
Setelah pertemuannya dengan Hirawan, Dev terus melangkah keluar area gerbang utama mansion mewah itu. Amarah masih begitu menguasainya. Saat itu ia memilih untuk mengabaikan Bella. Ia tidak ingin lepas kendali di depan Bella. Apalagi Hirawan sudah memperingatkannya bahwa Bella tidak boleh sampai mengetahui mengenai hal ini.
Beberapa saat kemudian Dev tiba di apartemen Bella. Ia meminjam satu stel pakaian yang terdapat di walk in closet Bella, kemudian memakai jaket Red Eagle miliknya. Iapun pergi ke basement untuk mengambil motornya yang terparkir disana.
Sesampainya disana Dev berniat segera menunggangi motornya dan pergi ke tempat balap liar. Ia sudah berjanji pada Abbas bahwa ia akan datang. Selain itu, ia butuh melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar segala amarah yang membakar tubuhnya bisa tersalurkan.
Saat akan menunggangi motornya, Dev tidak kuasa lagi untuk membendung amarahnya.
BRAAKK!!
Ia tendang motor ducati merah miliknya hingga motor kesayangannya itu tersungkur di lantai basement. Dev menyapu kasar rambutnya dengan kedua tangannya sambil mengumpat dalam hati. Setiap kata yang diucapkan Hirawan terus bergema di telinganya. Beberapa kali juga ia kepalkan tangannya dan dengan sekuat tenaga mengarahkannya ke tembok basement, berharap tembok itu berubah menjadi Hendra ataupun Sumargo. Darah segar keluar dari tangan kanannya setelah beberapa kali menghantam tembok keras itu.
Sebuah mobil sedan Mazda hitam datang dan berhenti tepat di depan motor Dev yang tergeletak. Leo keluar dari mobil itu.
“Sekali lagi kamu meninggalkan tugas dan mengabaikan Nona Bella.” Leo menghampiri Dev.
“Gue butuh waktu! Terserah lo mau hukum gue setelah ini gue gak peduli! Gue cuma mau Hendra dan Sumargo! Gue bakal abisin mereka berdua!! HENDRA SUMARGO ANJ*NG!!” teriak Dev emosi. Ia tidak peduli lagi jika Leo akan menghukumnya. Ia tidak peduli beberapa orang di basement itu kini menatapnya dengan ketakutan. Ia juga tidak peduli jika satpam apartemen datang untuk menggiringnya keluar. Ia tidak peduli pada semuanya. Ia hanya ingin menghabisi kedua orang yang telah menghancurkan hidupnya itu.
Leo terdiam beberapa saat. Menunggu Dev menyalurkan emosinya.
Beberapa saat kemudian Dev terduduk di lantai. Tubuhnya meringkuk masuk ke dalam lututnya, dan pundaknya terlihat naik turun. Ia mencoba menghela nafas untuk menetralkan emosinya.
“Saya paham dengan situasi kamu.” Ucap Leo setelah yakin Dev sudah bisa menguasai dirinya lagi. “Jadi kamu akan menerima syarat yang Pak Hirawan ajukan?” Tanya Leo.
Dev terlihat masih tertekan dan frustasi. Ia masih belum bisa memutuskan.
“Saya gak tau, Pak.” Emosinya sudah sedikit mereda, ”Saya bingung. Menyingkirkan orang penting seperti Hendra dan Kris bukan hal yang bisa saya lakukan. Saya gak punya kekuatan apapun untuk menyentuh mereka.” Ucapnya putus asa.
“Pak Hirawan udah bilang, beliau akan memberikan kamu perlindungan dan segala bantuan apapun yang kamu butuhkan. Kamu bisa meminta apapun. Kamu hanya tinggal memikirkan sebuah rencana dan beri tahu saya. Saya akan bantu kamu semampu saya.” Ucap Leo.
Dev masih belum yakin. Ia masih terdiam mengasihani hidupnya yang begitu malang.
“Sebenarnya saya masih belum begitu paham. Apa maksud menyingkirkan yang Pak Hirawan maksudkan, Pak? Apa saya harus benar-benar menghabisi nyawa mereka semua dengan kedua tangan saya? Atau saya hanya harus menyingkirkan mereka dari Xander Corp?” Dev menyapukan rambutnya dengan kesal.
“Kamu pikirkan ini dengan baik dan juga hati-hati. Kamu gak perlu terburu-buru. Ingat, kamu harus merahasiakan ini dari Nona Bella. Jangan sampai dia curiga. Pak Hirawan juga tidak mau tau dengan rencana yang akan kamu susun. Begitu juga dengan saya, saya gak akan memberikan ide untuk rencana yang kamu akan buat. Hanya kamu yang harus menjadi otaknya. Saya hanya akan membantu kamu menjalankan rencana kamu itu. Apapun itu akan saya lakukan. Beritahu saya saat rencana itu sudah siap dilaksanakan.”
Leo masuk ke dalam mobilnya dan kemudian pergi meninggalkan Dev yang masih kebingungan.
***
Malam harinya sebuah motor ducati merah terlihat mendekat ke lintasan. Kedatangannya disambut riuh oleh sekumpulan orang yang menggunakan jaket bomber dengan logo kucing hitam besar dipunggungnya. Dev bersyukur, untung saja motornya itu bisa diajak berkompromi dan tidak ikut mengamuk setelah menerima tendangan dari pemiliknya.
“Red Eagle akhirnya dateng juga!” ucap Mondi bersemangat, ditimpali oleh yang lainnya.
