Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 69: Alasan Kuat



Dev berjalan terpincang, karena terburu-buru ia tidak menggunakan tongkatnya. Ia menyusuri lorong mansion mewah itu, sambil melepas alat sanggaan gips tangan yang menggantung di lehernya. Ia lupakan rasa sakit di sikut dan lututnya. Hati dan pikirannya terus tertuju pada sang kekasih yang kini tidak diketahui keberadaannya. Kemudian Ia bertemu seorang pelayan.


“Dimana Pak Hirawan?” tanya Dev dengan wajah cemas.


“Beliau ada di ruang kerjanya, Tuan.” Ucap pelayan itu.


Dev segera berlari dengan susah payah menuju ruang kerja, menahan sakit di lututnya. Terdengar suara Hirawan berteriak murka dari dalam ruang kerjanya. Dev masuk ke ruang kerja itu.


“TOL*L! Kemana kalian saat saya dan Dev berbicara? Harusnya kalian berjaga di luar!” Hirawan begitu murka dengan sebuah stik golf di tangannya. Ia hantamkan stik itu ke arah para pengawal yang kini mengangkat kedua tangannya ke atas, pasrah dengan pukulan-pukulan dari stik golf yang terus dilayangkan oleh Hirawan ke punggung mereka.


Seketika Hirawan kelelahan dan menjatuhkan dirinya ke sofa ruang kerjanya.


“Dev, segera cari Bella! Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Ucap Hirawan dengan cemas.


“Saya akan menemukannya, Pak.”


Dengan segera Dev berlari ke luar pintu utama dan masuk ke mobil yang terparkir di halaman. Ia segera menggunakan earpiecenya untuk berkomunikasi dengan Leo. Sebelumnya ia sudah menghubungi Abbas dan kini Abbas sedang menuju ke markas Xander Security.


“Dimana terakhir Bella terlihat?” tanya Dev sambil menyalakan earpiecenya dan melajukan mobilnya.


Di ruang kontrol, Leo mendengar suara Dev. Iapun segera menjawab dan menjelaskan bagaimana Bella dibawa oleh Kris.


“CCTV di tol dimatiin Kris, Bro.” Abbas kinipun bergabung di saluran komunikasi mereka. Ia mengambil alih salah satu komputer yang ada di ruang kontrol. “Udah gue normalin lagi. Lo kalem bro sekarang gue bakal jadi mata lo.”


“Okay, kasih gue petunjuk gue harus kemana. Gue percayaain semuanya sama lo.” Ucap Dev mulai memasuki tol, menyusuri jejak Bella terakhir terlihat.


***


Bella mulai membuka matanya, kesadarannya mulai kembali. Ia berada di sebuah kamar. Bella mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan dan tubuhnya terbaring di sebuah tempat tidur. Kamar itu terlihat cukup mewah, namun Bella yakin itu bukanlah hotel atau apartemen. Bella mencoba meraih kepalanya yang terasa pusing, akibat pengaruh obat bius yang dihirupnya. Namun tangannya gagal meraih pelipisnya, karena kedua tangannya diborgol di atas kepalanya ke tiang yang ada pada headboard tempat tidur.


“Tolong!!” Bella mulai panik. Ia ingat ia hilang kesadaran setelah Kris membekap mulutnya.


Kris muncul dari balik pintu. Ia tersenyum pada Bella.


“KRIS! LEPASIN GUE!!” teriak Bella.


“Kenapa, Bel? Kita kan udah lama gak ketemu. Kamu santai aja.” Kris duduk di sebuah kursi di sisi tempat tidur.


“Maksud lo apa nyulik gue kayak gini?!” Bella kembali berteriak.


Kris menghampiri Bella. Ia duduk di sisi tempat tidur Bella. Ia mulai membelai pipinya dan mendekatkan wajahnya pada Bella. Bella terus menggelengkan kepalanya, tidak ingin Kris menyentuhnya


“Udah lama aku gak liat kamu sedeket ini.” Ucap Kris menatap Bella lekat. Ia menahan dagu Bella agar Bella terus menatapnya.


