
Seketika lutut Bella terasa lemas. Ia ambruk ke kursi kerjanya. Air mata lolos begitu saja dari kedua mata sipitnya. Ia meraih HPnya dan menghubungi Leo dan memintanya segera datang ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian Leo sudah ada di ruangan Bella.
“Ada apa sama Dev?” tanya Bella begitu sosok Leo muncul di pintunya.
“Kami belum mendapatkan kabar apapun, Nona. Pesawat itu hilang kontak 15 menit setelah tinggal landas.” Jelas Leo.
Bella tidak bisa menahan lagi isaknya. Nama Dev terus ia sebutkan dalam hati. Ia berharap yang didengarnya salah. Baru saja tadi pagi mereka berpisah. Ia ingat wajah Dev usai menciumnya terakhir kali sebelum ia keluar dari lift. Saat itu Bella merasa wajah Dev terlihat sedih. Namun Bella menghalau perasaan itu. Apakah itu firasat?
“Lo ngapain masih disini?! Cari pesawat itu sampe dapet! Gue mau secepatnya ada kabar tentang Dev! Gue gak mau denger hal yang…” ucapan Bella terhenti. Ia tidak mampu mengatakannya. Ia belum siap kehilangan Dev. Dua kali ia kehilangan Dev, dan itu sudah membuat hidupnya begitu hampa, apalagi jika Dev betul-betul pergi untuk selamanya. Akan seperti apa hidupnya ke depannya?
“Baik, Nona. Saya akan mengusahakan yang terbaik.” Ucap Leo kemudian meninggalkan ruangan Bella.
Leo kembali ke ruangannya, dan mengetik sebuah pesan.
[Leo]: Kabar pesawat hilang kontak sudah kami terima dan sampai pada Nona Bella.
[Abbas]: Thanks\, Om.
[Leo]: Selanjutnya apa?
[Abbas]: Sesuai instruksi dari Dev\, lakuin sealami mungkin.
***
Dev masih berada di kokpit pesawat jet pribadi itu. Vanessa sudah duduk dengan nyaman, begitu juga yang lainnya. Seorang pramugari menghampiri Lidya dan Stella. Dua gelas jus segar disajikan untuk mereka berdua. Sambil terus mengobrol, mereka mengambil minuman itu. Dev menghampiri kedua perempuan yang sejak tadi terus tertawa gembira.
“Selamat Pagi, Nyonya Lidya, Nona Stella. Saya Dev Bentlee, akan mengantarkan anda menuju Singapura. Semoga perjalanan anda menyenangkan.”
“Akhirnya saya bisa ngobrol sedeket ini sama kamu, Dev. Gak heran Bella suka sama kamu. Kamu ganteng banget.” Ucap Lidya dengan nada yang menggoda.
Dev hanya tersenyum tipis mendengarnya.
“Mom, jangan mulai.” Stella memperingatkan, “Dia orang baru.”
“Emang Mommy kenapa? Gak salah ‘kan kalo mommy muji cowok seganteng dia?” ucap Lidya tanpa merasa bersalah.
“Mommy mau cancel cowok yang udah mommy booking? Mau diganti sama dia aja?” tanya Stella frontal.
Dev mulai merasa mual mendengar percakapan kedua perempuan itu.
“Boleh juga, tapi gak yakin peliharaannya Bella ini mau. Dia setia banget kayaknya sama Bella.” Ucap Lidya menatap Dev penuh arti.
“Bisa gak sih kalian gak sefrontal itu? Gak takut Daddy tau kelakuan Mommy dibelakang dia kayak gimana?” ucap Vanessa memperingatkan.
“Kenapa? Dia pengawal Xander Security. Mommy yakin dia udah tau protokol yang harus dilakukannya, iya ‘kan Dev?” Lidya menatap nakal pada Dev.
“Saya akan merahasiakan semua yang saya dengar.” Ucap Dev dengan tenang, “Waktu penerbangan sudah tiba. Saya izin kembali ke kokpit pesawat.” Dev mengangguk dan tersenyum sopan pada Lidya dan Stella.
“Mom, mukanya gak usah sampe kayak gitu deh. Kak Bella salah jealous sama aku, harusnya dia lebih waspada sama Mommy.” Ucap Stella Ketika melihat tatapan Lidya tidak terlepas dari Dev yang terus berjalan menuju kokpit.
“Yah, ganteng sih. Tapi Mommy gak mau ambil resiko.” Lidya meneguk habis jus itu dan menyimpannya di meja di dekatnya.
Tiba-tiba saja Stella merasakan kantuk yang amat sangat. Begitu juga dengan Lidya. Tidak lama mereka kehilangan kesadaran.
