Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 44: Pengawal Resmi Xander



“Nona Bella gak butuh pengawalan ketat kayak sebelumnya. Pak Hirawan juga udah setuju. Jadi mulai sekarang kalian gak perlu lagi menjaga beliau 24 jam penuh. Cukup pengamanan standar aja. Kalian juga harus selalu siap, karena bisa aja saya akan menempatkan kalian dimanapun dan kapanpun. Kalian boleh pergi.” pungkas Leo.


Beberapa saat Dev dan Tere masih terdiam di posisinya, mencerna apa yang dikatakan oleh Leo.


“Kalian tunggu apa lagi? Keluar dari kantor saya. Tunggu instruksi selanjutnya.” Ucap Leo.


“Apa ini permintaan Nona Bella sendiri, Pak?” tanya Dev.


“Betul. Nona Bella sendiri yang bilang ia gak perlu lagi didampingi kalian berdua. Sekarang pergi, saya masih banyak pekerjaan.” Ucap Leo sekali lagi meminta anak buahnya itu meninggalkan ruangannya.


Dev menutup pintu ruangan Leo setelah mereka keluar.


“YESSSS!! Akhirnya dateng juga hari terindah dalam hidup gue!!” ucap Tere dengan riang. Dia terlihat menari-nari merayakan terbebasnya ia dari tanggung jawab beratnya selama ini menjaga seorang Bella Ratu Xander.


Namun tidak dengan Dev, ia semakin gusar. Itu artinya kini waktunya bersama Bellapun berkurang. Semarah itukah Bella terhadapnya? Apa karena kejadian kemarin kini Bella menghentikan dirinya dan Tere dari posisi pengawal pribadinya?


Pada jam makan siang Dev terlihat mondar-mandir di lobi gedung dan perhatiannya terus tertuju pada lift khusus CEO. Biasanya di jam makan siang seperti ini Bella akan keluar untuk makan siang di restoran langganannya di dekat kantor. Pencernaan Bella sangat sensitif jadi ia tidak bisa makan di sembarang tempat. Hanya restoran itu yang akan Bella datangi untuk makan. Dan setiap haripun restoran itu selalu menyediakan menu khusus untuk Bella.


Tiba-tiba saja Dev melihat seorang perempuan tua memasuki gedung. Dev yang mengenal siapa perempuan itu, menghampiri dan menyapanya.


“Bu Ranti? Ada apa ibu kesini?” tanya Dev ramah.


“Tuan Dev, selamat siang. Nona Bella meminta saya untuk mengantarkan makanan untuk makan siang.” Ucap Ranti.


“Saya udah pernah bilang bu Ranti gak usah panggil saya Tuan, Bu. Panggil Dev aja.” Ucap Dev merasa tidak biasa.


“Tuan Dev adalah calon suami Nona Bella, saya tidak bisa memanggil nama anda begitu saja.”


Dev tersenyum mendengarnya, merasa tersanjung.


“Siapa yang bilang bu?” tanya Dev.


“Nona Bella sering mengatakannya pada saya.”


“Bella bilang gitu sama ibu?” tanya Dev yang langsung diiyakan oleh Ranti. Seketika perasaan Dev membuncah bahagia. Di tengah perang dinginnya dengan Bella, kata-kata Ranti barusan membuat Dev kembali bersemangat untuk bisa berbaikan dengan Bella.


Kemudian ia bertanya,”Bu, saya pengen nanya, kalo Bella marah kira-kira apa ya yang bisa dilakuin supaya dia gak marah lagi?”


Ranti adalah pengasuh Bella sejak ia masih bayi. Tidak mungkin ia tidak mengetahuinya.


“Kalau Nona Bella sedang marah atau sedih, biasanya Nona mengajak Tere untuk karate untuk menyalurkan rasa marahnya." ucap Ranti.


Itu sudah dilakukan oleh Bella kemarin dan berakhir dengan asmanya yang kambuh. Tidak mungkin Dev mengajaknya berduel lagi.


"Selain itu apa lagi, Bu? Sesuatu yang Bella sukai mungkin dan bisa meredakan emosinya." tanya Dev kembali mengorek informasi.


"Dulu Nona Bella sangat menyukai bunga mawar. Di Rumah Besar ada banyak tanaman mawar. Sewaktu kedua orang tuanya masih ada, Nona Bella sendiri yang merawatnya bersama dengan mendiang Nyonya Indira. Sekarang Nona Bella tidak pernah lagi merawat mawar-mawar itu semenjak Nona tidak lagi tinggal di Rumah Besar."


“Tapi Bella masih suka bunga mawar, Bu?” tanya Dev.


Dev tidak menyangka Bella yang ia kenal sebagai seorang perempuan yang bar-bar, tak terduga, dan ceria, ternyata memiliki sisi yang lembut seperti itu.


