
“Saya gak bisa. Saya gak bisa membunuh seseorang kemudian menikahi Bella! Bella juga tidak akan bisa menerimanya, Pak!” ucap Dev resah.
“Maka dari itu, Pak Hirawan mengatakan dengan tegas Nona Bella jangan sampai tau tentang ini.” Leo mengingatkan.
“Tapi, Pak. Ada banyak cara yang bisa saya lakukan selain memb*nuh mereka.” Dev bersikeras.
“Bagaimana?” Menantang Dev.
“Saya akan memikirkannya.” Ucap Dev.
“Nyali kamu ternyata kecil banget. Kris aja langsung menyanggupi syarat itu saat Pak Hirawan mengajukannya.” Leo mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya dan menyalakannya.
“Tapi kenapa Kris sekarang bekerja sama dengan Hendra? Hendra bahkan memberikan 50 juta pada Kris untuk diberikannya pada saya agar saya segera pergi dari Jakarta.” tanya Dev.
“Karena itu kamu sekarang ada di Bandung?” tanya Leo.
“Iya, Pak. Saya harus membuat mereka berpikir bahwa saya menepati janji saya. Setelah itu saya akan kembali ke Jakarta. Saya yakin anda akan memberikan saya pertolongan.” Ucap Dev.
“Saya pasti bantu kamu.” Ucap Leo. “Sekarang Kris bekerja sama dengan Hendra untuk menyingkirkan kamu. Sepertinya rahasia Kris diketahui oleh Hendra, tapi saya tidak tau apa itu. Saya akan mencari taunya.”
Leo mengutak-atik HPnya, “Saya akan berikan posisi pengawal resmi Xander Corp di tim Alpha pada kamu. Pak Hirawan sendiri yang sudah merekomendasikan kamu sebagai tim Alpha. SK yang akan kamu dapatkan, ditandatangani langsung oleh beliau. Itu akan membuat posisi kamu kuat di dalam Xander Security. Posisi kamu di tim Alpha juga sedikitnya akan mengamankan kamu dari para pengikut Kris.”
HP Dev bergetar dan sebuah pesan dari Leo muncul. Sebuah surat keputusan resmi yang ditandatangi langsung oleh Hirawan kini berada di tangannya.
“Kenapa saya harus ada di tim alpha?” tanya Dev.
Leo mematikan rokoknya dan memandang ke arah Dev, “Karena kamu sudah resmi menjadi pengawal Xander Security, saya akan menjelaskan sedikit mengenai organisasi ini.”
Dev memusatkan perhatiannya pada Leo.
“Xander Security didirikan oleh Pak Hirawan puluhan tahun lalu, saat bisnis beliau semakin menanjak. Ia sering mendapatkan terror dan surat kaleng dari para pesaing bisnisnya. Maka dari itu ia membentuk badan keamanan di dalam tubuh Xander sebagai pertahanannya terhadap ancaman pesaingnya. Ia sendiri yang memilih dan membuat kriteria seorang pengawal. Setiap pengawal yang direkrutnya harus memenuhi seleksi yang ketat. Ia sangat selektif dalam memilih para pengawalnya sehingga para pengawal Xander sudah dipastikan memiliki kualifikasi yang sangat baik. Hingga semakin lama Xander Security terus menjadi besar dan besar. Kini pengawal Xander mencapai sekitar 150 orang.”
“Kenapa Pak Hirawan membutuhkan pengawal sebanyak itu?” tanya Dev.
“Selain menjaga keamanan dirinya dan Xander Corp, ia juga menjadikan Xander Security sebagai lahan bisnis. Ia menyewakan para pengawal kepada orang-orang yang memang membutuhkan pengawalan seperti para pebisnis, petinggi pemerintahan, bahkan para artis, dalam dan luar negeri menggunakan jasa Xander Security.”
“Ide Pak Hirawan itu memang sangat brilian, Pak.” Dev memuji calon kakek mertuanya itu.
“Pak Hirawan memang sangat pintar dalam membaca peluang. Maka dari itu bisnisnya bisa sebesar itu sekarang.” Ucap Leo setuju pada Dev.
“Lalu, apa itu tim alpha?” tanya Dev.