Dev membuka helm fullfacenya dan turun dari motornya. Ia menghampiri Abbas, tidak memedulikan orang-orang yang bersorak untuknya.
“Mana orang yang nantang gue?” tanya Dev to the point.
“Dia belum dateng.” Jawab Abbas.
“Tangan lo kenapa, Dev? Terus motor lo kenapa kok baret-baret? Lo kecelakaan?!” tanya Mondi melihat tangan kanan Dev kini dibalut dengan perban, dan sisi kanan motornya sudah tidak mulus seperti sebelumnya.
Sebelum Dev menjawab, datang beberapa motor ninja berwarna hitam mendekat ke arah mereka. Mereka berhenti tepat di depan para anggota geng Black Panther. Mereka melepas helm yang mereka kenakan. Beberapa wajah sudah tidak asing lagi bagi Dev. Orang-orang itu adalah beberapa pengawal juga di Xander Security.
“Jadi lo yang nantang gue balapan?” tanya Dev.
“Bukan.” Ucap Kris.
Dev mengerutkan dahinya.
“Hendra.” Ucap Kris.
Mendengar nama Hendra disebutkan, seketika darah Dev kembali mendidih.
“Terus kenapa lo yang dateng kesini? Kenapa bukan dia yang dateng kesini?!” tanya Dev dengan penuh amarah.
“Dua lebih baik daripada satu. Gue yakin lo paham maksud gue.” Jawab Kris.
Jadi sekarang Hendra dan kris sudah menjadi sekutu untuk melawannya? Begitu pikir Dev.
“Gue, Stuart, atau Hendra gak akan lawan lo secara langsung.” Sambung Kris, “Kita gak ada di level buat ikutan balapan liar kayak gini.” Kris kembali menunjukkan sisi arogannya.
Dev mencoba menahan emosinya, “terus ngapain lo kesini kalo gitu?”
“Salah satu anak buah gue yang bakal lawan lo. Gue cuma bakal mastiin lo bener-bener ngelakuin apa yang gue minta setelah nanti lo kalah atau lo menang di balapan ini.”
Dev mengerutkan keningnya. Jadi Kris akan mengajukan syarat baik Dev menang ataupun Dev kalah?
“Maksud lo?” tanya Dev.
“Lo denger baik-baik. Kalo lo menang,” ucap Kris, “lo bakal dapet 50 juta. Tapi lo gak akan terima uang itu cash. Uang itu akan masuk ke rekening Xander atas nama lo. Jadi hutang lo buat ganti rugi dinding kaca udah lunas, dan setelah itu lo harus pergi dari Xander, dari Jakarta, dan juga dari Bella.”
Dev menatap nanar ke sembarang arah. Ternyata benar perkiraannya, ada harga yang sangat mahal yang harus Dev bayar untuk mendapatkan 50 juta itu. Ditambah kini Hendra dan Kris bekerja sama untuk menyingkirkannya. Kris pasti sangat ingin Dev pergi dari Xander karena Bella, sedangkan Hendra ingin Dev pergi karena sepertinya ia sudah tau siapa Dev sebenarnya.
“Kalo gue kalah?” tanya Dev.
“Kalo lo kalah, lo harus pergi lebih jauh lagi dari Jakarta. Ke tempat yang udah gue siapin, dan pastinya putus kontak sama Bella. Kalo lo nolak buat pergi berarti lo harus bayar uang taruhan 50 juta. Jadi hutang lo bertambah dua kali lipat.” Ucap Kris.
“Taruhan apaan kayak gitu? Gak adil! Dev, udah lo mundur aja dari balapan ini.” ucap Abbas ikut emosi.
“Lo udah bilang kalo temen lo itu bersedia ikut balapan ini. Kalo dia mundur, berarti gue yang menang.” Ucap Kris pada Abbas.
“Dev, lo kok bisa sih kenal sama orang kayak anj*ng gini!” umpat Mondi ikut merasa kesal.
“Gue gak peduli kalian mau bilang gue apa,” Kris menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lo kira bakal segampang itu cowok kayak lo deket sama Bella? Lo jadian sama dia? Fine, terserah. Tapi itu gak akan berlangsung lama. Lo bukan cowok yang sepadan buat Bella. Lo tuh harus ngaca, cowok kayak lo itu cuma bikin Bella malu doang.”
Dev tidak menjawab kata-kata Kris, ia biarkan Kris dengan segala pikiran liarnya.
“Kalo gue jadi lo, gue bakal ikut taruhannya. Kalo menang lo bisa bayar hutang lo, dan hidup normal kayak dulu, sebelum lo kenal sama Bella. Terus, kalo lo kalah lo tinggal pergi dari sini dan lo bisa cari kerja di tempat lain dan sedikit demi sedikit bayar hutang lo itu. Daripada hutang lo bertambah jadi 100 juta? Lo gak ada pemasukan kan selama lo jadi pengawalnya Bella? Gue masih gak habis pikir, kenapa lo bisa se-gaktau malu itu deketin Bella? Dan kenapa juga Bella bisa suka sama cowok menyedihkan kayak lo.”
“Wah, anj*ng beneran nih cowok. Dev, mending kita ribut aja sekarang! Tangan gue udah gatel pengen nonjok muka sengak dia!” ujar Mondi memprovokasi, ditimpali setuju oleh anggota geng yang lainnya.
“Enggak, Mon. Ini masalah gue. Kalian jangan ikut-ikutan!” Ucap Dev menghentikan Mondi dan kawan-kawan yang juga tersulut emosi.