
Dev merasakan hatinya berdenyut sakit. Sejak berduel dengan Bella, Dev merasa ada jarak diantara mereka. Padahal rencananya setelah menemui Leo, ia akan segera pergi menemui Bella. Ia sudah sangat merindukan kekasihnya itu.
Selama beberapa hari Dev sengaja tidak menghubungi Bella. Ia hanya menitipkan pesan pada Leo bahwa ia akan segera menghubungi Bella. Ia bingung harus mengatakan apa pada Bella mengenai obrolannya dengan Hirawan. Bella pasti akan bertanya mengapa ia keluar dari ruang kerja Hirawan dengan marah. Ditambah ia terlalu fokus menyusun rencana dan memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Bella agar ia tidak curiga dengan rencana Dev untuk menyingkirkan Hendra dan juga Kris.
Namun sepertinya keputusannya itu salah, karena Bella kini salah paham dan sangat marah padanya. Bahkan marahnya Bella kali ini sangat menyakitkan bagi Dev. Ia lebih memilih Bella memarahinya, membentaknya, memukulnya seperti saat ia berduel. Diamnya Bella begitu menusuk hati Dev. Apalagi saat tiba-tiba asmanya kambuh dan kemudian tubuh Bella roboh. Rasa bersalah karena telah mengabaikan Bella begitu menyayat hatinya.
Ia merasa bodoh. Seharusnya ia mengabari Bella agar kekasihnya itu bisa mengerti dan tidak berpikiran bahwa ia pergi. Ditambah taruhannya dengan Kris semakin membuat Bella salah paham dan berpikir bahwa dirinya pergi meninggalkan Bella. Kini Bella menutup pintu dan jendela hatinya untuk Dev. Tidak ada celah untuk Dev masuk untuk menjelaskan semuanya.
Dev berdiri di depan kamar Bella. Sengaja ia buka sedikit pintunya agar ia bisa melihat sang kekasih yang masih terbaring di tempat tidurnya.
“Puas lo ngeliat Bella kayak gitu?” ucapan Tere tiba-tiba menyadarkan lamunannya.
“Gue…” Dev berniat menjelaskan namun Tere memotong ucapannya.
“Gue gak peduli apa alesan lo beberapa hari ini nyuekin Bella. Tapi gue gak bisa ngeliat sahabat gue kayak gitu. Sekarang lo jangan nyesel kalo Bella udah males ngeladenin lo.” Ucap Tere dengan suara agak berbisik, ia tidak ingin Bella merasa terganggu.
“Ter, gue bisa jelasin. Ini semua…”
“Gue gak mau denger apapun,” ucap Tere kesal, “Lo tau siapa dia kan selama ini? Dia bahkan ada di kasta paling atas di kalangan temen-temen sosialitanya. Tanya sama orang-orang, tanya sama artis-artis dan selebgram, siapa yang gak kenal Bella Ratu Xander? Jutaan orang follow dia di Instagram. Puluhan bahkan ratusan cowok dari kalangan atas ngantri pengen kenalan dan milikin dia, tapi dia tolak semuanya. Sedangkan lo? Lo gak ada rasa bersyukurnya sama sekali seorang Bella bisa suka sama lo!? Lo selalu aja nyuekin dia. Lo bukannya bahagiain dia, malah sibuk ngerasa rendah diri. Gue sekarang jadi mikir sama kayak orang-orang, apa sih yang Bella liat dari lo, Dev?!”
Dev memilih bungkam. Kini Terepun salah paham padanya.
Setelah meluapkan kekesalannya, Tere pulang dan membiarkan Dev bersama Bella agar Dev merasakan sakitnya diabaikan. Hingga malam hari Bella tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dev juga merasa enggan untuk menghampiri Bella. Ia hanya menatap Bella dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit. Setelah membersihkan dirinya Dev berbaring di sofa ruang tengah dan sesekali melihat keadaan Bella dari celah pintu.
Malam semakin larut, hingga Dev merasa mengantuk. Namun tiba-tiba ia mendengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu. Ia segera melihat ke kamar Bella dan melihat kekasihnya itu menyantap makanannya. Dev merasa lega karena setidaknya Bella masih ada selera untuk makan. Saat sudah menghabiskan makananya Bella kembali berbaring.
