Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 60: Breaking News



Sebelum Dev menemui keluarga Andhara yang diculiknya


Di ruangan terpisah dari gudang tua itu, Abbas mengutak-ngatik kembali laptopnya.


"Ada lagi yang harus lo liat, Bro." ucap Abbas pada sahabatnya.


"Apa lagi?" tanya Dev penasaran.


Abbas mengarahkan laptopnya pada Dev. Ia menatap layar laptop itu dan seketika api dendam di dadanya berkobar lebih besar.


"Ini alasan sebenarnya, kenapa Hirawan minta lo buat bunuh mereka. Keluarga Andhara dan juga Kris" ucap Abbas.


***


Bella duduk di sisi tempat tidur di kamar lamanya di mansion milik sang Kakek. Air mata sudah tidak lagi menetes dari kedua matanya. Ia sudah lelah menangis. Yang kini dilakukan adalah tak henti-hentinya berharap segera mendapatkan kabar dari kekasihnya itu. Namun sejak ia mendapatkan kabar bahwa pesawat itu hilang kontak tadi pagi, hingga kini, belum ada kabar yang datang.


“Bel..” Tere duduk di samping sahabatnya. Ia tidak menggunakan seragam pengawalnya dan matanya tidak kalah sembab dengan Bella.


“Udah ada kabar?” tanya Bella dengan suara lirih.


Tere menggelengkan kepalanya lemah, “Pak Leo bilang TIM SAR masih nyari pesawatnya. Mereka lagi nyisir di sekitar Laut Jawa.” Tere kembali terisak.


“Dev pasti masih hidup. Dia kuat banget, dia pengawal Alpha, dia mantan tentara AU. Dia pasti masih bertahan.” Ucap Bella dengan suara tercekat, berusaha positive thinking.


“Iya, dia pasti masih bertahan sekarang, Bel.” Ucap Tere setuju, “Tapi Abbas..”


Bella menoleh ke arah sahabatnya, “Abbas juga pasti bertahan, Ter. Dia ketua Black Panther.”


Tere terus menangis. Bella merengkuh tubuh sahabatnya itu.


“Gue bahkan belum bilang sama dia kalo gue juga suka sama dia.” Ucap Tere di tengah tangisnya. “Nyebelin banget emang tuh cowok!”


Bellapun kembali meneteskan air matanya. Kedua gadis malang itu saling menumpahkan kesedihan mereka, saling menghibur, dan saling menguatkan.


Di luar kamar Bella, Hirawan mendengar percakapan sang cucu dan sahabatnya. Ia mengangguk dan pengawal setianya segera mendorong kursi rodanya ke ruang kerjanya. Tidak lama Leo datang menemui Hirawan.


“Kabar apa yang kamu bawa?” tanya Hirawan.


Leo meraih remote di meja Hirawan dan menyalakan TV layar datar yang ada di sisi ruangan. TV tersebut menyiarkan berita mengenai pesawat jet pribadi yang ditumpangi Lidya dan Stella. Pesawat itu hilang kontak dan kini masih dalam pencarian.


Berita beralih ke kecelakaan mobil yang dialami oleh Hendra dan Stuart di dermaga. Mobil yang dikemudikan oleh Hendra diperkirakan hilang kendali karena ia terlalu panik ingin mencari anak dan istrinya hingga naas mobil itu malah masuk ke laut. Mobil itu tenggelam dan jasad Hendra dan Stuart belum ditemukan. Media bahkan menayangkan mobil Hendra dan Stuart yang terekam CCTV. Mobil itu melaju sangat cepat dan kemudian hilang kendali dan masuk ke laut.


Berita selanjutnya mengenai skandal seorang petinggi militer AU. Beredar pesan anonim mengenai bisnis-bisnis illegal dan penyalahgunaan jabatan yang pernah dilakukan oleh Sumargo, salah satu petinggi AU yang berpangkat Marsekal Muda. Internal AU sedang terus menyelidikinya.


Leo mematikan TV. Hirawan tersenyum puas.


“Bagaimana keadaan disana?” tanya Hirawan dengan penasaran.


“Hukuman bagi keluarga Andhara sedang dilakukan, Pak.” Ucap Leo.


“Apakah Dev benar-benar tidak akan menghabisi nyawa mereka?” tanya Hirawan lagi.


“Terakhir ia mengatakan akan menghukum mereka, hingga mereka sendiri yang meminta untuk mati.” Ucap Leo.


Hirawan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mengenai kejadian 17 tahun lalu, saya belum memberitahukannya pada Dev." ucap Hirawan.


"Abbas sudah memberitahukannya pada Dev." ucap Leo.


Hirawan kembali tertawa puas mendengarnya, “Saya tidak salah mempercayakan misi ini pada Dev. Dia melebihi ekspektasi saya.”


Leo mengangguk setuju.


“Berikan detailnya, apa yang akan dilakukan Dev untuk menghukum mereka?”


***


Dev menengadahkan sebelah tangannya. Mondipun meletakkan stick baseball yang sedang dipegangnya ke tangan Dev. Dev menggenggamnya, beranjak dari kursi, dan memainkan stick baseball itu.


“Itu yang mau gue omongin sama lo.” Ucap Dev dengan nada datar.


Ia menghampiri Hendra dan seketika mengayunkan stick itu ke arah Hendra, “BERANI BANGET LO NIPU DAN BUNUH BOKAP GUE, ANJ*NG!!”