“Tuan Dev, saya harus segera mengantarkan makanan ini pada Nona Bella. Jika tidak ada yang ditanyakan lagi saya mohon izin untuk pergi.” Pamitnya pada Dev.


“Oh, silahkan bu.” Dev mengantar Ranti menuju lift karyawan dan menekan tombol lantai 60, tempat ruangan Bella berada.


Ranti masuk ke dalam lift dan membungkuk hormat pada Dev, kemudian pintu liftpun tertutup.


“Kenapa lo ada disini?!” sebuah suara yang Dev kenal terdengar menghampirinya.


Dev menoleh dan melihat Kris ada disana, menatapnya dengan marah. Dev merogoh sakunya, kemudian mencari sesuatu di HPnya, kemudian memperlihatkan layar HPnya pada Kris.


“Lo dapet rekomendasi khusus dari Pak Hirawan?!” Kris terkejut tidak percaya melihat surat keputusan milik Dev yang secara khusus ditandatangi oleh Hirawan.


“Iya. Dengan SK ini gue udah secara resmi jadi anggota alpha team di squad Xander Security. Gue udah nurutin permintaan lo buat pergi dari Jakarta. Gue ninggalin tempat kost gue dan gue pindah ke Bandung. Tapi beberapa hari kemudian Leo ngehubungin gue lagi dan ngerekrut gue secara khusus buat gabung di squad. Jadi secara teknis gue gak ngelanggar perjanjian waktu itu.” Ucap Dev dengan nada penuh kemenangan.


“Kenapa Pak Hirawan bisa ngasih lo rekomendasi?” tanya Kris dengan nada curiga.


“Kenapa gak lo tanyain aja sama beliau langsung,” ucap Dev sambil berlalu, tidak ingin berlama-lama bersama Kris.


Tiba-tiba saja lift CEO terbuka, Bella bersama dengan Raka keluar dari sana dengan agak tergesa menuju ke pintu keluar.


“Bel,” panggil Kris. Bellapun menoleh ke arah Kris yang kini menghampiri Bella, “Mr. Nates udah dateng?”


Bella tidak menjawab dan terus berjalan menuju pintu utama. Beberapa orang yang Dev tau sebagai para petinggi perusahaan Xanderpun terlihat berdatangan dari lift dan menuju pintu utama. Para pengawal Xanderpun terlihat sudah bersiap di luar pintu utama.


[Leo: Alpha Eagle, Delta Fox, amankan jalan menuju lift CEO. Dampingi pertemuan VVIP hari ini di ruang rapat lantai 59]


Terdengar suara Leo di earpiece yang Dev gunakan. Tere yang datang entah dari mana sudah bersiap di depan Lift CEO, Dev segera bergabung dengannya.


Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat Bella di luar pintu utama gedung menunggu kehadiran seseorang. Kris ada disana juga bersama dengan para kepala departemen lain. Tidak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan Bella. Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi, berambut pirang, dan memakai jas, keluar dari mobil tersebut. Bella dan para petinggi Xander Corp segera menyambutnya. Mereka terlihat mengobrol beberapa saat, lalu mulai memasuki lobi.


Seorang pria paruh baya terlihat berlari dari arah lift dan dengan terburu berjalan menuju pintu utama. Pria itu terlihat berlari kecil sambil memasang dasinya. Sontak Dev mengepalkan tangannya dengan kuat melihat pria itu. Pria itu adalah Hendra. Tatapan Dev sudah setajam tatapan elang yang siap menyambar mangsanya.


“Dev, fokus!” bisik Tere. Bella dan pria asing itu, beserta Kris dan para kepala departemen Xander Corp sudah berada sekitar 10 meter dari tempat Dev dan Tere berdiri. Dev segera tersadar dan fokus kembali bertugas.


Tere memindai lift dengan kartu yang disimpan di sakunya, kemudian Bella dan pria asing itu beserta asistennya, juga beberapa kepala departemen masuk ke dalam lift. Terakhir Dev dan Tere masuk juga ke dalam lift.


Mata Bella dan Dev bertemu saat Dev memasuki lift, Bella segera mengalihkan pandangannya. Dev berdiri di sebelah kanan Bella yang berdiri paling dekat dengan pintu lift. Beberapa saat pintu lift hampir tertutup, namun Hendra menahan pintu itu dan menerobos ke dalam lift.


“Maaf saya sedikit terlambat, ada sedikit pekerjaan tadi,” ucap Hendra pada Bella dan juga pria asing itu.


Bella mengerlingkan matanya, merasa tidak aneh dengan sikap Hendra yang tidak disiplin dan ceroboh. Kemudian tidak sengaja mata Hendra menangkap sosok Dev.


“Kamu?!” ucap Hendra agak berteriak.