Dev memberanikan diri untuk masuk ke kamar Bella. Bella terlihat sudah kembali terlelap, dengan perlahan Dev menyelimuti tubuh Bella, mengusap rambut Bella, dan kemudian membawa piring yang sudah kosong tak bersisa itu ke dapur. Setelah itu Dev kembali masuk ke kamar Bella. Ia sangat ingin memeluk kekasihnya itu. Devpun berbaring di sisi lain tempat tidur Bella dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang sama. Sepertinya Bella sudah tertidur pulas. Ia tidak menunjukkan reaksi apapun saat Dev masuk ke dalam selimutnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Bella.
“Selamat tidur, Sayang. Aku kangen banget sama kamu.” Bisik Dev. Kemudian iapun memejamkan matanya dan terlelap.
Bella tersenyum kecil saat mendengar kata-kata Dev, itu pertama kalinya Dev memanggilnya dengan kata ‘sayang’.
Pagi harinya Dev terbangun dan melihat Bella sudah tidak ada di sampingnya. Dev melihat Bella sedang berganti pakaian di walk in closetnya. Dev senang karena Bella sepertinya sudah sehat, ia bahkan sudah bersiap berangkat ke kantor. Devpun menghampiri Bella yang sedang memakai jam tangannya.
“Pagi, Bel. Kok gak bangunin aku?” sapa Dev dengan semangat.
“Lo kan bisa bangun sendiri.” Jawab Bella ketus sambil meraih tas tangannya dan berjalan melewati Dev yang berdiri di ambang pintu walk in closetnya.
Kini Bella duduk di depan meja riasnya dan mulai memoleskan riasan ke wajahnya.
Dev menghela nafas, merasa sedih diabaikan oleh Bella. “Ya udah, aku siap-siap dulu ya.” Tidak terdengar jawaban dari Bella yang tengah sibuk mengaplikasikan eyeliner ke matanya.
“Beresin aja piring yang ini, Bu.”
“Tuan Dev tidak akan sarapan disini?” tanya wanita yang telah lanjut usia itu.
“Nggak, Bu. Aku mau makan sendiri.” Ucap Bella.
Dev kembali menghela nafas, meredakan sakit hatinya mendengar ucapan Bella. Iapun berjalan memasuki ruang tengah dan membungkuk hormat pada Bella. Ia memutuskan untuk kembali ke mode pengawalnya lebih cepat.
“Selamat pagi, Nona, Bu Ranti.” Ucap Dev.
Bella sama sekali tidak menjawab sapaan Dev, ia sibuk menyuapkan potongan kecil wortel ke dalam mulutnya.
“Selamat pagi, Tuan Dev. Anda ingin sarapan?” Jawab Ranti.
“Gak usah, Bu. Nanti aja di kantor, makasih.” Ucap Dev sopan.
Devpun berjalan menuju pintu dan menunggu Bella menyelesaikan sarapannya. Bella meneguk susunya dan beranjak dari kursinya, pamit kepada Ranti, dan iapun berjalan menuju pintu.
Bella sama sekali tidak menatap ke arah Dev, seakan Dev adalah makhluk tak kasat mata. Di dalam liftpun situasi terasa begitu mencekam, tidak ada obrolan dari keduanya.
Hingga mobil Bella sampai di depan pintu utama gedung Xander Corp, situasi mencekam itu masih berlanjut. Saat Bella akan memindai sidik jarinya, Tere menghampiri Bella dan Dev.
“Selamat pagi, Nona.” Sapa Tere.
“Pagi. Kalian pergi aja ke kantornya Leo, dia manggil kalian kan?” Tere terlihat bingung karena Bella sudah mengetahui apa yang akan disampaikannya. Padahal baru saja ia berniat untuk meminta izin dirinya dan Dev untuk menghadap kepala Xander Security itu.
Sebelum Tere dan Dev menjawab, Bella memindai sidik jarinya dan memasuki lift.
Dengan bingung, Dev mengekor Tere ke kantor Leo. Kini Tere dan Dev berdiri di hadapan Leo, siap mendengar instruksi dari Leo.
“Ada yang harus saya sampaikan.” Ucap Leo tanpa basa-basi. “Serahkan nametag kalian,”
Dengan wajah bingung Tere dan Dev meletakkan nametag mereka masing-masing di meja kerja Leo.
“Saya akan mengganti nametag kalian ke versi standar, karena mulai hari ini kalian bukan lagi pengawal pribadi Nona Bella.”
“Apa?!” ucap Tere dan Dev bersamaan.