
Dev membiarkan Bella meluapkan segala emosinya. Mendengar tangis Bella, Tere segera masuk bersama dengan Dokter Gandhi, spesialis kejiwaan yang selama ini menangani Bella. Mereka bersiaga jikalau Bella kembali histeris. Namun Dev memberi tanda kepada mereka untuk tidak melakukan apa-apa.
Dev sedikit menjauh dari Bella. Ia kini tidak duduk di tepi brangkar Bella lagi, mundur beberapa langkah.
Bella masih menangis. Perlahan Bella membuka matanya. Bella mengedarkan pandangannya dan matanya menangkap sosok Dev yang kini berdiri tidak jauh dari dirinya, menatapnya dengan wajah sedih dan juga berlinang air mata.
Seketika Bella bangkit dari posisi berbaringnya dan menghambur memeluk Dev. Sontak Dev terpaku dan masih meyakinkan dirinya bahwa yang kini dilakukan Bella bukanlah khayalannya saja.
Perlahan Dev menyentuh punggung Bella, dan terkejut. Tubuh kekasihnya kini benar-benar berada di dalam pelukannya. Kedua tangan Bella memeluk erat leher Dev. Seketika Dev melingkarkan kedua tangannya dan merengkuh tubuh Bella dengan sangat erat.
Perasaan luar biasa itu muncul. Setelah sekitar dua minggu Bella menolak bertemu dengannya, jangankan menyentuhnya, dengan hanya melihat sosok Dev saja, Bella sudah sangat histeris. Namun kini Bella sedikit demi sedikit terlepas dari trauma yang dialaminya.
“Dev..” panggil Bella di tengah isaknya.
Dev kembali tercengang, bahkan Bella memanggil namanya lagi.
“Iya, Bel. Ini aku.” Ucap Dev mencium rambut Bella dengan penuh haru ditengah pelukannya.
“Maafin aku..” isak Bella.
“Nggak, Sayang. Kamu gak salah. Kamu gak harus minta maaf.” Dev menenangkan.
Bella terus menangis. Dengan sabar Dev terus menepuk pelan punggung Bella.
Beberapa saat isak tangis Bella perlahan berhenti. Tubuhnya melemas dan pelukan eratnya di sekeliling leher Dev melonggar.
“Bel!” tiba-tiba saja Bella kehilangan kesadaran. Dev segera berteriak, “Dokter!”
Dev membopong tubuh Bella agar Bella berbaring kembali di brangkarnya. Dokter Vito dan Dokter Gandhi segera masuk ke ruangan setelah mendengar teriakan Dev.
“Kenapa tiba-tiba Bella pingsan?” tanya Dev panik.
Dokter Gandhi segera memeriksa keadaan Bella. Dokter meraih selang oksigen di belakang brangkar dan segera memasangnya ke hidung Bella. “Nona Bella baik-baik saja. Ini respon karena barusan ia terlalu lama menangis. Suplai oksigen pada aliran darah dan otaknya berkurang, makanya Nona Bella pingsan. Namun, hal yang dilakukan Nona Bella barusan adalah kemajuan yang pesat, Pak.”
“Iya, Dok. Saya sendiri terkejut Bella tiba-tiba memeluk saya.” Dev masih terperangah.
“Nona Bella perlahan sudah mulai bisa menerima kejadian itu. Kehadiran anda tidak lagi menimbulkan rasa bersalah pada Nona Bella. Sebaiknya anda terus mendampingi Nona Bella hingga ia siuman. Itu akan memancing respon yang positif dan akan sangat membantu penyembuhan traumanya.” Dokter menyarankan.
“Baik, Dok. Terimakasih.” Ucap Dev mengangguk tanda mengerti.
Setelah itu Dokterpun meninggalkan ruangan. Senyum tidak henti-hentinya merekah dari bibir Dev. Mungkin itu adalah senyum pertama yang tersungging di bibirnya sejak Bella mengalami kejadian kelam itu. Ia terus menatap Bella yang masih belum sadarkan diri.
Setelah beberapa saat Bella perlahan membuka matanya. Ia merasakan seseorang menggenggam tangannya. Ia melihat kepala Dev tertunduk di sampingnya, kepalanya beristirahat pada sebelah lengannya.
Merasakan gerakan pada tangan Bella, Dev terbangun. Ia ketiduran. Ia segera bangkit dan melihat Bella kini menatapnya dengan sendu.
Dev tersenyum dan segera bangkit dari posisinya, “Gimana keadaan kamu, Bel?” Dev mengusap rambut sang kekasih pelan.