“Pengawal Xander dibagi-bagi kedalam beberapa tim berdasarkan kemampuannya. Alpha, Delta, Gamma, dan Sigma. Setiap tim memiliki kemampuannya masing-masing. Tere di tim Delta, Kris di tim Sigma. Kris memiliki beberapa pengikut yang masih loyal terhadapnya hingga sekarang. Namun pengawal yang tergabung ke dalam tim Alpha adalah yang terbaik dari yang terbaik karena mereka memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh pengawal lain. Maka dari itu, pengawal di tim Alpha sangat disegani oleh para pengawal yang lain. Menyewa jasa pengawalan tim alpha jauh lebih mahal. Namun tanggung jawab dan beban kerja yang dihadapi tim alpha juga lebih besar dibanding yang lain. Karena biasanya bukan orang sembarangan yang memperkerjakan seorang Alpha. Dan kamu, dengan kemampuan kamu, kamu sangat cocok menjadi bagian dari tim alpha. Dan kode pengawal kamu adalah Alpha Eagle.”
“Alpha eagle?” tanya Dev tertegun.
Dev mengambil kotak rokok milik Leo, mengambilnya sebatang. Leo menyalakan korek dan membantu Dev menyalakan rokoknya.
Ucapan Leo seketika membuat Dev merasa sangat terbebani. Mungkin sedikit n*kotin bisa meredakan frustasinya. Namun tiba-tiba ia mengingat Bella yang tidak menginginkannya untuk menghisap benda berasap itu lagi. Iapun mematikan rokok yang baru dihisapnya sekali itu.
“Kenapa?” tanya Leo bingung.
“Bella tidak suka saya merokok.” Ucap Dev, lantas memijit keningnya.
“Kalau kamu seserius itu pada Nona Bella, lakukan yang diperintahkan oleh Pak Hirawan. Apa lagi yang kamu pikirkan?” Leo kembali meyakinkan.
“Tapi, Pak. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah. Saya harus menghilangkan nyawa seseorang!”
“Dev!” berbicara dengan keras, mulai tidak sabar. “Ayah kamu ditipu dan dibunuh! Ibu kamu meninggal setelah mendengar kabar kebangkrutan itu! Kamu disiksa dan dikeluarkan dari militer atas sesuatu yang gak kamu lakukan!”
Dev masih bungkam, ia memalingkan wajahnya.
“Satu lagi, Dev. Kamu tau siapa yang menyiksa kamu? Menyayat punggung kamu dan menyiram kamu dengan air keras?”
“Anak buah Sumargo di kemiliteran?” tanya Dev ragu.
“Iya, itu benar. Namun ada satu orang yang bukan tentara saat itu yang ikut menyiksa kamu.”
“Siapa?” tanya Dev.
“Stuart.”
Dev terperangah. Stuart? Anak tertua Hendra?
“Dia memiliki temperamen yang buruk. Dia itu psikopat. Jika ada kesempatan untuk bisa menyakiti seseorang, maka ia tidak akan melewatkannya.” Ucap Leo. “Kamu tau Vanessa? Istri Stuart? Ia kini menjalani terapi di psikiater, karena trauma akibat ia sering mendapatkan kekerasan fisik dan mental dari Stuart. Gadis malang itu terpaksa menikahi Stuart karena bisnis. Lidya dan Stella, istri dari Hendra, mereka menghamburkan banyak uang perusahaan untuk foya-foya. Hendra mempunyai banyak bisnis ilegal, ia juga memanipulasi data keuangannya untuk kepentingan pribadi mereka, terutama untuk memenuhi gaya hidup istri dan anaknya yang hedon melebihi Nona Bella. Mereka adalah sampah dari semua sampah. Jika kamu menghabisi mereka maka kamu sudah mengurangi populitas orang-orang tidak berguna di dunia ini, Dev.”
Dev menautkan kedua tangannya, mencoba mensinkronkan perasaan dan rasa kemanusiaannya yang sedang berperang.
“Dan Kris,” Leo melanjutkan, “ia sangat berambisi dalam mendapatkan Nona Bella. Ia terobsesi padanya. Ia menahan diri selama 7 tahun ini dan mengumpulkan kekayaan untuk menjadi pemegang saham di Xander, ia sangat ingin menjadikan Nona Bella sebagai miliknya.”
Dev mulai merasakan amarah membakar tubuhnya.
Raut wajah Leo sedikit berubah, ia terlihat merasa bersalah.
“Kami menemukan ini beberapa waktu yang lalu. Saya benar-benar kecolongan.”
Leo memperlihatkan HPnya pada Dev. Dev menatap layar HP itu dan beranjak dari kursinya dengan penuh emosi.
“Ini…” otot rahang Dev menegang kemudian mengitari meja dan menarik kerah atasannya itu. “Lo ngapain aja selama ini!? Lo masih bilang Xander Security punya kualifikasi terbaik!? HAH?!"