
Dev menjauhkan bibirnya yang baru saja menempel pada bibir Bella.
“Anda sudah berjanji akan membiarkan saya bekerja secara professional, Nona. Mohon tepati janji anda!” Ucap Dev. Bella bersiap melontarkan protes, tapi Dev menekan earpiecenya dan berbicara pada Tere, “Tere, ditunggu Nona Bella di kamarnya.”
Devpun membungkukkan badannya dan berjalan menuju pintu.
“Dev! Lo kok gitu sih? Katanya kalo gue bosen, gue boleh panggil lo.” ucap Bella kesal.
Dev menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap pada Bella.
“Saya sudah bawa anda kesini. Silahkan anda beristirahat. Tere akan menemani anda.” Ucap Dev.
“Lo bete ya gara-gara omongan temen-temennya kakek tadi?” tanya Bella.
“Tidak, Nona. Saya baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir.”
Ia membungkuk kembali dan berjalan menuju pintu. Kemudian pintu terbuka tepat saat Dev akan membukanya. Tere mengangguk pada Dev, lalu Dev keluar dan menutup pintu di belakangnya. Menjaga pintu kamar Bella dari luar.
“Dev beneran pengawal paling seenaknya. Berani banget dia pergi padahal belum gue suruh.” ucap Bella pada Tere, “Tapi paling ganteng dan gemesin.” Ucap Bella dengan perasaan berbunga-bunga. Ia memegang kedua pipinya menahan tawa yang tidak bisa ia hentikan. Tere mencoba menahan senyumnya, melihat sahabat sekaligus majikannya itu kini begitu dimabuk asmara.
“Ter, lo tau gak. Tadi malam gue sama Dev jadian! Kaget kan lo?” ucap Bella bersemangat. Perasaan bahagia begitu jelas terlihat dari sorot mata Bella.
“Saya ucapkan selamat, Nona.” Ucap Tere masih dalam mode pengawalnya.
Di luar pintu kamar, Dev juga berusaha menahan senyumnya. Walaupun tidak terlalu jelas ia bisa mendengar Bella yang mengabarkan kepada Tere bahwa mereka kini sudah menjadi sepasang kekasih.
Lalu tiba-tiba saja Kris berjalan menuju ke arahnya yang sedang berjaga di depan pintu kamar Bella.
“Maaf, Nona Bella sedang istirahat.” Ucap Dev, membarikade Kris dengan tangannya.
“Gue disuruh Pak Hirawan buat ngeliat keadaan Bella.” Ujar Kris sambil menyingkirkan tangan Dev yang menghalanginya.
Mendengar ini perintah dari dari Hirawan, Devpun meruntuhkan barikadenya. Kris membuka pintu kamar Bella dan masuk ke dalam tanpa permisi dan menutup pintunya kembali.
Bella begitu terkejut melihat Kris masuk ke kamarnya begitu saja, “Berani banget lo masuk kesini?!” teriak Bella marah melihat sikap Kris yang tidak sopan masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu ataupun permisi.
“Aku diminta kakek kamu buat liat keadaan kamu, Bel.”
“Bilang sama kakek gue gak apa-apa, sekarang pergi lo dari sini!” usir Bella pada Kris. Tere mencoba untuk menggiring Kris keluar dari kamar Bella, namun Kris menepis tangan tere yang berusaha menyentuhnya.
“Bel, aku khawatir sama kamu. Aku cuma pengen liat keadaan kamu.” Ucap Kris dengan wajah yang khawatir.
Bella mengerlingkan mata, merasa mual mendengar ucapan Kris.
“Asal lo tau, gue udah jadian sama Dev! Jadi jangan ganggu gue lagi!” ucap Bella.
Kris tertawa meremehkan, “Jadi seorang Bella Ratu Xander, cucu konglomerat sekaligus CEO Xander Corp, beneran pacaran sama pengawalnya sendiri?” Kris menatap Bella dengan tatapan merendahkan.
Di luar sana Dev hanya menghela nafas mendengar perdebatan Bella dan Kris. Ia menajamkan pendengarannya dan meningkatkan kewaspadaannya, khawatir akan terjadi sesuatu di dalam sana.
“Itu dulu, Bel.” Ucap Kris, “Sekarang aku udah sepadan sama kamu. Kamu gak denger tadi temen-temen kakek kamu bilang kita serasi? Kita bahkan tadi bisa ngobrol santai di circle kakek kamu.”
Kris kemudian mendekat pada Bella, “Sebelum kamu mutusin buat jadi CEO, kakek kamu udah setuju buat aku sama kamu nikah, Bel. Dia percaya aku orang yang tepat buat dampingin kamu dan mimpin Xander Corp. Tapi kamu malah buru-buru ambil keputusan. Kalo kita nikah, kita bisa bikin Xander jadi lebih kuat. Kamu harusnya milih aku! Bukan orang buangan kayak dia!” ujar Kris dengan marah.
“Lo, denger ya. Gue heneg liat sikap lo yang sok deket sama gue tadi. Gue ketawa sama lo cuma ngejaga imej gue doang di depan rekan bisnis kakek gue. Jadi lo sekarang berhenti ngomong gak jelas. Gue gak akan pernah nikah sama lo, dan lo gak akan pernah jadi CEO Xander Corp!” Bella menegaskan.
“Aku bakal terus berusaha ngeyakinin kamu, Bel. Aku gak akan nyerah. Aku pasti bisa bikin kamu jadi istri aku dan mimpin Xander Corp. Sama preman jalanan kayak dia aja kamu bisa suka, apalagi sama aku yang selama ini selalu ada di samping kamu. Aku yakin suatu hari kamu juga bakal suka sama aku, Bel.” ujar Kris dengan percaya dirinya.