Bella hanya terdiam. Tatapannya masih terpaku pada Dev.
“Kamu pengen sesuatu? Kamu lapar gak?” tanya Dev bersemangat.
Bella masih terdiam.
“Ya udah, kamu sekarang tidur lagi ya. Aku temenin kamu disini.” Ucap Dev lembut.
Bella perlahan menutup matanya kembali, dan tidak lama Bella terlihat tertidur kembali.
Pada pagi harinya, Dev sudah membersihkan diri dan bersiap dengan setelan jas berwarna abu tua sebelum Bella terbangun.
“Selamat pagi, Sayang.” Ucap Dev sambil duduk di tepi brangkar yang ditiduri Bella.
Bella membuka matanya dan terlihat wajahnya lebih segar karena tadi malam tidurnya sangat nyenyak.
Bella terlihat mengedarkan pandangannya pada setelan jas yang Dev kenakan.
“Sebentar lagi aku harus berangkat ke kantor. Baju aku udah rapi belum?” tanya Dev sambill tersenyum.
Bella mengangguk pelan. Anggukan kecil itu begitu membuat hati Dev bersorak riang, Bella sudah kembali menunjukkan perkembangan positif lainnya.
Petugas pembawa makanan datang membawakan makan pagi untuk Bella dan juga untuk Dev.
“Sarapan kita udah dateng. Kita makan bareng ya.” Ucap Dev bersemangat.
Dev memposisikan sebuah meja khusus yang terlipat di bawah brangkar Bella. Kini meja itu ada di hadapan Bella. Petugas pembawa makanan meletakkan menu sarapan Bella pada meja tersebut kemudian pergi.
Dev meraih sendok dan mulai menyuapi Bella, “Buka mulutnya, aaa..” Dev kembali tersenyum bahagia saat Bella membuka mulutnya dan memakan sesendok bubur yang disuapinya.
Dev kemudian memakan makanan yang memang disediakan juga untuknya. Mereka makan bersama hingga makanan Bella habis tak bersisa.
“Wah, hebat banget makannya. Liat makanan kamu habis!” Ucap Dev saat menyuapi Bella suapan terakhirnya.
Dev memberikan Bella air minum dan memberikan obat dan vitamin untuk Bella. Terakhir Dev memberikan sebutir vitamin yang tertulis untuk ibu hamil, “Terakhir, vitamin untuk dede bayi.”
Bella terlihat tertegun sesaat, sebelum membuka mulutnya dan meminumnya.
Seorang perawat kemudian membereskan piring bekas itu dan membawanya keluar.
Dev meraih tangan Bella, “Aku berangkat dulu, ya.”
Bella kembali mengangguk kecil.
Dev tersenyum dan kemudian mengecup kening Bella, ia membungkuk dan berbicara pada perut Bella, “Sayang, gimana makanannya barusan? Mama akhirnya makan banyak, kamu pasti seneng sekarang banyak makanan yang bisa kamu makan. Papa pergi dulu ya. Sehat-sehat kamu sama Mama.” Kemudian Dev mengecup perut Bella.
Tiba-tiba saja Bella menangis kembali.
“Bel…” Dev terperangah.
“Kamu… kenapa bilang gitu? Ini bukan anak kamu!” Ucap Bella tiba-tiba saja kembali histeris.
Dev meraup kedua pipi Bella, “Bel, dia anak aku.”
Bella menggelengkan kepalanya berkali-kali, terlihat emosinya kembali tidak terkontrol.
Tiba-tiba saja Dev teringat satu malam terindah yang pernah ia lalui bersama Bella.
“Bel, dengerin aku!” Dev meraup kembali kedua pipi Bella, “Sekitar sebulan yang lalu aku pernah sentuh kamu. Aku hias kamar kamu pake kelopak mawar merah. Kita ngelakuin itu malam itu. Aku simpen benih aku di dalam rahim kamu. Kamu inget? Kamu pernah ngelakuin itu juga sama aku! Kamu hamil anak aku!” Ucap Dev dengan berkaca-kaca.
Bella tertegun.
“Bel?” Dev bingung, Bella tiba-tiba terdiam dengan tatapan yang kosong, “Bella?” Dev menepuk-nepuk pelan pipi Bella dengan khawatir.
Bella menatap Dev dan kemudian mengangguk, “Iya.. Kamu bener.. Ini anak kamu..” Bella kembali terisak dan memeluk Dev.
“Ini anak kamu. Ini anak kamu!” Bella terus mengatakannya beberapa kali.