BUGH!!


Stick itu menghantam pipi, perut, dada, dan punggung Hendra beberapa kali.


“DADDY!!!” teriak Lidya dan Stella.


Hendra merintih kesakitan. Dev menghentikan aksinya setelah melihat darah mulai keluar dari mulut dan hidung pria paruh baya itu. Kilatan amarah terlihat jelas dari kedua manik hitam Dev, ia keluarkan semua rasa sakitnya yang selama ini dipendamnya, saat ia bukan siapa-siapa, dan tidak bisa apa-apa.


Dev melemparkan stick baseball itu ke sembarang arah, hingga menimbulkan suara terpelanting yang keras. Suara itu cukup membuat keempatnya terperanjat ketakutan. Stella dan Lidya terus menangis histeris.


“Gue gak peduli lo sama bokap gue bisnis terlarang atau nggak,” ucap Dev.


Ia jambak rambut Hendra sehingga kepala pria itu menengadah\, dan wajahnya tepat berada di depan wajah Dev\, “kalian jual beli senj*ta kimia\, atau nark*ba sekalipun\, terserah. Yang gue gak terima kenapa lo harus nipu dan bunuh dia? Dan lo bawa-bawa gue sampe gue diberhentiin secara tidak hormat dari militer! KENAPA?? HAH?!” teriak Dev dengan berang.


Hendra terdiam menahan sakit yang ia rasakan disekujur tubuhnya.


“JAWAB!!” raung Dev, menimbulkan gema di gudang tua itu. Kedua mata Dev menatap benci pada orang yang sedang ia jambak rambutnya itu.


Hendra akhirnya menampakkan reaksinya, ia tersenyum liar dan tidak lama ia tertawa dengan mulut yang sudah penuh dengan darah. “Kamu gak tau apa-apa tentang bisnis. Kadang sebuah nyawa itu gak ada artinya saat kamu terjun di dunia bisnis.”


BUGH!!


Dev melayangkan tinju dan mendaratkannya di pipi Hendra beberapa kali hingga tubuh Hendra yang masih terikat di kursi, terjerembap ke lantai.


“DEV BERHENTI!! Sebentar lagi pengawal Sigma bakal dateng kesini!! Berani-beraninya kamu berbuat ini sama suami saya! Saya akan laporkan kamu ke polisi!” teriak Lidya.


Dev menghampiri Lidya dan tersenyum menatap wanita itu, kemudian menggelengkan kepalanya, “Enggak, Nyonya Lidya. Para pengawal Nyonya itu udah gak akan nyelametin Nyonya lagi. Nyonya juga udah gak akan bertemu dengan mereka lagi setelah ini.”


“Maksud kamu apa?!” teriak Lidya panik.


Dev mendekatkan wajahnya pada Lidya, “Karena Nyonya udah gak akan jadi Nyonya Andhara lagi. Setelah ini, temen-teman saya akan bawa Nyonya ke tempat yang saya yakin Nyonya akan suka. Disana banyak laki-laki muda yang bisa Nyonya nikmati setiap saat.”


“Maksud lo apa!?” kali ini Stuart mulai membuka suaranya, ia tidak terima dengan ucapan Dev yang melec*hkan sang ibu.


Dev kembali berjalan ke kursi yang tadi didudukinya, “Di berbagai media sekarang sedang jadi trending topik mengenai kecelakaan yang kalian alami. Nyonya Lidya dan Nona Stella, pesawat yang kalian tumpangi dikabarkan hilang kontak. Sebentar lagi tim SAR akan menemukan bangkai pesawat itu di dalam lautan.”


“Nggak…nggak mungkin!!” teriak Stella.


“Dan Tuan Hendra juga Tuan Stuart,” ucap Dev dengan sarkas, “Kalian diberitakan mengalami kecelakaan mobil di dermaga. Mobil kalian masuk ke laut dengan kecepatan tinggi dan tenggelam. Jasad kalian belum ditemukan hingga sekarang. Tragis sekali bukan.”


“Kamu mau bunuh kami?!” tanya Lidya dengan wajah pucat.


Dev menggelengkan kepala dengan wajah yang dibuat-buat seakan sedih dan berempati, “Saya gak setega itu Nyonya. Saya bukan suami anda yang dengan mudahnya mengambil nyawa orang lain, seakan ia adalah malaikat pencabut nyawa.”


Dev memberikan kode pada anggota Black Panther agar memberdirikan kembali Hendra yang masih terkapar bersama kursinya di lantai. Seorang pria bertubuh kekar memposisikan Hendra pada posisinya kembali.


“Kenapa lo ngelakuin ini sama gue dan keluarga gue, Dev?” isak Stella.


“Lo beneran gak tau? Atau lo pura-pura gak tau semua perbuatan yang udah lo, nyokap-bokap dan kakak lo lakuin?”


Stella terus menangis, ia tidak menjawab. Begitu juga dengan Lidya air mata terus mengalir deras di pipinya. Hendra hanya terdiam menatap kosong dengan pipi lebam, serta hidung dan mulut penuh dengan darah. Sedangkan Stuart, tatapan bencinya tidak pernah lepas dari Vanessa.


“Kalo gitu, lo dengerin gue baik-baik.” Ucap Dev menatap Stella lekat. “Gue bakal sebutin satu-satu kesalahan keluarga lo apa aja, sampe nasib kalian ada di tangan gue sekarang.”