“Lepasin gue, Kris! Lo mau apa?” ucap Bella mulai ketakutan karena ia tidak bisa melakukan apapun.


“Jujur, aku sedih kamu udah lupain tujuh tahun yang kita lewatin bareng-bareng." Kris melepaskan dagu Bella, "Seudah kamu ketemu Dev, aku kayak gak ada artinya buat kamu. Padahal sebelum ada dia, kamu bergantung sama aku. Bahkan kamu gak bisa makan kalo aku belum bikinin makanan buat kamu. Kamu selalu manggil aku kalo kamu udah bikin masalah. Kamu gak bisa kalo gak ada aku, bel.” Ucap Kris mengingatkan Bella mengenai masa lalu mereka.


“Itu karena udah tugas lo sebagai bodyguard gue, ‘kan? Gue masih bisa hidup walopun gak ada lo!” teriak Bella.


“Oh ya? Terus kamu mau bilang ini semua salah aku kenapa bisa suka sama kamu? Aku berusaha sekuat tenaga bikin diri aku sepadan sama kamu. Ketika aku udah hampir ngedapetin kamu, kamu malah buang aku dan milih


cowok miskin itu.” Ucap Kris dengan raut wajah yang sedih.


Kris tertawa mendengar ucapan Bella, “Kamu masih aja senaif itu bilang Dev beda sama aku.”


Bella mengerutkan dahinya tidak mengerti.


“Bel, dengerin aku baik-baik.” Ucap Kris, “Dev itu ngeb*nuh Hendra, Stuart, Lidya, dan Stella demi bisa nikahin kamu. Kamu kaget 'kan? Aku kasih tau kamu, ya. Hendra dan keluarganya itu gak kecelakaan. Itu udah direkayasa. Sebenernya Dev udah bunuh mereka semua.” Ucap Kris.


“Nggak! Lo gak tau apa-apa! Gue udah tau yang sebenernya, Dev gak bunuh mereka!” ucap Bella.


“Kamu masih aja percaya sama dia. Dev dikasih syarat sama Hirawan, kalo dia mau nikahin kamu, dia harus bisa ngabisin Hendra dan keluarganya. Itu adalah syarat yang Kakek kamu kasih sama aku juga dulu, saat aku ngelamar kamu ke Kakek kamu. Jadi, dia sama kayak aku, ngehalalin segala cara buat bisa jadi pendamping kamu. Kalo udah dapetin kamu, otomatis dia bakal dapetin juga harta kamu. Dan yang bikin aku kesel, dia gak ngusahain apapun tapi bisa dapetin cinta kamu, bahkan dukungan Hirawan. Sedangkan aku harus berjuang selama 7 tahun tapi kamu gak pernah ngelirik aku sekalipun.”


Bella tercengang, ternyata benar kakeknya mengajukan syarat itu pada Dev, bahkan syarat itu pulalah yang kakeknya ajukan pada Kris. Mengapa sang kakek begitu ingin menyingkirkan Hendra dan keluarganya?


“Lo nyanggupin buat bunuh mereka?” tanya Bella dengan tubuh bergidik.


“Iya. Kakek kamu benci banget sama keluarga Andhara, Bel. Aku juga gak suka sama mereka. Mereka itu kayak parasit. Mereka harus disingkirin biar gak ganggu. Kakek kamu pengen kamu ngelola Xander dengan tenang dan nyaman, tanpa ada orang-orang kayak mereka. Makanya aku nyanggupin itu, biar aku bisa dapetin kamu dan setelah nikahin kamu, aku juga gak diganggu sama mereka.” Ucap Kris dengan santainya.


“Kok lo bisa ngomong sesantai itu seakan bunuh orang itu gak ada artinya sama sekali.” Ucap Bella masih merasa ngeri.


Kris menghela nafas, “Kayaknya udah waktunya kamu tau tentang ini, Bel. Kayaknya kakek kamu juga udah tau masalah ini gara-gara hacker kepercayaannya yang namanya Abbas.”