“Lo masih aja mimpi di siang bolong kayak gini. Gue kasih tau lo, Dev gak bisa dibandingan sama lo. Dia cowok paling layak ngedampingin seorang Bella Ratu Xander. Sedangkan lo? Cuma cowok serakah! Emangnya gue gak tau kalo lo sebenernya gak pernah kan bener-bener suka sama gue? Lo cuma suka sama harta gue doang! Gue udah bilang, lo gak akan pernah bisa nguasain Xander dan juga gue. Tunggu aja bentar lagi gue bakal mecat lo!” Bella menatap Kris dengan sorot mata kebencian.
Kris tertawa menyeringai, “Kamu gak akan bisa mecat aku, Bel. Aku Kepala Departemen IT di Xander Corp. Seluruh data perusahaan ada di tangan aku. Semua. Kamu nyuruh Raka buat nyari laporan keuangan Andhara Farma kan? Kamu gak bisa dapetin itu kalau bukan atas izin aku, Bel.”
“Kenapa gue harus dapetin izin dari lo buat ngakses data Xander? Gue CEOnya!” teriak Bella dengan murka. Kris sudah sangat besar kepala sehingga membuat Bella begitu emosi menghadapi mantan pengawalnya itu.
“Iya, lo harus dapet izin gue, Bel. Lo boleh aja mecat gue, tapi sebelum gue pergi dari Xander, gue bakal hapus semua data di data center Xander Corp.”
Bella tersenyum meremehkan. Ia merasa geli melihat Kris begitu percaya diri dengan posisi yang ditempatinya sekarang.
“Hapus aja semua. Lo kira gue gak punya back up dari semua data yang ada di data center? Gue udah memperkirakan ini waktu lo minta ke Kakek buat jadi Kepala Departemen IT. Denger ya, pada akhirnya orang serakah dan gak tau malu kayak lo gak akan pernah dapetin apapun!”
Wajah Kris terlihat pucat. Ia manatap marah pada Bella.
“Gue tunggu surat pengunduran diri lo. Kalo nggak, surat pemecatan dari gue langsung yang bakal ada di meja lo!” ucap Bella menatap geram pada Kris, “Sekarang lo pergi dari sini. Dev! Bawa dia keluar dari kamar gue!”
Dev yang mendengar perintah dari Bella segera membuka pintu dan menyergap Kris. Sontak Kris memberontak.
“JANGAN SENTUH GUE!” teriak Kris dengan penuh amarah pada Dev. Kemudian ia menatap nanar pada Bella.
“7 tahun aku bertahan di samping kamu yang gak pernah ngehargain aku! Aku terima semua perlakuan kasar kamu! Kamu marah, kamu teriak, kamu mukul aku, aku terima semuanya, Bel! Setelah semua perlakuan kamu itu, aku gak pernah benci sama kamu! Malahan aku berusaha bikin diri aku sepadan sama kamu! Semua itu karena aku pengen jadi orang yang layak dampingin kamu!" Kris meraih tangan Bella dan mencengkramnya,"AKU CINTA SAMA KAMU, BEL! TAPI KAMU SAMA SEKALI GAK PERNAH NGELIAT AKU DAN MALAH SUKA SAMA COWOK BUANGAN KAYAK DIA!” Kris berteriak tepat di depan wajah Bella.
Tere menjauhkan Bella dari Kris yang menggila, dan Dev menyergap tubuh Kris agar menjauh dari Bella. Kris memberontak dan berhasil terlepas dari Dev. Ia berbalik dan mengarahkan tangannya ke arah Dev bersiap mendaratkan pukulan pada wajah Dev, namun Dev berhasil menghindar dan dengan cepat mengunci tangan Kris.
Dev sangat berhati-hati saat itu. Kris sedang sangat emosi. Ia tidak ingin memperburuk keadaan, maka ia tidak ingin melukai Kris. Layaknya sebuah bom yang tiba-tiba sumbunya terpercik api kemudian menimbulkan sebuah ledakan yang maha dahsyat, seperti itulah ledakan emosi Kris. Dev sangat memahami perasaan pria malang itu. Selama ini dengan tekun ia berusaha memantaskan diri dengan Bella. Ia juga dengan penuh kesabaran menerima segala kesulitan dan perlakuan kasar Bella terhadapnya.
Namun setelah ia berhasil mencapai puncak dan sedikit lagi ia bisa menduduki singgasana tertinggi dan menggapai posisi yang sepadan dengan Bella, Bella justru mencintai Dev. Laki-laki biasa sama sepertinya yang dengan beruntungnya dicintai oleh Bella.
Bella menatap simpati pada Kris yang kini terlihat sangat frustasi.
“Gue minta maaf.” Ucap Bella dari hatinya yang terdalam, “gue selalu nyusahin lo selama ini. Gue juga berterimakasih karena lo udah jagain gue. Tapi gue gak bisa maksain perasaan gue. Dari awal di hati gue gak pernah ada lo, sedikitpun. Jadi gue minta lo berhenti ngejar ambisi lo, dan berhenti suka sama gue sebelum lo lebih terluka lagi.”
“Nggak! Aku gak akan berhenti dari Xander, kamu gak akan bisa berhentiin aku! Liat aja, kamu bakal nyesel sama keputusan yang udah kamu ambil! Inget itu, Bel!”