Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 61: Pengadilan



“Pertama.” Dev menatap tajam pada Stella. “Stella, lo selalu menghalalkan segala cara untuk dapetin apa yang lo mau. Terutama masalah uang. Lo padahal masih sangat muda, tapi lo bisa ngabisin uang milyaran rupiah buat beli barang-barang mewah dan ngejalanin gaya hidup hedon. Mau gak mau, bokap-nyokap lo, yang sayang sama lo, harus ngikutin mau lo. Kalo nggak lo bakal ngamuk-ngamuk. Iya kan?”


Stella tidak menjawab dan masih terus terisak.


“Bokap lo…” lanjut Dev, “harus banting tulang nyari uang buat menuhin gaya hidup lo dan nyokap lo yang boros. Sekalipun kalian kaya, tapi kalo kalian terus-terusan belanja gila-gilaan, ya duit kalian gak akan cukup. Akhirnya bokap lo harus nyari penghasilan lebih. Sayangnya, bukan dengan cara yang wajar, dia malah mulai ngejalanin bisnis-bisnis illegal, dan juga korupsi dari Xander. Pemasukan gak ada, tapi uang perusahaan terus kalian sedot tanpa ampun.”


Hendra terlihat panik karena apa yang selama ini dilakukannya bisa diketahui oleh Dev.


“Kedua,” Dev melanjutkan, “Nyokap Lo. Gak beda jauh sama lo. Dia juga hobi belanja, ngabisin uang di geng sosialitanya dan juga.. arisan.”


Wajah Lidya berubah panik.


“Kamu gak usah ngomong yang enggak-enggak!!” teriak Lidya.


“Jadi Tuan Hendra belum tau kalau anda suka ikutan arisan, Nyonya?” tanya Dev.


“Apa yang salah sama arisan? Itu kan hal yang lumrah dilakukan sama wanita!” ucap Lidya semakin panik.


Dev menghela nafas, “Suami Nyonya bukan orang bodoh. Dia tau anda suka ikut arisan, iya ‘kan Tuan Hendra yang terhormat?” Dev menggerakan kedua jarinya menjadi seperti tanda petik saat mengatakan arisan.


Hendra memilih bungkam. Lidya menatap ke arah suaminya, merasa sangat menyesal.


“Bahkan putra tertua anda juga tau, Nyonya.” Ucap Dev.


“Nggak mungkin..” Lidya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Dev menatap Lidya dan berbicara dengan nada berbisik, “Suami dan anak tertua anda tau, anda memelihara banyak laki-laki muda.”


“CUKUP!! Saya akan robek mulut kamu kalo kamu masih bicara!!” Teriak Lidya tidak terima aibnya dibuka di depan banyak orang, terutama anak lelakinya, karena laki-laki yang dimangsa oleh Lidya, rata-rata berusia di bawah Stuart.


“Okay, saya akan berhenti.” Ucap Dev sambil mengangkat kedua tangannya.


“Ketiga, “Dev menatap ke arah Stella yang kini terdiam. Wajahnya sangat pucat, “Kakak lo, Stuart.”


Stuart terkejut mendengar namanya diucapkan oleh Dev.


“Stuart dari kecil adalah anak yang pendiam dan juga pintar, bahkan walaupun bukan cucu kandung, dia jadi cucu kesayangan Pak Hirawan. Tapi suatu hari sikap Pak Hirawan berubah dingin, saat tau cucu yang disayanginya itu ternyata suka nyiksa para pelayan. Pak Hirawan minta buat kakak lo terapi psikologis, tapi dia gak mau. Gak tau udah berapa hewan peliharaannya yang mati gara-gara dia siksa. Sikapnya terus menjadi-jadi sampe dia dewasa, Stel. Stuart gak bisa tenang kalo belum nyiksa sesuatu. Sampai dia punya objek tetap buat dia siksa saat dia udah nikah.”


Stuart menatap bengis pada Dev. Tubuhnya bergetar hebat dan mulai meronta-ronta. Vanessa terlihat puas melihat Stuart yang marah namun tidak bisa melakukan apa-apa.


Dev balik menatap Stuart, namun dengan ekspresi yang tenang, “Dia siksa istrinya tiap hari. Sampai kakak ipar lo itu harus ngejalanin terapi karena trauma akibat KDRT yang kakak lo lakuin.”


“DIEM LO BRENGS*K!!” teriak Stuart murka.


“Gue belum selesai,” ucap Dev masih dengan nada yang tenang.


Dev beranjak dari duduknya dan membuka jaket dan kaosnya. Ia perlihatkan tatonya pada keempat orang itu.


“Van, bisa lo kesini.” Ucap Dev pada Vanessa. Vanessapun berjalan menghampiri Dev. Dev mengarahkan punggungnya ke depan Vanessa.


“Menurut lo tato gue bagus gak?” tanya Dev.


Vanessa dengan bingung menjawab, “Iya, bagus.”


“Sekarang lo coba pegang,” ucap Dev.


Vanessa yang bingung mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung Dev. Ia mulai merasakan bagian-bagian kulit yang tertutup tato itu tidak rata. Vanessapun menyentuh beberapa bagian lain dan matanya mulai menangkap bekas luka yang samar terlihat olehnya.


“Itu hasil karya suami lo.” Ucap Dev sambil membalikkan tubuhnya dan menatap Vanessa yang terkejut.


“BOHONG!! Vanes, tolong kamu jangan percaya sama cowok itu! Dia itu jahat! Dia mau misahin kita!” ucap Stuart dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.


