Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 51: Hacker Pro



“Yang, aku ke atas dulu ya.” Ucap Bella. Ia menghampiri Dev dan kemudian mengecup pipi kekasihnya itu kemudian melangkah masuk menuju lift bersama dengan Leo dan beberapa pengawal.


“Cieeee… udah go public.” Goda Tere. Begitu juga dengan beberapa pengawal yang lain yang ada disana, terkejut dan ikut menggoda Dev yang kini sudah semakin berani memamerkan kemesraannya dengan CEO mereka.


Dev tidak terlalu menanggapi dan masuk ke dalam gedung Xander dan terus melangkah menuju kantor Xander Security di lantai 1, Tere mengekor di belakangnya.


“Dev, jadi sekarang lo udah baikan sama Bella?” Tanya Tere.


“Udah.” Ucap Dev sedikit tersipu.


“Pantesan mesra banget. Jadi kalian sekarang bakal sering-sering pamer kemesraan depan umum? By the way semua karyawan Xander kaget liat lo di acara kemarin. Lo bisa jadi tamunya Mr. Nates itu keren banget sih, Dev. Gue gak nyangka sama sekali. Lo beneran waktu itu nyelametin pesawatnya Mr. Nates yang disabotase?” seloroh Tere, ia begitu penasaran.


Mereka tiba di kantor Xander Security. Dev menuju mejanya yang bersebelahan dengan Tere. Ia duduk di balik meja kantor yang kini menjadi tempat ia akan bertugas dan menunggu instruksi.


Perhatian Tere masih tertuju pada Dev. Ia menunggu Dev merespon pertanyaannya. Devpun tidak bisa menghindari sahabat dari kekasihnya itu.


“Iya, pokoknya gue sama Bella sekarang udah baikan dan kita bakal jadi pasangan yang bahagia dimanapun kita berada, kapanpun dan dalam keadaan apapun.” Ucap Dev, diingiri tawa Tere yang puas mendengar jawaban Dev.


“Dan tentang Mr. Nates, gue kebetulan aja nolongin dia. Bahkan gue gak ngerasa udah bantu dia, karena ngecek pesawat adalah sesuatu yang selalu gue lakuin sebelum nerbangin pesawat.” Ucap Dev sambil menyalakan komputer di mejanya.


“Mantap. Dev lo beneran beda sejak kejadian kemarin. Semua orang ngomongin lo dari pertama dateng. Lo liat kan tadi di lobi semua orang liatin lo.” Tere begitu bersemangat.


Dev tidak terlalu tertarik dengan apa yang Tere ucapkan. Ia sibuk memeriksa emailnya dan juga papan memo. Papan memo adalah semacam kotak masuk untuk memberikan para pengawal tugas yang harus dikerjakan oleh mereka setiap harinya.


“Eh gue dapet memo tugas.” Ucap Dev. Ia mengklik memo tersebut, “Besok gue nemenin Stella sama ibunya ke Singapura."


"Paling juga fashion show. Terus belanja. Hati-hati, siapin sepatu lo. Mereka bakal bawa lo belanja gila-gilaan.” Ucap Tere yang kini juga memeriksa papan memo miliknya.


“Gue lebih suka jadi pengawal pribadinya Bella.” Keluh Dev.


“Ya iyalah bisa barengan terus sama yayang bebep.” Goda Tere, “Gue sih lebih suka kayak gini. Kerjaan gue jadi macem-macem.”


“Eh, Ter. Gue baru inget, orang yang lo bilang bakal lo kenalin ke gue, yang tau semua tentang Xander itu siapa? Kapan lo mau nemuin dia ke gue?” tanya Dev menagih janji Tere yang tempo hari berjanji padanya akan mengenalkan dirinya pada seseorang yang mengetahui seluk beluk tentang Xander.


“Sabar. Dia hari ini udah bakal jadi bagian dari squad di Xander Security.” Ucap Tere.


“Dia bukan pegawai di Xander? Tapi dia tau semua tentang Xander?” tanya Dev.


“Sebenernya dia itu udah jadi anak buah Leo dari lama.” Tere duduk mendekat pada Dev dan mengecilkan volume suaranya, “Tapi dia selalu nolak buat masuk ke squad. Selama ini Leo tau semua informasi penting tentang apapun itu dari dia. Tau gak, dia itu hacker yang pro banget.”


“Hacker?” tanya Dev. Tidak heran, Xander Security pasti membutuhkan seseorang yang bisa mengakses berbagai data penting yang hanya bisa didapat oleh para hacker.


“Gak ada informasi yang dia gak bisa bobol,” lanjut Tere “cuma masalahnya dia gak sembarangan ngasih informasi. Jadi ibaratnya kalo dia gak mau ngasih tau, ya dia bakal bungkam.”


“Kenapa? Padahal informasi yang dia dapet bisa dia jual.” Tanya Dev.


