamkan matanya.


“Selain itu, Kakek kamu minta buat aku nikahin kamu, Bel. Kakek kamu udah ngasih restunya buat kita. Makanya kamu cepet sembuh, ya. Biar kita bisa segera ngadain upacara pernikahan.” Dev mengecup tangan Bella.


Devpun tidak bisa menahan air matanya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak terisak, “Terus kamu harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran, jangan stress. Ada anak kita di perut kamu sekarang, Bel."


Butir-butir air mata, melesat keluar dari mata Bella lebih deras dari sebelumnya.


Dev melanjutkan, "Kamu harus sehat, makan yang banyak, biar dia tumbuh dengan sehat di perut kamu.”


Dev menggeser mundur posisi duduknya dan menyentuh perut Bella dan mengusapnya pelan, “Sayang, ini Papa, Nak. Kamu sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Jangan nyusahin Mama. Tumbuh jadi anak yang sehat dan kita akan ketemu beberapa bulan lagi.” Dev membungkuk dan mengecup perut Bella dengan penuh kasih.


Bella tidak bisa menahan isaknya. Pertahanannyapun runtuh. Ia menangis sejadinya, masih dengan mata yang terpejam.