“Dev, mereka pingsan.” Ucap Vanessa.
Dev segera masuk kembali ke kabin pesawat dan memastikan kedua perempuan itu sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Ia memijit earpiece dan berbicara pada tim Alpha yang masih berada di luar pesawat untuk masuk ke kabin.
Dua orang pengawal Alpha datang dan membawa Lidya dan Stella. Vanessa mengekor di belakang mereka.
“Sampe ketemu disana.” Ucap Dev pada Vanessa.
Segera Dev kembali ke kokpit dan menunggu kabar dari Abbas. Tidak lama terdengar suara Abbas pada earpiece yang Dev gunakan.
[Abbas]: Semua udah siap\, Bro. 15 menit lagi pesawatnya bakal hilang kontak.
[Dev]: Okay.
[Abbas]: Udah lo cek mesinnya?
[Dev]: Udah.
[Abbas]: Bro\, lo yakin? Ini bahaya banget.
[Dev]: Lo lupa siapa gue?
[Abbas]: Tetep aja kalo lo salah perhitungan lo bisa abis.
[Dev]: Udah\, lo tenang aja. Kita ketemu disana.
Dev melepas earpiecenya, ia menggunakan jaket parasut, dan mulai menggunakan headphonenya. Berkomunikasi dengan ATC kemudian mulai mengemudikan pesawatnya. Beberapa saat kemudian pesawat itupun tinggal landas.
Dev menelan salivanya, merasa sangat tegang. Namun ia mencoba menguasai dirinya dan fokus pada pesawatnya.
“Misi ini harus berhasil, gue bakal ketemu sama Bella lagi udah ini,” ucapnya pada dirinya sendiri.
Setelah sekitar 10 menit, Dev mulai merasakan ada kerusakan di mesin pesawat. Kerusakan itu diatur sendiri olehnya. Devpun berkomunikasi dengan ATC dan menginformasikan masalah mesinnya. Kemudian ia segera berlari menuju pintu pesawat dan membukanya. Dev segera melompat keluar, tepat setelah Dev membuka parasutnya, pesawat itu terbakar. Kilatan api terus menyambar ke seluruh badan pesawat hingga pesawat itu menghantam lautan dan sedikit demi sedikit tenggelam.
Dev sudah hampir menyentuh permukaan air laut yang berjarak sekitar beberapa KM dari jatuhnya pesawat. Sebuah perahu motor mendekat pada Dev. Dengan mulus Dev mendarat pada perahu motor itu. Ia melepas jaket parasut yang digunakannya.
“Gimana yang lain?” tanya Dev pada seorang pengawal Alpha yang mengemudikan perahu motor itu.
“Mereka masih di jalan. Tapi anggota Black Panther udah di lokasi.” Ucap pengawal itu.
“Sumargo?” tanya Dev.
“Kata Abbas sih, on process.”
Dev tersenyum puas mendengarnya. Perahu motor itupun terus melaju dan membawa Dev ke arah sebuah pulau terpencil.
***
Stuart dengan tergesa berjalan menuju ruangan Hendra.
“Dad, kabar ini gak bener kan?” seloroh Stuart saat masuk ke ruangan kerja sang ayah. Hendra sendiri kini tengah berjalan mondar-mandir di dalam kantornya dengan raut wajah yang tegang. Terlihat Kris juga disana, terlihat senang.
“Daddy masih nunggu informasi dari Leo.” Ucap Hendra.
Stuart terlihat mengusap matanya.
“Lo… nangis?” tanya Kris dengan nada menghina.
Stuart berjalan dengan marah dan mencengkram kerah Kris, “Lo kalo gak tau apa-apa diem aja! Vanessa ada di pesawat itu! Istri gue ilang!!” ucap Stuart histeris.
“Bukannya lo selalu nyiksa dia? Kenapa sekarang lo sehisteris ini?” tanya Kris dengan wajah menahan tawa.
Stuart bersiap melayangkan tinju pada Kris, namun Hendra segera menggagalkannya, “Stuart, kamu tenang! Jangan terbawa emosi! Itu yang dia pengen” memandang ke arah Kris penuh benci.
Kris tertawa mendengar ucapan Hendra, “Gue puas banget ngeliat wajah kalian!” kemudian tertawa terbahak.
“Yang satu nangisin istri yang selalu disia-siain. Yang satu nangisin istri tukang selingkuh sama anak yang taunya ngabisin duit.” Ucap Kris dengan puas, “Pesawat itu hilang kontak. Kalian tau artinya apa? Berarti mereka udah gak akan selamat.”