“Ini orang penting banget dong. Pak Hirawan dan Bella gak tau tentang dia juga?” tanya Dev.


“Pak Hirawan taulah, orang dia yang punya Xander. Tapi Bella belum tau. Bella juga gak tau kalo gue kenal sama dia. Gue juga gak tau apa alesannya, gue cuma diminta buat ngerahasian orang ini dari Bella untuk sementara waktu sampe gue dapet instruksi selanjutnya. Sekarang gue kasih tau lo, karena Leo yang nyuruh gue buat ngenalin dia ke lo.”


Dev penasaran. Siapa orang ini? Jika Bella tidak boleh mengetahuinya, ini pasti ada kaitannya dengan misinya menghancurkan Hendra dan Kris.


“Terus kenapa cuma lo sama Leo yang tau tentang dia? Kalo Leo gue paham, dia kan Kepala Xander Security. Kalo lo kenapa bisa tau orang ini? Bahkan lo bukan pengawal senior ‘kan?” tanya Dev.


“Karena dia suka sama gue.” Ucap Tere malu-malu.


“Hah? Dia pacar lo?” Dev terkejut.


“Bukan. Gue gak suka sama dia, dianya yang suka sama gue. Selama ini gue dapet semua informasi yang Bella butuhin dari dia. Terakhir Gue minta dia buat bobol internal militer buat tau penyebab lo diberhentiin, karena Bella nyuruh gue buat nyari tau tentang itu. Gue yakin dia udah dapet informasinya, dia tau tau siapa penyebab lo dikeluarin dari militer, cuma dia gak mau ngasih tau gue. Makanya gue bohong aja ke Bella kalo ngebobol internal militer itu susah. Mungkin Leo pengen bantuin lo ngungkapin dalang dibalik pemecatan lo, tanpa ngelibatin Bella. Makanya Leo minta buat gue ngenalin lo ke dia. Biar lo bisa ngobrol sendiri sama dia.”


Kali ini Dev kembali merasa tidak nyaman harus menutupi perihal pemecatannya yang sudah ia ketahui. Ia juga harus merahasiakan ini dari Tere.


“Jadi dia bantuin lo, karena dia suka sama lo?” Dev mengalihkan pembicaraannya.


“Iya. Yang gue tau sebelumnya, dia itu detektif swasta. Gue kenal dia waktu Bella pulang ke Indonesia seudah selesain kuliahnya 4 tahun lalu. Waktu itu gue butuh narasumber yang bisa kasih tau gue tentang semua informasi yang Bella pengen tau. Eh Taunya ada yang email ke gue dan bilang kalo dia detektif swasta. Sejak itu gue selalu minta tolong ke dia buat cari informasi apapun.”


Dev masih terus menyimak penjelasan Tere.


“Tapi waktu itu gue belum tau kalo dia hacker pro dan udah suka bantuin Leo buat dapetin informasi-informasi penting. Dia suka minta ketemu kalo dia udah dapet informasi yang gue minta. Pertamanya gue gak curiga sama sekali, taunya pas sekitar setahun yang lalu Bella kan pengen balik lagi ke LA, otomatis gue harus ikut. Barulah dia bilang kalo dia suka sama gue. Karena dia sedih harus jauh dari gue.”


“Lo bisa bikin seorang hacker pro suka sama lo, keren.” Puji Dev.


“Iya gitu deh,” ucap Tere bangga, “Tapi gue jadi gak punya privasi tau gak. Dia tau semua tentang gue. Gak nyaman banget.”


“Tapi akhirnya lo tau dia hacker dan dia suka bantuin Leo itu dari kapan?”


“Sejak lo sama Bella mulai kenalan, pas waktu itu gue sama Bella balik dari LA. Dia mulai buka kartu. Mungkin dia gak nyangka lo bakal ketemu dan deket sama Bella. Dia ngerasa lo harus tau tentang dia karena lo punya hubungan special sama Bella.”


Dev mengerutkan kening tidak mengerti, “Dia gak nyangka gue ketemu dan deket sama Bella? Gimana maksudnya?”


“Gue kira dia udah ngomong sama lo. Tapi ternyata dia belum kasih tau lo sampe sekarang.”


“Gue kenal dia?” tanya Dev.


“Iya. Lo kenal dia banget, di luarnya. Tapi dalemnya dia, lo sama sekali gak tau.” Ucap Tere. “Nah, itu orangnya.”


Ketika sedang asyik mengobrol, pintu kantor Xander Security terbuka. Leo masuk beserta seorang laki-laki berseragam pengawal dengan rambut pendek dengan potongan rambut undercut. Pria itu terus berjalan menuju ruangan Leo. Pria itu menyadari Dev sedang menatapnya dan kemudian mengangkat kedua alisnya seakan menyapa pada Dev.


Sontak Dev terperangah dan berteriak, “Abbas!?”