Dev kembali menggunakan kaosnya dan kembali duduk di kursinya. Stuart masih terus berceloteh mengenai rasa cintanya yang ia rasakan pada Vanessa dan memintanya untuk tidak memercayai apa yang dikatakan Dev.


Dev menatap Stuart dengan wajah tenang, “Saat lo denger bokap lo bilang bakal jadiin seorang tentara jadi kambing hitam atas semua perbuatannya dan juga Sumargo, lo nawarin diri buat dateng ke markas militer buat nyiksa dia. Lo sayat-sayat punggungnya. Belum puas denger dia teriak-teriak, lo siram punggungnya sama air keras. Dan lo tau rasanya?”


Stuart terus menatap bengis pada Dev.


“Gue yakin lo gak tau rasanya. Soalnya kan lo taunya nyiksa, bukan disiksa.” ucap Dev. Sedangkan Stuart terus berceloteh meyakinkan istrinya itu agar percaya padanya.


“Keempat,” lanjut Dev dengan suara keras, menghentikan celotehan Stuart. Tatapannya tertuju pada Hendra, “Bokap lo, Stel.”


Hendra menatap dingin pada Dev. Ia terlihat tenang dan bergeming, seakan yang akan dikatakan oleh Dev tidak akan berpengaruh padanya.


“Stel,” kini Dev menatap lagi ke arah Stella, “Lo pernah ngebayangin gak, lo hidup berkecukupan, tiba-tiba lo harus nerima kenyataan kalo ternyata bokap lo bangkrut dan nyokap lo meninggal. Dari setiap hari lo bisa beli apapun yang lo mau, kemana-mana naik mobil, liburan ke luar negeri, dan bahagia bareng kedua orang tua lo. Tapi tiba-tiba rumah lo disegel, lo gak punya mobil lagi, lo gak punya nyokap lagi. Buat beli jajanan favorit lo aja gak bisa, apalagi liburan ke luar negeri. Terus lo harus nyaksiin bokap lo depresi dan sedih setiap hari setelah itu.” Dev mengenang masa-masa sulit itu langsung di depan orang yang telah menyebabkan segala penderitaannya itu.


“Terus,” Dev melanjutkan, “akhirnya lo punya mimpi. Lo bangkit dan nyoba buat ngeraih mimpi lo itu. Lo pengen nyenening bokap lo dengan gaji yang lo punya. Tapi gak bisa, karena bokap lo keburu meninggal. Terus lo juga harus kehilangan mimpi lo, karena lo dibuang gitu aja kayak sampah. Terus tiba-tiba aja lo tau kalo bokap lo meninggal bukan karena sesuatu yang wajar, tapi karena dia mati di tangan seseorang.”


“Kenapa lo ceritain itu sama gue? Itu yang mau lo lakuin ke gue?” isak Stella dengan suara yang lirih.


“Karena itu yang bokap lo lakuin ke gue.” Ucap Dev.


Stella terlihat terkejut, ia menoleh ke arah Hendra yang masih menatap dingin pada Dev.


“Yang barusan gue ceritain itu adalah masa lalu gue. Gue ngelaluin masa-masa kayak gitu karena perbuatan bokap lo.” Dev melanjutkan.


“Jadi, Daddy ngebunuh..” Stella tidak melanjutkan kalimatnya. Ia terlihat sangat shock.


“Iya.” Dev beranjak dari duduknya, “Bokap lo ngebunuh bokap gue. Dia juga  yang bikin nyokap gue kena serangan jantung.”


Tidak hanya Stella, kini Lidyapun menatap tidak percaya pada sang suami.


“Dad, apa itu bener?” tanya Lidya pada suaminya itu.


Hendra tidak menjawab, tatapannya terus tertuju pada Dev.


“Terakhir gue juga denger kabar yang bikin gue semakin gak abis pikir sama kelakuan bokap lo,” ucap Dev. Semua orang terdiam dan menunggu, “17 tahun lalu, bokap lo mensabotase pesawat jet yang ditumpangin sama kakaknya


sendiri. Sampe pesawat itu jatoh kemudian kakak dan kakak iparnya meninggal seketika.”


“Dad.. jadi orang tuanya Kak Bella..” tubuh Stella merinding hebat mengetahui sang ayah bisa melakukan hal setega itu.


“Informasi ini baru banget sih. Untung sahabat gue berhasil nemuin bukti yang selama ini disembunyiin sangat rapi sama bokap lo.” Ucap Dev. “Setelah lo tau semua ini, kira-kira gimana perasaan lo kalo jadi gue, Stel?”


Stella terlihat semakin tertekan. Mereka kini mengerti mengapa mereka sampai menerima perlakuan seperti ini dari Dev.


“Keluarga gue ancur, hidup gue ancur, dan sekarang gue juga tau pacar gue jadi yatim piatu gara-gara perbuatan bokap lo juga.” Ucap Dev, “Dan lo perlu tau, sayangnya gue bukan orang yang pemaaf.”


“Dev, kami mohon maaf. Kami akan ngelakuin apapun buat nebus semuanya. Tolong! Suami saya akan menyerahkan diri ke polisi. Dia akan bersedia dipenjara. Tapi tolong kembalikan kami ke kehidupan kami! Tolong Dev! Maafkan suami saya!” ucap Lidya penuh penyesalan.


“Iya Dev. Maafin daddy gue. Gue mohon!” isak Stella.


“Pak Hendra,” kini Dev menghampiri Hendra, “Anda beruntung sekali memiliki istri dan anak yang begitu sayang pada anda. Tapi saya disini bukan akan memaafkan kalian semua. Saya disini untuk menghukum kalian.