Kris tertawa sambil menggelengkan kepalanya dan bergumam, “Gue gak nyangka sahabat Dev itu yang selama ini gangguin gue. Xbas itu Abbas ternyata.” Ucap Kris penuh benci.


“Tau tentang apa?” tanya Bella penasaran.


Kris menantap Bella dengan lekat, “Kamu penasaran kenapa kakek kamu segitu pengennya ngabisin Hendra? Inget kecelakaan mama sama papa kamu 17 tahun lalu, Bel? Itu bukan kecelakaan biasa. Hendra yang rencanain itu. Dia pengen nyingkirin kakak tirinya supaya dia jadi pewaris tunggal Xander.”


Bella terhenyak.


“Gak mungkin...” seketika kejadian 17 tahun itu berputar kembali di dalam benak Bella.


“Itu bener, Bel. Hendra juga yang udah bunuh ayahnya Dev dan bikin perusahaan ayah Dev bangkrut. Stuart juga yang ikut-ikutan nyiksa Dev waktu itu sampe Dev punya bekas luka di punggungnya. Dan kamu tau, Vanessa selama ini juga jadi korban KDRT dari suaminya sendiri.”


“Apa?!” Hal mengejutkan lainnya kini harus Bella terima. Jadi Hendra yang membuat dirinya dan juga Dev menjadi yatim piatu?!


"Tante dan sepupu kamu juga, mereka selalu ngabisin banyak uang setiap hari. Untuk memenuhi gaya hidup mereka Hendra mulai memanipulasi data keuangan Andhara Farma, dia korupsi dari Xander. Dia juga punya beberapa bisnis ilegal. Terus kamu tau gak, Lidya itu sering ngomongin Dev. Dia pengen jadiin Dev salah satu peliharaannya."


"Maksud lo?!" Teriak Bella dengan marah.


"Lidya itu selama ini suka sama daun muda. Dia sering booking cowok-cowok muda seumuran Dev buat dia ajak seneng-seneng." ucap Kris sambil tersenyum dramatis.


Seketika Bella merasa marah dan menyesal telah merasa bersalah pada keluarga Andhara atas apa yang dilakukan Dev dan Hirawan. Namun mengingat Dev telah berhasil menghukum Hendra dan keluarganya, seketika Bella merasa sedikit lega.


Namun kini Bella juga menyesal telah kabur seorang diri. Seharusnya ia mempercayai Dev dan sang Kakek. Mereka adalah orang-orang terdekatnya, seharusnya ia mempercayai kekasih dan kakeknya itu. Tere benar, Dev dan sang kakek memiliki alasan yang kuat kenapa mereka harus menyingkirkan keluarga Andhara. Seandainya ia tetap mempercayai Dev, ia tidak akan bersama Kris sekarang.


“Selanjutnya yang bakal disingkirin Dev dan kakek kamu adalah aku, Bel.” Ucap kris, “Kakek kamu udah tau semua hal yang aku lakuin selama ini. Dan kamu juga udah tau kan? Kamu bahkan mecat aku dari Xander. Jujur, aku sakit hati, Bel. Semua usaha aku berakhir sia-sia. Aku gak dapetin kekayaan, aku juga gak dapetin kamu. Aku gak dapetin apa-apa. Aku hancur, Bel.” Ucap Kris dengan nada yang sedih dan dingin menusuk.


"Itu salah lo sendiri, kenapa lo harus sampe ngelakuin sesuatu yang ilegal kayak gitu?! Terus lo bener-bener kemakan sama ambisi lo itu! Lebih baik lo segera nyerahin diri lo ke polisi, biar hukuman lo gak makin berat!" ucap Bella.


Kris kembali menatap Bella, membelai pipi Bella dan berkata, “Okay. Aku bakal nyerahin diri ke polisi. Aku juga gak mau terus-terusan kabur kayak gini. Tapi sebelum itu aku gak akan hancur sendirian, Bel. Aku akan bikin Dev dan Kakek kamu hancur juga.”